tirto.id - Indonesia tengah menghadapi fenomena El Nino yang telah memasuki kategori kuat (strong), dengan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian timur (Nino 3.4) berada di atas +2 derajat Celsius. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan panjang serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
Ancaman karhutla pada 2026 memang menunjukkan peningkatan signifikan. Kementerian Kehutanan mencatat luas areal karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Angka tersebut meningkat 120 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019, 110 persen dibandingkan 2023, dan bahkan 366 persen dibandingkan 2025.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas areal terbakar terbesar pada periode tersebut, yakni mencapai 28.680,47 hektare. Kondisi di Kalimantan kembali menjadi perhatian ketika memasuki puncak musim kemarau.
Berdasarkan data pemantauan satelit NOAA-20 yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Kamis (20/8/2026) terdapat 1.478 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan. Sebanyak 767 titik berada di Kalimantan Tengah dan 560 titik di Kalimantan Barat. Sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara tiga titik.

Lonjakan titik panas juga terlihat secara nasional. Berdasarkan data SiPongi, hingga 18 Agustus 2026 tercatat 2.811 titik panas di Indonesia. Jumlah tersebut lebih dari lima kali lipat dibandingkan total titik panas sepanjang Agustus 2025 yang mencapai 502 titik.
Besarnya ancaman karhutla tahun ini mengingatkan pada situasi 2015. Menteri Kehutanan Raja Antoni menyebut kondisi El Nino 2026 memiliki kemiripan dengan fenomena serupa pada 2015, ketika kekeringan yang diperparah El Nino turut mendorong salah satu episode karhutla terburuk dalam sejarah Indonesia.
Pada 2015, karhutla menghanguskan lebih dari 2,6 juta hektare hutan dan lahan serta menghasilkan kabut asap yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat. Studi Field dkk. (2016) bahkan menunjukkan bahwa musim kebakaran 2015 merupakan salah satu episode kebakaran dan polusi asap paling parah yang terdeteksi satelit NASA sejak awal 2000-an.
Perbandingan dengan 2015 menjadi penting karena El Nino bukan hanya membuat vegetasi dan lahan lebih kering, tetapi juga dapat memperpanjang periode ketika bahan bakar kebakaran berada dalam kondisi mudah terbakar. Namun, kondisi iklim saja tidak cukup menjelaskan mengapa kebakaran dapat meluas dan berulang di wilayah tertentu.Pada ekosistem gambut, misalnya, tingkat kerentanan terhadap kebakaran sangat dipengaruhi kondisi hidrologis dan perubahan tutupan lahan. Gambut yang dikeringkan melalui pembangunan kanal kehilangan kemampuan alaminya untuk menyimpan air.
Ketika musim kemarau datang, gambut yang telah terdegradasi menjadi jauh lebih mudah terbakar. Api juga dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah sehingga kebakaran lebih sulit dipadamkan dan berpotensi muncul kembali.
Di tengah kondisi tersebut, El Nino kerap disebut sebagai salah satu faktor yang memperparah karhutla. Fenomena ini membuat kondisi lebih kering sehingga vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar serta kebakaran lebih sulit dipadamkan. Namun, El Nino bukan satu-satunya penjelasan atas meluasnya karhutla.

Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak bisa semata-mata dilihat sebagai dampak cuaca kering akibat El Nino. Menurut dia, banyak ekosistem gambut telah kehilangan fungsi hidrologis alaminya akibat pengeringan, perubahan tutupan lahan, dan pembangunan kanal.
Data Pantau Gambut pada Januari-Juli 2026 menunjukkan terdapat 45.428 titik panas di dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Sebanyak 25.364 titik berada di fungsi lindung ekosistem gambut, sedangkan 20.064 titik berada di fungsi budidaya ekosistem gambut.
Dalam konteks tersebut, Kalimantan menjadi salah satu wilayah penting untuk melihat hubungan antara kondisi gambut, perubahan tata guna lahan, dan karhutla. Pantau Gambut mencatat Kalimantan Barat memiliki 14.458 titik panas, Kalimantan Tengah 3.423 titik, Kalimantan Utara 210 titik, Kalimantan Selatan 193 titik, dan Kalimantan Timur 139 titik pada periode Januari-Juli 2026.

Bagi Putra, El Nino memang meningkatkan risiko kebakaran dengan membuat kondisi lebih kering. Namun, faktor yang menentukan apakah kekeringan tersebut berkembang menjadi kebakaran besar juga berkaitan dengan kondisi ekosistem yang telah mengalami degradasi.
Untuk membahas persoalan tersebut, Tirto melakukan wawancara khusus dengan Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, pada Selasa (11/8/2026). Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana kondisi gambut saat ini, dan apakah menjadi faktor utama karhutla, terutama di Kalimantan?
Kondisi gambut saat ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla bukan sekadar cuaca yang semakin kering. Banyak ekosistem gambut telah kehilangan fungsi hidrologis alaminya akibat pengeringan, perubahan tutupan lahan, dan pembangunan kanal.Dalam kondisi alami, gambut merupakan ekosistem basah yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Ketika dikeringkan, gambut kehilangan kemampuan tersebut dan berubah menjadi material organik yang mudah terbakar.
Data Pantau Gambut pada Januari-Juli 2026 menunjukkan terdapat 45.428 titik panas di dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Sebanyak 25.364 titik berada di fungsi lindung ekosistem gambut dan 20.064 titik berada di fungsi budidaya ekosistem gambut.

Kalimantan menjadi salah satu wilayah penting dalam konteks ini. Pantau Gambut mencatat sebaran titik panas di Kalimantan terdiri atas 14.458 titik di Kalimantan Barat, 3.423 titik di Kalimantan Tengah, 193 titik di Kalimantan Selatan, 210 titik di Kalimantan Utara, dan 139 titik di Kalimantan Timur.
Jadi, menurut kami, El Nino memang membuat kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa ketika kondisi kering datang, suatu ekosistem gambut begitu mudah terbakar?
Jawabannya ada pada kondisi gambut yang sebelumnya sudah dikeringkan dan terdegradasi. Bahkan, dalam studi kami yang berjudul Dari Konsesi ke Konsekuensi, kami menemukan praktik kanalisasi yang dilakukan perusahaan masih terus berlangsung. Kami menemukan jaringan kanal sepanjang 281.253,51 kilometer yang membentang di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Gambut seperti apa yang paling rentan terbakar ketika kondisi semakin kering?
Yang paling rentan bukan semata-mata gambut yang paling dalam, tetapi gambut yang fungsi hidrologisnya sudah rusak dan terdegradasi. Ada beberapa faktor yang saling berhubungan. Kanal drainase menurunkan muka air dan mengeluarkan air dari gambut. Perubahan tutupan lahan menghilangkan vegetasi alami yang membantu menjaga kelembapan. Pengeringan berkepanjangan membuat material organik gambut menjadi bahan bakar.Aktivitas perusahaan perkebunan skala besar, termasuk pembukaan lahan dengan api, serta konversi ekosistem secara masif juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. Kondisi cuaca kering seperti El Nino kemudian memperbesar peluang api menyala dan meluas.
Hal tersebut juga diperkuat oleh temuan kami mengenai sebaran titik panas. Terdapat 10.510 titik panas berada di konsesi dengan jenis izin Hak Guna Usaha (HGU), sedangkan 3.384 titik panas berada di area dengan jenis Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Seberapa kuat hubungan pengeringan gambut dengan karakter kebakaran pada 2026?
Hubungannya sangat kuat. Gambut yang dikeringkan bukan hanya lebih mudah terbakar, tetapi juga membuat kebakaran jauh lebih sulit dikendalikan. Saat gambut masih basah, air yang tersimpan di dalam pori-porinya berfungsi sebagai penghambat alami api sehingga gambut lebih sulit terbakar. Namun, ketika air dikeluarkan melalui kanal, material organik gambut mengering.Api kemudian tidak hanya bergerak di permukaan, tetapi dapat merambat ke bawah permukaan gambut. Karena itu, pemadaman di lahan gambut tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat. Api bisa tetap membara dan menjalar di bawah tanah, kemudian muncul kembali.
Kalau kondisi iklim sudah bisa diprediksi, apakah pemerintah sudah melakukan pencegahan atau masih fokus pada penanganan?
Menurut Pantau Gambut, pemerintah masih terlalu kuat menggunakan pendekatan respons daripada mitigasi dan restorasi. Sementara itu, pencegahan terhadap kondisi yang membuat api mudah muncul belum cukup kuat. Ketika ancaman El Nino muncul, respons pemerintah kembali banyak berorientasi pada posko karhutla, pemantauan titik panas, pemadaman, dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Padahal, kalau pola ancaman iklim sudah dapat diprediksi, seharusnya pemerintah menggunakan informasi tersebut untuk melakukan tindakan jauh sebelum api muncul. Misalnya, memastikan gambut tetap basah, memperbaiki kanal yang bermasalah, menghentikan pembukaan gambut yang berisiko, mengawasi konsesi, memperkuat penegakan hukum, dan memastikan restorasi benar-benar berjalan.

Persoalannya semakin serius karena riset terbaru Pantau Gambut menemukan 97 persen lahan gambut yang terbakar pada periode 2015-2019 tidak kembali menjadi hutan. Hanya sekitar 3 persen yang kembali menjadi hutan, sementara 41 persen berubah menjadi semak belukar dan 54 persen beralih menjadi perkebunan monokultur, terutama sawit.
Artinya, kita bukan hanya gagal mencegah kebakaran, tetapi juga belum menyelesaikan kondisi pascakebakaran yang membuat lanskap tetap rentan terbakar kembali.
Apakah El Nino yang merusak gambut atau memang ulah manusia?
Saya kira harus dibedakan antara faktor iklim dan faktor struktural. El Nino tidak secara langsung menciptakan gambut yang rusak. El Nino menyebabkan perubahan pola curah hujan dan kondisi yang lebih kering. Dalam studi kerentanan karhutla Pantau Gambut, El Nino-Southern Oscillation (ENSO), bahkan disebut sebagai salah satu faktor dominan yang memengaruhi variabilitas curah hujan dan kekeringan di Indonesia.Namun, kerusakan gambut yang membuatnya sangat mudah terbakar sebagian besar berkaitan dengan intervensi manusia atau aktivitas korporasi yang membutuhkan lahan dan pengeringan skala besar terhadap ekosistem tersebut, terutama melalui pengeringan, pembangunan kanal, pembukaan hutan, perubahan tutupan lahan, serta ekspansi perkebunan.
Karena itu, hubungan keduanya lebih tepat digambarkan seperti ini: El Nino memperkering kondisi iklim; gambut yang sudah dikeringkan menjadi semakin kering; bahan bakar semakin tersedia; ketika ada sumber api, kebakaran lebih mudah terjadi dan meluas.

Jadi, El Nino adalah penguat risiko, bukan kambing hitam, faktor utama, ataupun satu-satunya penyebab. Kalau gambut masih dalam kondisi baik dan fungsi hidrologisnya terjaga, dampak kekeringan tentu tetap ada, tetapi ekosistem memiliki kemampuan lebih besar untuk menahan kebakaran.
Sebaliknya, ketika gambut sudah dikeringkan dan tutupan lahannya berubah, sedikit tambahan kekeringan dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar.
Pantau Gambut sendiri menegaskan dalam analisis Papua Selatan 2026 bahwa El Nino bukan penyebab utama kebakaran, tetapi memperbesar dampaknya ketika ekosistem gambut telah kehilangan kemampuan alaminya dalam menyimpan air.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id


































