tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel telah lebih dari sebulan berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu. Situasi terkini pada Rabu (1/4/2026), Iran baru saja mengalami serangan meluas yang menghancurkan sejumlah fasilitas, termasuk salah satu pabrik farmasi terbesar mereka.
Serangan AS-Israel ke pabrik farmasi itu dilaporkan terjadi pada Selasa (31/3/2026). Pabrik tersebut terletak di Teheran dan kini fasilitas serta jalur produk milik perusahaan tersebut mengalami kerusakan parah.
Melansir Al Jazeera, fasilitas yang diserang AS-Israel itu merupakan pabrik yang berfokus pada produksi obat anestesi dan kanker. Perusahaan diidentifikasi sebagai Tofigh Daru Research and Engineering Company. Tofih Daru merupakan perusahaan milik Perusahaan Investasi Jaminan Sosial yang dimiliki oleh negara.
Eks menteri luar negeri Iran dan pendiri Payab Research Institute, Javad Zarif, membuat pernyataan di media sosial bahwa pabrik tersebut telah menjadi sasaran "agresor yang putus asa" dan "gagal menyadari delusi jahat mereka". Olehnya, serangan pada pabrik farmasi ini merupakan serangan yang disengaja untuk merusak fasilitas produksi medis Iran.
Pabrik farmasi di Teheran ini bukan satu-satunya sasaran serangan AS-Israel pada Selasa. Gelombang serangan juga menyasar sejumlah tempat lain, termasuk situs keagamaan Syiah di Kota Zanjan.
Tim Bulan Sabit Merah Iran menyatakan, pihaknya melakukan operasi penyelamatan dua orang yang terkubur di bawah reruntuhan aula Husseiniya Azam di Zanjan. Tempat ini adalah aula jemaah Syiah yang berada di samping masjid. Aula tersebut mengalami kerusakan akibat serangan udara.
Di tempat lain, satu orang terbunuh dan 8 lainnya terluka di Provinsi Kermanshah, Iran bagian barat. Kantor berita Mehr milik Iran melaporkan bahwa jatuhnya korban jiwa terjadi dalam serangan AS-Israel yang menargetkan fasilitas perusahaan kontraktor sipil di Kota Qasr-e Shirin di perbatasan dengan Irak.
Gelombang serangan udara juga menyasar Kota Isfahan, pusat industri pertahanan dan fasilitas nuklir Iran. Isfahan juga jadi lokasi sejumlah pangkalan militer besar, termasuk Pangkalan Udara Badr, Shekari ke-8, dan Pangkalan Angkatan Udara ke-4.
Seturut NDTV, serangan udara AS-Israel di Isfahan turut melibatkan penggunaan bom penghancur bunker dengan hulu ledak seberat 907 kg. Presiden AS Donald Trump sempat mengunggah video serangan di Isfahan, namun tidak memberikan konteks apa pun dalam unggahannya.
Pelabuhan Bandar Abbas Ikut Diserang
Pelabuhan Bandar Abbas yang terletak di kota pesisir Iran bagian selatan juga jadi sasaran serangan AS-Israel. Bandar Abbas merupakan salah satu gerbang maritim utama Iran di Selat Hormuz di Provinsi Hormozgan.
Menukil Anadolu, serangan pada Bandar Abbas memaksa Iran untuk mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan, serta tim pemadam kebakaran. Namun, belum ada keterangan resmi tentang kemungkinan korban terbunuh dan tingkat kerusakan pelabuhan tersebut.
"Pasukan AS dan Israel menargetkan Pelabuhan Shahid Haghani di Bandar Abbas, yang digunakan untuk keperluan penumpang dan komersial," tutur Wakil Gubernur Hormozgan Ahmad Nafisi kepada kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Di tengah gempuran yang terus berlangsung tersebut, warga Iran dilaporkan melakukan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan dukungan mereka kepada negara dan kemarahan atas serangan AS-Israel yang terus terjadi.
Laporan jurnalis Al Jazeera menyebut bahwa warga Iran mulai menyuarakan ketidakpercayaan mereka kepada proses negosiasi dengan AS menuju penghentian perang. Hal ini, katanya, disebabkan oleh gagalnya proses dialog Iran-AS dalam 10 bulan terakhir dan selalu berakhir dengan serangan dari pihak Washington.
Sejauh ini, setidaknya 1.937 orang terbunuh di Iran sejak serangan AS-Israel di Teheran memecah peperangan pada 28 Februari lalu. Di antara para korban adalah ratusan siswi sekolah dasar khusus perempuan yang terbunuh akibat rudal yang mengenai sekolah mereka.
Sementara itu, setidaknya 20 orang dilaporkan terbunuh di Israel. Sementara itu, AS mengonfirmasi sedikitnya 13 personel militer mereka terbunuh sejak perang dimulai.
Jalannya peperangan yang telah melewati durasi satu bulan ini juga mendorong kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak mentah dunia. Hal ini imbas tekanan yang terus dilakukan Iran di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi seperlima pasokan minyak dunia.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































