tirto.id - Pasar gedung perkantoran di Jakarta diperkirakan akan mengalami stagnasi pasokan hingga tiga tahun ke depan. Kondisi ini dipicu oleh keengganan pengembang meluncurkan proyek baru karena tingginya kesenjangan antara jumlah suplai yang ada dengan tingkat permintaan yang belum pulih sepenuhnya.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menegaskan bahwa hingga tahun 2028 tidak akan ada pasokan gedung perkantoran baru yang masuk ke pasar, khususnya di kawasan Central Business District (CBD).
"Hasilnya adalah sampai tahun 2028 kita nggak lihat pasok baru terutama di kawasan CBD," katanya dalam webinar Rabu (1/10/2025).
Menurut Ferry, para pengembang masih menunggu perbaikan tingkat permintaan yang lebih signifikan sebelum memutuskan untuk membangun gedung-gedung baru.
Dalam paparanya terlihat bahwa total pasokan ruang kantor di Jakarta hingga kuartal III-2025 sebanyak 11,4 juta meter persegi. Di mana, 2 juta meter persegi di antaranya masih kosong.
Sedangkan, pertumbuhan pasokan baru sepanjang 2025 hanya 125.000 meter persegi, yang semuanya di luar CBD.
"Pada umumnya pengembang ini masih menunggu sampai ada perbaikan dari tingkat permintaan. Sebenarnya secara umum tingkat permintaan itu sudah mulai kelihatan, tapi memang untuk melihat kondisi jumlah permintaan dengan jumlah suplai yang ada itu gap-nya masih sangat jauh," jelasnya.
Di tengah stagnasi pasokan, pasar mencatat perubahan pola permintaan yang signifikan. Perusahaan multinasional kini lebih aktif mencari gedung perkantoran yang memiliki sertifikasi green building.
Sektor-sektor yang aktif mencari ruang kantor didominasi oleh teknologi, pertambangan, energi, dan layanan finansial. Aktivitas transaksi masih didominasi oleh kegiatan relokasi dan ekspansi perusahaan yang sudah beroperasi.
"Multinational company sekarang lebih aktif lagi untuk cari gedung kantor yang punya sertifikasi green building. Karena ini menjadi satu compliance dari company mereka, terutama dari global company mereka untuk berkantor di gedung yang memiliki sertifikasi green building," papar Ferry.
Kondisi pasar juga ditandai dengan menyempitnya selisih antara harga yang ditawarkan dengan harga yang ditransaksikan. Ferry mengungkapkan bahwa selisih harga tersebut semakin mengecil seiring membaiknya tingkat okupasi di beberapa gedung premium.
Hal ini berbeda dengan kondisi selama pandemi Covid-19 dan beberapa tahun setelahnya, di mana perbedaan antara harga penawaran dan harga transaksi masih cukup besar.
“Terutama kalau misalnya ada tenant-tenant yang mereka butuh space yang cukup besar, kemudian mereka masuk ke gedung yang okupansinya masih rendah, dan kebetulan tenant yang mau masuk itu adalah perusahaan-perusahaan yang punya nama,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































