Menuju konten utama

Pembelian SBN Banyak Dikritik, BI: Ini Triple Intervention

Pembelian SBN oleh BI yang sampai 20 Mei telah mencapai Rp90 triliun di pasar primer dan sekunder.

Pembelian SBN Banyak Dikritik, BI: Ini Triple Intervention
Warga mencari informasi mengenai Surat Berharga Negara (SBN) jenis Sukuk Tabungan Seri ST010 di Jakarta, Kamis (18/3/2023). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

tirto.id - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan pembelian Surat Berhara Negara (SBN) di pasar sekunder alias domestik merupakan salah satu intervensi Bank Sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan termasuk dalam kebijakan triple intervention. Hal ini merespon adanya pihak mengkritik kebijakan BI yang dinilai terlalu banyak melakukan pembelian SBN.

“Bank Indonesia itu punya namanya triple intervention. Jadi bagaimana kita intervensi di pasar spot, intervensi di pasar NDF (Non-Deliverable Forward) dan di DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) dan bagaimana intervensi ataupun melakukan pembelian SBN di pasar sekunder,” jelasnya kepada awak media, di Gedung Bank Indonesia, Senin (26/5/2025).

Selain menjaga stabilitas rupiah, pembelian SBN oleh BI yang sampai 20 Mei telah mencapai Rp90 triliun –di pasar primer dan sekunder, juga dinilai telah mampu memberikan tambahan suntikan likuiditas kepada perbankan. Dengan tercukupinya likuiditas, BI berharap kinerja penyaluran kredit oleh perbankan bisa lebih ditingkatkan.

Perlu diketahui, pada April 2025, penyaluran kredit perbankan tercatat hanya tumbuh sebesar 8,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 9,16 persen.

Berdasar kegunaannya, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi, masing-masing tumbuh sebesar 4,62 persen (yoy), 15,86 persen (yoy), dan 8,97 persen (yoy). Pembiayaan syariah tumbuh sebesar 8,85 persen (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 2,60 persen (yoy).

“Dan (pembelian SBN) ini tentunya membantu kondisi likuiditas perbankan untuk tentunya bagaimana mereka mengelola likuiditas. Dan kita berharap supaya likuiditas itu bisa maksimal untuk disalurkan ke kredit perbankan, kira-kira seperti itu,” lanjut Ramdan.

BI sendiri berencana memborong SBN di pasar sekunder lebih dari Rp150 triliun sebagai bagian dari operasi moneter 2025. Namun BI berkomitmen untuk membarengi keputusan ini dengan memperhitungkan dampaknya terhadap perekonomian dan likuiditas perbankan.

Selain itu, pembelian SBN di pasar sekunder juga dilakukan dengan melihat suku bunga perbankan yang sampai saat ini sudah berada dalam kisaran suku bunga acuan Bank Indonesia.

“Kemudian kita juga melihat bagaimana pasar uang juga, pergerakan suku bunga juga stabil. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya perbankan mampu mengelola likuiditas dengan baik dan gejolak hampir tidak ada di pasar uang domestik kira-kira demikian,” tukas Ramdan.

Baca juga artikel terkait SBN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra