Menuju konten utama

Bahlil Sebut Harga CNG Bakal Disamakan dengan LPG 3 Kg

Kementerian ESDM masih mengkaji rencana menjadikan CNG sebagai alternatif LPG 3 kilogram.

Bahlil Sebut Harga CNG Bakal Disamakan dengan LPG 3 Kg
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan saat konferensi pers terkait penemuan cadangan gas raksasa di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Menteri ESDM menyampaikan temuan tersebut berasal dari hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur dengan potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik serta 300 juta barel kondensat yang dioperasikan perusahaan energi asal Italia ENI. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan harga compressed natural gas (CNG) bakal memiliki harga yang sama dengan gas liquefied petroleum gas (LPG) tiga kilogram alias gas melon. CNG rencananya bakal menjadi alternatif gas melon.

"Doakan seperti itu ya, minimal sama [antara harga CNG dengan gas melon]," kata Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Menurut Bahlil, Kementerian ESDM masih mengkaji rencana menjadikan CNG sebagai alternatif gas melon. Kini, pemerintah juga sedang mengujicobakan tabung CNG berukuran 3 kilogram.

Ketua Umum Partai Golkar itu, mengatakan tabung CNG berukuran 12 kilogram dan 20 kilogram telah digunakan sektor perhotelan maupun restoran. Penggunaan tabung CNG untuk industri hotel dan restoran diklaim lebih efisien daripada tabung LPG.

"Tapi rakyat, kan, enggak mungkin kami suruh yang berat-berat itu, [beli tabung CNG berukuran] 20 kilogram. Nah, ini yang kami lagi godok, ini sudah kami kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Untuk mendapatkan teknologi yang [tabung] 3 kilogramnya, ini lagi kami tes," urai Bahlil.

Ia menyampaikan pemerintah mengimpor LPG hingga 8,6 juta ton per tahun. Dengan impor itu, devisa Indonesia disebut hanya untuk membeli LPG hingga Rp120 triliun-Rp160 triliun.

Di satu sisi, pemerintah juga masih harus menggelontorkan subsidi LPG hingga Rp80 triliun-Rp500 triliun per tahun. Karena itu, pemerintah berupaya mencari alternatif LPG, yakni dengan menggunakan CNG.

"Nah, tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi adalah kami mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG," tuturnya.

Bahlil berkata apabila seluruh uji aspek keselamatan telah tuntas, distribusi gas tersebut dapat dilakukan secara masif di seluruh wilayah Indonesia. Terlebih lagi, saat ini kondisi stok gas nasional sedang mengalami surplus.

"Kalau sudah diuji selesai, aspek keselamatannya, itu mau berapa pun di Indonesia ada. Karena, kan, gas kita, kan, oversupply," imbuh Bahlil.

Baca juga artikel terkait GAS LPG atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama