tirto.id - Tren Performative Male viral di medsos belakangan ini. Meski posting terkait hal itu banyak yang trending, namun ada juga yang tidak tahu apa sebenarnya performative male itu dan mengapa menjadi viral.
Sabtu, 2 Agustus kemarin, di Taman Langsat, Jakarta Selatan ada kompetisi Performative Male yang dipelopori oleh akun X, @alergikiwi.
Dalam kompetisi itu, beberapa pria yang menjadi pesertanya adu kebolehan untuk dapat menjadi pemenang dan dinobatkan sebagai Most Performative Male. Keenan Avalokita, anak Dewi Lestari yang lantas menjadi pemenang.
Apa Itu Tren Performative Male?
Performative male dapat diartikan sebagai perilaku laki-laki yang menampilkan atau memamerkan sikap maskulin tertentu dengan tujuan untuk menarik perhatian lawan jenis.
Menurut laman Elle, performative male kebanyakan hanya berpura-pura menampilkan sesuatu yang sengaja dibuat agar mendapat perhatian orang, khususnya perempuan. Mereka akan berperilaku manis dan intelektual namun di dalam dirinya masih ada sisi kontrol, validasi, dan status.
Apa ciri-ciri performative male? Biasanya performative male akan bergaya pakaian klasik dengan pemilihan baju-baju bertema vintage, celana lebar yang menambah kesan klasik.
Daripada backpack, performative male lebih memilih untuk memakai totebag, terutama yang berwarna putih. Penampilan mereka semakin sempurna dengan buku bertema feminisme dan juga headset tali yang menjuntai dari telinganya. Lagu-lagu pilihan performative male seperti Clairo atau Laufey.
Namun itu bukan ciri yang terakhir. Performative male lebih menyukai minum matcha daripada kopi. Ia juga biasanya menggunakan gantungan kunci lucu seperti gantungan labubu di tote bag atau saku celananya. Sangat klasik bukan?
Performative male sengaja memamerkan kepribadian yang biasanya bukan merupakan sifat asli mereka hanya untuk menarik perhatian perempuan. Mereka ingin perempuan tahu jika mereka adalah sosok intelektual yang mempunyai hati lembut.
Kenapa Performative Male Viral?
Banyak video yang diunggah netizen terutama Gen Z di media sosial yang memperlihatkan perubahan bentuk maskulinitas laki-laki di era sekarang.
Jika dulu, perempuan lebih menyukai laki-laki yang dingin, keras, dan terkesan dominan, saat ini maskulin yang disukai perempuan adalah lelaki yang hangat dan punya kepekaan terhadap isu-isu feminisme.
Video-video tentang pria bergaya performative male ini semakin banyak bahkan di beberapa negara, termasuk Indonesia sudah ada kontes Siapa Paling Performative Male. Ini menunjukkan terjadi pergeseran selera penampilan Gen Z dengan generasi-generasi sebelumnya.
Yang menjadi kekhawatiran publik adalah akan adanya krisis identitas. Saat standar laki-laki idaman perempuan saat ini adalah performative male, maka akan banyak laki-laki yang mengubah penampilan mereka agar sesuai dengan standar tersebut.
Akibatnya, perempuan akan kesulitan mengetahui sifat asli dari pasangannya. Bisa jadi ketika mereka sudah memutuskan berkomitmen, sifat-sifat asli tersebut akan muncul dan memicu pertengkaran.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































