tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai upaya untuk menekan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) imbas gejolak geopolitik global tidak akan sulit untuk dilakukan. Sebab, sampai saat ini koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) cukup kompak.
"Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus, uang di sistem cukup, dan BI mungkin monitor keadaan nilai tukar seperti apa. Jadi, kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Dan kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia," katanya, kepada awak media di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).
Selain itu, upaya stabilisasi mata uang Garuda juga akan lebih mudah dilakukan jika fondasi ekonomi Indonesia benar-benar kuat.
"Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan," tutur Purbaya.
Sementara itu, pada sore hari ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.863. Rupiah turun sebesar 86 poin atau 0,51 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.949.
Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS karena tertekan lonjakan harga minyak dunia. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Senin (9/3/2026) dibuka di posisi Rp17.017 per dolar AS, melemah 0,54 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya.
Sebelumnya, Purbaya menegaskan hingga saat ini Indonesia masih jauh dari krisis ekonomi. Bahkan, menurutnya dengan data-data ekonomi seperti produk domestik bruto (PDB) masih baik menunjukkan bahwa Indonesia tidak akan mengalami resesi.
"Kalau saya datang (ke Pasar Tanah Abang), tiba-tiba banyak orang ngumpul. Artinya, sekiranya kita kan banyak orang yang lagi belanja. Artinya, daya beli masyarakat sepertinya sedang baik dan kita tidak resesi, apalagi dari krisis. Kita jauh dari krisis," tegasnya kepada awak media usai mengunjungi Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).
Selain itu, dia menilai daya beli masyarakat semakin membaik. Hal ini terlihat dari padatnya pengunjung di Pasar Tanah Abang.
Kata Purbaya, kunjungannya ke Pasar Tanah Abang kali ini juga dimaksudkan untuk mengoreksi pernyataan sejumlah ekonom yang mengatakan bahwa Indonesia sudah berada di ambang krisis.
"Banyak ekonom-ekonom yang bilang kita udah resesi, daya beli udah hancur, pasar tadi udah hancur, enggak ada yang datang. Saya pengen cek karena kalau data-data kami ekonomi lagi bagus. Harusnya kan di Tanah Abang segala macem, ada pembelinya. Saya mau cek itu aja, betul atau enggak? Ternyata betul. Daya beli masih ada, orang masih belanja, pasar juga masih ramai," jelasnya.
Alih-alih resesi dan jatuh ke dalam krisis, ekonomi Indonesia justru sedang mengalami ekspansi. Padahal, pernyataan terkait potensi krisis inilah yang kemudian membuat nilai tukar rupiah terjembab ke level Rp17.000-an pada perdagangan hari ini.
"Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi," ucap Purbaya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































