tirto.id - Indonesia masih jauh tertinggal dalam upaya pendeteksian penyakit hati dalam hal ini hepatitis dan kanker hati.
Di tengah target World Health Organization (WHO) yang menyebutkan bahwa 90 persen kasus hepatitis dapat ditemukan melalui hasil skrining, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebutkan capaian Indonesia masih jauh di bawah 90 persen. Hanya berkisar di antara 10 sampai 20 persen.
Budi mengatakan kesenjangan antara target WHO dengan realisasi yang terjadi di Indonesia jelas masih sangat lebar. Menurutnya, WHO tidak hanya menargetkan angka deteksi dini tetapi juga pengobatan bagi sebagian pasien yang telah teridentifikasi.
“Targetnya WHO, 90 persen hepatitis itu diskrining. Di Indonesia rata-rata mungkin 10 persen. Targetnya 90 persen, sekarang realisasi 20 persen. Jadi gapnya masih jauh," kata Budi dalam paparannya pada acara Dialog Kesehatan memperingati Hari Kesehatan Hati Sedunia, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/26).
Rendahnya angka deteksi dini dinilai menjadi salah satu penyebab masih banyaknya pasien yang baru mengetahui kondisi penyakit hati setelah memasuki tahap lanjut, seperti sirosis hingga kanker hati. Padahal, penyakit hati umumnya berkembang secara perlahan dan dapat dideteksi lebih dini.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pemerintah memasukan pemeriksaan hati ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui program ini, masyarakat diharapkan dapat menjalani pemeriksaan faktor risiko dan fungsi hati sejak dini.
Budi menambahkan layanan tersebut pun direncanakan turut diperluas ke Fasilitas Kesehatan tingkat 1 atau puskesmas.
"Dengan case finding, kita bisa menangkap pasien yang mempunyai risiko atau sudah mengidap penyakit, tetapi masih dalam tahap ringan. Selanjutnya, mereka dapat ditangani melalui sistem rujukan yang ada, mulai dari faskes tingkat pertama hingga faskes lanjutan," tutur Budi menjelaskan.
Di sisi lain, ketertinggalan target pendekteksian ini pun dikendalai dengan tingginya harga obat hepatitis di Indonesia. Budi menuturkan, bahwa dirinya menemukan selisih harga yang cukup besar yakni hingga 6 kali lipat antara harga jual obat di Indonesia dengan harga jual internasional.
"Saya masih lihat ini anomali di Indonesia. Harga obat di Indonesia itu masih catatan saya 2-6 kali (lipat) harga obat di dunia,” ujarnya.
Ia kemudian memaparkan sejumlah perbandingan harga obat hepatitis yang menurutnya jauh lebih mahal dibanding harga global.
“TDF (Tenofovir Disoproxil Fumarate) itu harganya Indonesia 4,8 dolar global fund harganya 2,4 DOLAR. SOF (Sofosbuvir) kita 1.100 dolar, di dunia 174 dolar. Ini juga 6 kali lipat,” papar Budi.
Selain itu, ditemui juga keterbatasan layanan transplantasi hati yang masih sangat terbatas.
"Saya juga baru tahu bahwa yang bisa transplantasi hati itu baru dua kota, empat rumah sakit. Jadi Jakarta dan Jogja," kata Budi.
==============
Khaila Adinda berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Penulis: Intern tirto
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































