Menuju konten utama
Mozaik

Pasang Surut Hubungan Tiga Surya Mataram

Konflik keluarga berkepanjangan mewarnai suksesi dan perpecahan di kalangan Kerajaan Mataram Islam. Kehadiran Kompeni membuatnya kian keruh.

Pasang Surut Hubungan Tiga Surya Mataram
Header Mozaik Raja Mataram. tirto.id/Tino

tirto.id - Sunan Pakubuwana II baru saja menyelesaikan keraton barunya di Sala pada 1744. Istana baru itu didirikan sebagai pengganti Keraton Kartasura yang hilang kesakralannya akibat Geger Pacinan yang meledak beberapa tahun sebelumnya.

Dari keraton yang kelak dikenal sebagai Surakarta, tidak lama berselang Pakubuwana II menyelenggarakan sayembara untuk menangkap Raden Mas Said, kemenakannya.

Kebijakan itu dibuat karena Raden Mas Said dianggap turut mbalelo (memberontak) bersama komplotan Sunan Kuning dan Kapiten Sepanjang saat penggempuran Keraton Kartasura.

Tak disangka, sayembara perburuan Raden Mas Said disanggupi oleh Pangeran Mangkubumi, adik Pakubuwana II alias paman Raden Mas Said yang lain.

Pangeran Mangkubumi saat itu dijanjikan akan mendapatkan sebidang tanah dan sejumlah rakyat (cacah) apabila dapat mengusir komplotan Pangeran Said di Sukowati.

Singkat cerita, Pangeran Mangkubumi berhasil mengusir Raden Mas Said dari daerah Sukowati lalu meminta haknya pada Pakubuwana II. Namun, Pakubuwana II melanggar janjinya dengan berbagai alasan.

Salah satu alasannya adalah persoalan utang Kerajaan Mataram terhadap VOC yang amat besar akibat Pemberontakan Geger Pacinan di zaman Keraton Kartasura.

Selain itu, Pakubuwana II juga mendapat hasutan dari Patih Pringgalaya yang meminta agar sang sunan membatalkan janjinya. Pangeran Mangkubumi murka. Ia kemudian bergabung dengan Raden Mas Said dalam pemberontakan yang dimulai pada tahun 1749.

Pecah Kongsi

Duo pemimpin pemberontakan Perang Suksesi Jawa III ini dikenal sangat ganas sekaligus licin. Hal ini setidaknya diungkap dalam teks Keraton Surakarta, Babad Giyanti, yang ditulis oleh pujangga Yasadipura I dan ditransliterasi oleh Bambang Khusen Al Marie (2018).

Dalam Babad Giyanti pula disebutkan bahwa Raden Mas Said beserta Pangeran Mangkubumi sangat disukai oleh rakyat. Perjuangan mereka dianggap sebagai perjuangan rakyat, sehingga terkadang ketika salah satu di antaranya terjepit, maka rakyatlah yang melindungi mereka.

Sementara itu, Pakubuwana II yang sakit-sakitan karena harus menghadapi adik dan keponakannya, wafat dan digantikan oleh Pakubuwana III, anaknya.

Pakubuwana III yang dinaikan ke takhta oleh VOC, sangat tidak disukai oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Atas dukungan Raden Mas Said, Pangeran Mangkubumi kemudian diangkat menjadi susuhunan (raja) tandingan di Kabanaran dan mendapat julukan Susuhunan/ Sunan Kabanaran.

Setelah mendapat gelar Sunan Kabanaran dan menggempur Surakarta, hubungan Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas berubah. Di beberapa kesempatan, ia menunjukkan superioritasnya terhadap Raden Mas Said.

Tidak lama dari peristiwa itu, Pangeran Mangkubumi kian memperkeruh keadaan. Sebagaimana disebut oleh M.C. Ricklefs dalam Yogyakarta di bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792 (2002), pada 1755 ia malah menyetujui Perjanjian Giyanti yang menjadikannya raja atas separuh Jawa.

Sejak saat itu Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Keraton Yogyakarta dan bergelar Hamengku Buwana I. Hal ini menyulut api dendam di hati Raden Mas Said.

Belum reda sakit hatinya karena merasa dikhianati, kebencian Raden Mas Said makin menjadi-jadi ketika Hamengku Buwana I meminta Raden Mas Said untuk mengembalikan putrinya--Raden Ayu Inten, yang sebelumnya telah dinikahi Raden Mas Said sebagai bentuk ikatan keluarga dengan Hamengku Buwana I selaku paman sekaligus mertuanya.

Pada 1757, Raden Mas Said akhirnya menggempur besar-besaran Keraton Yogyakarta yang belum lama selesai dibangun dan hampir meratakan istana itu.

