tirto.id - Pemerintah Indonesia tengah mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Langkah ini dilakukan karena konsumsi LPG nasional terus meningkat, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Sebenarnya lebih hemat mana antara CNG dan LPG?
Merujuk keterangan tertulis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saat ini konsumsi gas LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Namun, kapasitas produksi domestik hanya di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton. Kekurangan pasokan tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada impor LPG dari luar negeri.
Di sisi lain, pemerintah menilai CNG punya potensi besar sebagai solusi energi nasional karena bahan bakunya melimpah di dalam negeri. Selain mendukung ketahanan energi, penggunaan CNG juga dinilai lebih ramah lingkungan dan berpotensi menekan biaya operasional.
Perbedaan CNG dan LPG
Kendati sama-sama dipakai sebagai bahan bakar, CNG dan LPG memiliki sejumlah perbedaan mendasar, mulai dari komposisi, proses distribusi, hingga dampaknya terhadap lingkungan.
Merujuk penelitian bertajuk Analisis Pemanfaatan Gas Alam sebagai Pengganti Gas LPG dari Meilinda Suriani Harefa bersama kolega, CNG dan LPG memiliki perbedaan identitas fisik dan kimiawi.
LPG merupakan campuran gas hidrokarbon, terutama propana dan butana, yang dicairkan melalui pendinginan atau tekanan sedang agar mudah disimpan dalam tabung portabel.
Sementara itu, CNG adalah gas alam yang didominasi oleh metana yang dipadatkan menggunakan tekanan sangat tinggi, mencapai 250 hingga 400 bar, agar volume penyimpanannya jadi lebih efisien.
Perbedaan tekanan ekstrem ini membuat infrastruktur distribusi CNG jauh lebih kompleks dibanding tabung LPG konvensional yang kerap ditemui di dapur.
Dari sisi keamanan, CNG menawarkan risiko lebih rendah dalam konteks kebocoran di ruang terbuka. Methane (bahan utama CNG) memiliki massa jenis lebih ringan dari udara, sehingga jika terjadi kebocoran, gas akan langsung terbang ke atmosfer dan menyebar dengan cepat.
Sebaliknya, propana pada LPG memiliki massa jenis lebih berat dari udara. Karakteristik ini membuat gas LPG cenderung mengumpul di permukaan lantai saat terjadi kebocoran, sehingga meningkatkan risiko kebakaran jika terpapar percikan api.
Efisiensi pembakaran juga menjadi pembeda lain. Meski LPG memiliki nilai kalor total per kilogram sedikit lebih tinggi, CNG unggul dalam hal kebersihan emisi. Penggunaan CNG dalam bentuk gas alam terbukti mampu mengurangi emisi hingga 25 persen dibanding bahan bakar fosil lainnya.
Pembakarannya pun jauh lebih sempurna, menghasilkan sangat sedikit partikel polutan dan bebas kandungan sulfur, sehingga menjaga kualitas udara dapur maupun lingkungan sekitar tetap sehat.
Berikut perbedaan CNG dan LPG selengkapnya.
| Aspek | CNG | LPG |
|---|---|---|
| Sumber | metana dan etana | propana dan butana |
| Bentuk | Gas bertekanan tinggi | Cair bertekanan rendah |
| Tekanan | 250-400 bar | Lebih rendah |
| Dampak | Emisi lebih rendah dan lebih bersih | Emisi lebih tinggi dibanding CNG |
| Nilai Kalor | Sedikit lebih rendah | Lebih tinggi |
| Distribusi | Jaringan pipa atau stasiun isi ulang | Distribusi pakai tabung |
| Keamanan | Gas cepat menguap ke udara | Gas mudah mengendap |
| Biaya | Lebih hemat dalam jangka panjang | Cenderung lebih mahal karena impor |
| Ketersediaan di Indonesia | Melimpah dari sumber domestik | Masih bergantung impor |
Lebih Hemat CNG atau LPG?
Dari sisi ekonomi, penggunaan CNG dinilai lebih stabil dan berpotensi lebih hemat dibanding LPG. Salah satu penyebabnya yakni harga gas alam domestik tidak terlalu terpengaruh fluktuasi pasar internasional.
Merujuk penelitian yang sama, pada pengguna rumah tangga, peralihan dari LPG ke gas alam diperkirakan mampu menghemat biaya operasional sekitar 20 hingga 30 persen.
Adapun simulasi perhitungan dari Citigas Sinergi untuk penggunaan skala industri dan komersial menunjukkan adanya potensi penghematan signifikan. Berikut simulasi perbandingan biaya antara LPG dan CNG.
| Simulasi Cost Saving Pemakaian LPG dan CNG | ||
|---|---|---|
| ASUMSI | ||
| Nilai Kalor CNG | 9.500 | kcal/Sm3 |
| Nilai Kalor LPG | 10.500 | kcal/kg |
| LPG vs CNG | ||
| Jumlah pemakaian LPG per bulan | 5000 | Kg |
| Harga LPG per kg | 13.000 | Rupiah |
| Total biaya pemakaian LPG per bulan | 65,000,000 | Rupiah |
| Jumlah pemakaian CNG (setara) per bulan | 5.526 | Sm3 |
| Harga CNG per Sm3 | 10.500 | Rupiah |
| Total biaya pemakaian CNG per bulan | 58.026.316 | Rupiah |
| Selisih biaya pemakaian LPG vs CNG | 6.973.684 | Rupiah |
| Persentase penghematan | 10.73persen | - |
| Saving cost dalam setahun (12 bulan) | 83.684.211 | Rupiah |
Untuk memahami tabel di atas, LPG dihitung dalam satuan berat (Kilogram/kg), sementara CNG karena bentuknya tetap gas, dihitung dalam satuan volume standar (Standard Cubic Meter/Sm3).
Meski nilai energi (kalori) LPG sedikit lebih tinggi per satuannya, harga per unit CNG yang jauh lebih murah menutupi perbedaan tersebut dengan margin besar.
Dari simulasi tersebut, penggunaan CNG di industri komersial menghasilkan penghematan sekitar Rp6.973.684 per bulan atau sekitar 10,73 persen dibanding LPG. Jika dihitung dalam setahun, total penghematan biaya operasional bisa mencapai Rp83.684.211.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id



































