tirto.id - Pelawak tunggal Pandji Pragiwaksono dipolisikan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah pada Kamis (8/1/2026) karena candaannya dalam pertunjukkan spesial "Mens Rea". Materi apa yang dilaporkan?
Pelaporan Pandji Pragiwaksono tersebut dilakukan oleh Angkatan Muda NU dan Aliansi Muda Muhammadiyah. Kedua organisasi ini kompak melaporkan Pandji dengan dugaan pencemaran nama baik ke Polda Metro Jaya.
Pelapor atas nama Rizki Abdul Rahmad Wahid, dalam keterangannya pada Rabu (7/1/2026) menuturkan bahwa materi Pandji di pertunjukkan "Mens Rea" dinilai telah menghina, menimbulkan kegaduhan, serta berpotensi memecah belah masyarakat.
Laporan yang dilayangkan Rizki tersebut telah tertuang dalam surat laporan nomor STTLP/B/166/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, tertanggal tertanggal 8 Januari 2026 pukul 00.36 WIB.
"Mens Rea" sendiri merupakan tur pertunjukkan komedi tunggal yang dibuat Pandji pada 2025 lalu. Dalam pertunjukannya, Pandji banyak bercanda tentang politik Indonesia.
Puncak pertunjukan "Mens Rea" digelar di Indonesia Arena, Jakarta pada 30 Agustus 2025. Pertunjukan spesial komedi tunggal ke-10 Pandji itu kemudian tayang di Netflix pada 27 Desember 2025 lalu.
Materi Pandji di Mens Rea yang Dilaporkan ke Polisi oleh Anak Muda NU-Muhammadiyah
Dalam pertunjukkan "Mens Rea", Pandji Pragiwaksono memang sempat sedikit membahas tentang NU dan Muhammadiyah dalam materinya.
Kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu disebut Pandji dalam materi candaannya tentang "politik balas budi".
Dalam candaannya, Pandji menggunakan keputusan NU dan Muhammadiyah untuk menerima tawaran izin konsesi tambang dari pemerintahan Joko Widodo sebagai analogi politik balas budi.
"Ada yang ngerti politik balas budi? Gua kasih lu sesuatu, tapi lu kasih gua sesuatu lagi," kata Pandji dalam pertunjukannya.
Barulah Pandji menggunakan keputusan NU-Muhammadiyah mengurus tambang sebagai penjelasan tentang analogi tersebut.
"Emang lu pikir kenapa NU sama Muhammadiyah bisa ngurus tambang?" tanyanya ke penonton.
"Karena diminta suaranya, gua kasih sesuatu yang lu suka. Ormas agama ngurus tambang? Happy [senang] lah," kata Pandji kemudian.
Meskipun NU dan Muhammadiyah memang menerima izin konsesi tambang dan Prabowo Subianto pernah menggunakannya sebagai analogi ketika berkampanye di hadapan Perwakilan Kiai Kampung se-Indonesia pada November 2023 lalu, rupanya analogi yang dibuat Pandji dinilai menyinggung.
Menurut Rizki Abdul Rahmad selaku pelapor, ketersinggungan itu muncul karena materi Pandji seolah menyatakan bahwa NU dan Muhammadiyah terlibat politik praktis lewat keputusan menerima konsesi tambang.
Anggapan tersebut dinilai telah membuat keresahan, khususnya di kalangan anak muda Nahdliyin dan Aliansi Muda Muhammadiyah.
Selain dilaporkan ke polisi, pertunjukan Pandji Pragiwaksono juga diprotes kedua organisasi kepemudaan NU dan Muhammadiyah dalam unjuk rasa yang digelar di Kantor Kominfo dan Komisi Penyiaran Indonesia di Jakarta Pusat pada Rabu (7/1/2026).
Dalam unjuk rasa tersebut, massa aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Pemuda NU (AMNU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah (AMM) memprotes tayangan "Mens Rea" di Netflix.
Mereka menuntut agar tayangan tersebut dievaluasi. Rizki Abdul Rahman yang juga jadi koordinator aksi menuturkan bahwa aksi unjuk rasa tersebut dilakukan karena tayangan "Mens Rea" dianggap telah "menodai nilai-nilai komedi" dengan membuat materi yang "sarat polarisasi dan menjurus pada fitnah".
Pro-Kontra Materi Pandji di Mens Rea: Didominasi Dukungan Warganet
"Mens Rea" menuai pro-kontra, terutama sejak tayang di platform over the top (OTT) Netflix per-akhir tahun 2025. Walakin, berdasarkan analisis alat pemantau percakapan warganet, Drone Emprit, sentimen positif terhadap "Mens Rea" mendominasi media sosial.
Seturut Drone Emprit, dalam rentang 11 hari sejak tayang di Netflix, "Mens Rea" menciptakan 20 ribu percakapan lintas media sosial, hampir seribu pemberitaan media daring, dengan total interaksi lebih dari 117 juta.
"Skala ini menempatkan Mens Rea bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa sosial-politik," rilis Drone Emprit, Kamis.
Drone Emprit mencatat, dua pertiga percakapan di media sosial bernada dukungan. Pandji mendapat pujian publik lantaran salah satu pendiri komunitas Standupindo ini dalam materinya berani menyebutkan pejabat, institusi hukum, dan praktik kekuasaan.
"Banyak yang menyebut materinya [Pandji di "Mens Rea"] 'kena', relevan, dan mewakili keresahan kolektif rakyat kecil: soal pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi rakyat-presiden," tulis Drone Emprit.
Sentimen positif di media sosial itu, antara lain sejumlah 71,6 persen di Facebook; 57,3 persen di YouTube; 63 persen di X (Twitter); 70,2 persen di Instagram; serta 68,5 persen di TikTok. Sentimen negatif di media sosial, antara lain 6,5 persen di Facebook; 22,5 persen di YouTube; 15,6 persen di X; 14,3 persen di Instagram; dan 10,6 persen di TikTok. Sisanya, merupakan netral.
"Sebaliknya, media online cenderung lebih negatif [56,2 negatif; 34,8 positif; dan 9 netral]. Lebih dari separuh pemberitaan bernada kritik, dengan fokus pada kontroversi: isu body shaming, etika komedi, dan potensi pelanggaran hukum. Alih-alih membahas substansi," tulis Drone Emprit.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id


