VOC yang tahu bahwa Raden Mas Said hampir mustahil untuk diberantas di medan perang, kemudian mengajukan negosiasi. Maka pada 17 Maret 1757, Raden Mas Said mengakhiri pemberontakannya dengan menyetujui Perjanjian Salatiga.

Atas dasar perjanjian itu, ia berhak mendapatkan gelar Adipati Arya yang berkuasa atas suatu kadipaten. Dalam sejarah, Raden Mas Said lebih dikenal sebagai Mangkunegara I.

Dendam Tujuh Turunan

Setelah Mataram terbelah menjadi tiga poros, Yogyakarta dan Mangkunegaran rupanya tetap bertaut dalam panggung sejarah Jawa. Hubungan benci tapi cinta di antara keduanya mengalami dinamika yang tidak bisa dielakan.

Misalnya, tidak lama setelah Hamengku Buwana I dan Mangkunegara I naik takhta, duet maut mereka dalam panggung konflik Jawa kembali terjadi pada tahun 1790. Aliansi keduanya sebagaimana disebut dalam manuskrip Babad Pakepung, terjadi akibat kebijakan Pakubuwana IV yang menyulut kontroversi.

Sang sunan yang baru saja naik takhta secara sepihak menggelari anaknya dengan nama Mangkubumi, yang secara adat nama itu masih menjadi hak Hamengku Buwana I.

Sultan menuntut Pakubuwana IV untuk mengubah nama sang pangeran mahkota sebelum ia menganggap hal tersebut sebagai tanda genderang perang. Di sisi lain, Hamengku Buwana I masih bertekad untuk menaklukkan Surakarta dan menyatukan kembali Kerajaan Mataram.

Bagi Kompeni, konflik Surakarta dan Yogyakarta menjadi alasan bagi mereka untuk menurunkan Pakubuwana IV yang dikenal dekat dengan para agamawan--dianggap rawan menjadi sumbu pemberontakan baru.

Karena Pakubuwana IV bergeming dengan keputusannya, maka Yogyakarta bersama VOC bersama-sama menyerang Surakarta. Dalam perjalanannya, Mangkunegara I menyambut baik penyerangan itu dan memutuskan bergabung dengan mantan mertuanya.

Penyerangan tiga eksponen politik itu ke Surakarta kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Peristiwa Pakepung. Setelah peristiwa tersebut, pasang surut hubungan trah Hamengku Buwana dan Mangkunegara stagnan dalam suasana saling curiga dan bahkan membenci.

Infografik Mozaik Raja Mataram

Infografik Mozaik Raja Mataram. tirto.id/Tino

Dalam beberapa sumber historiografi tradisional Jawa, dikatakan bahwa pada mulanya kedua pemimpin trah itu sepakat untuk tidak mengadakan upaya penyatuan satu sama lain, terutama dengan media pernikahan.

Titik terang rekonsiliasi antara trah Hamengku Buwana dan Mangkunegara baru terjadi pada awal abad ke-20, ketika hubungan Mangkunegaran dan Surakarta masuk ke fase perang dingin.

Mangkunegara VII yang waktu itu berkuasa atas Mangkunegaran dianggap telah menyaingi pamor Pakubuwana X yang sedang berkuasa di Surakarta, karena berbagai pergerakannya di bidang politik pergerakan nasional dan upaya revivalisme kebudayaan Jawa via pendirian Djawa Institut.

Karena persaingan di antara dua monarki kota Solo itu, Mangkunegara VII merasa bahwa mendekati Keraton Yogyakarta merupakan potensi besar dalam meneguhkan kekuatan politiknya.

Puncaknya, seperti dibeberkan oleh U. Hermono pada Gusti Noeroel: Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan) (2014), Mangkunegara VII memutuskan untuk menikahi putri Sultan Hamengku Buwana VII yang bernama Bendara Raden Ayu Mursudariyah pada 6 September 1920.

Mursudariyah langsung diangkat menjadi permaisuri Mangkunegaran dan mendapat gelar Gusti Kanjeng Ratu Timoer.

Pernikahan penyatuan dua dinasti yang telah bertentangan selama tujuh generasi itu menjadi titik pangkal sejarah lahirnya asimilasi budaya dan kesenian Yogyakarta-Mangkunegaran. Salah satu yang masih bisa dijumpai sampai sekarang, baik di Keraton Yogyakarta maupun di Pura Mangkunegaran, adalah Tari Bedhaya Bedhah Madiun.

Di luar kerja sama kultural di antara dua eksponen politik ini, buah cinta Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer juga menjadi tokoh historis yang dominan dalam sejarah feodal Jawa, yakni Gusti Noeroel. Ia kembang Mangkunegaran yang sempat membuat Sukarno, Sutan Sjahrir, dan Hamengku Buwana IX terpincut.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan lainnya dari Muhamad Alnoza

tirto.id - Politik
Kontributor: Muhamad Alnoza
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi