tirto.id - Pandji Pragiwaksono membawakan kembali joke lamanya berbahasa Mandarin “wo yao chi chao fan” dalam pertunjukan spesial komedi tunggal Mens Rea di Indonesia Arena, Jakarta, pada 30 Agustus 2025. Joke tersebut dimasukkan dalam salah satu rangkain bit Pandji saat membahas polemik Pulau Rempang.
Sebelumnya, pertunjukkan Mens Rea yang disaksikan langsung 10 ribuan penonton tayang di platform over the top (OTT) Netflix sejak 27 Desember 2025. Pandji jadi komika Indonesia pertama yang menayangkan pertunjukan spesial di Netflix.
Sejak tayang di Netflix itu, potongan-potongan Mens Rea menyebar di media sosial. “Wo yao chi chao fan” jadi salah satunya yang beredar di media sosial, di antara jokes Pandji yang bernada satire dan tajam lainnya.
Pandji membawakan bit tentang Pulau Rempang saat mengeluarkan joke berbahasa Mandarin. Ia menganalogikan permasalahan di Rempang layaknya seseorang yang tergusur dari rumahnya sendiri. Padahal, menurut Pandji, hunian tersebut sudah diturunkan dari generasi ke generasi.
“Bertahun-tahun, nih, rumahnya dia dipegang Belanda. Indonesia datang, mengusir Belanda, dapat, tuh, akhirnya. Itu rumah di tangan Indonesia, lu happy, “hore, rumah gue di tangan Indonesia”. Pemerintah Indonesia juga happy, “ada rumah, jual, ah, ke Cina”,” lanjut Pandji kata Pandji dalam set-up-nya.
“Lu bingung, kan. Lu lagi makan, kan. Lu samperin, kan, lu tanya “wo yao chi chao fan”,” lanjut Pandji menggunakan joke tersebut sebagai punchline-nya.
Maksud dan Konteks Wo Yao Ce Cao Fan Pandji Pragiwaksono di Mens Rea
“Wo yao chi chao fan” merupakan kalimat bahasa Mandarin yang memiliki arti “Saya ingin makan nasi goreng”. Seturut laman Kampung Mandarin Beijing Pare, “wo yao chi” atau tepatnya “wǒ yào chī” adalah kalimat bahasa Mandarin yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sedangkan chao fan atau “chǎofàn” berarti nasi goreng.
Sebagai konteks, Pandji membawakan joke “wo yao chi chao fan” di Mens Rea sebagai call back dari materi lamanya bertahun-tahun lalu. Karena konteks tersebut, Pandji mengakui banyak penontonnya yang kebingungan terhadap materi “wo yao chi chao fan”.
“Lu tahu enggak, apa yang indah dari joke tadi? Ada banyak orang di antara kita yang enggak ngerti lucunya di mana,” kata Pandji dalam pertunjukan Mens Rea.
Namun sebaliknya, bagi penggemar yang telah mengikuti karier eks penyiar Hardrock FM sekaligus salah satu pendiri komunitas Standupindo itu sejak awal, tentu merasa tak asing dengan joke tersebut.
“Ini [Mens Rea] adalah stand-up comedy special ke-10 dalam 15 tahun karier gue [sebagai komika]. Itu [wo yao chi chao fan] adalah joke untuk yang tahu-tahu aja,” kata Pandji dalam pertunjukan.
Pandji pernah membawakan joke tersebut di pertunjukan-pertunjukan lamanya. Salah satunya saat tampil di acara The Tour, yang merupakan rangkaian acara usai kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 3 Kompas TV yang digelar pada 2013.
Bedanya, dulu Pandji membawakan “wo yao chi chao fan” sebagai konteks rangkaian bit saat ia berkunjung ke Shanghai, Cina. Pandji diberi tahu temannya, di Cina, ia harus menggunakan bahasa Mandarin. Pandji lantas menghafal 2 kalimat bahasa Cina, salah satunya “wo yao chi chao fan”.
Pandji Soroti Rempang di Mens Rea
Terlepas dari nostalgia yang dibawa Pandji melalui joke call back “wo yao chi chao fan,” komika kelahiran Singapura ini menyoroti permasalahan Pulau Rempang yang telah lama jadi pro-kontra. Proyek ini telah dimulai sejak era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan dihidupkan kembali di masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Pada masa pemerintahan Jokowi, Pulau Rempang dicanangkan bakal direvitalisasi untuk menjadi kawasan yang mencakup sektor industri, perdagangan, hunian, dan pariwisata, atau dikenal sebagai Kawasan Rempang Eco-City.
Kawasan Rempang Eco-City juga menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) era Jokowi, seturut Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional.
Hanya, sejak awal, proyek yang merelokasi warga setempat tersebut, tidak sepenuhnya disetujui dan berujung pada penolakan.
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam rilisnya pada April 2025 menyebut, penolakan warga ini juga berujung pada kriminalisasi. Berdasarkan laporan YLBHI, kriminalisasi itu di antaranya 8 warga ditangkap dan dijadikan tersangka dalam kerusuhan di Kampung Tanjung Kertang pada 7 September 2023.
Kemudian, 43 warga yang ditangkap dalam aksi demonstrasi berujung kerusuhan di depan kantor BP Batam pada 11 September 2023. Dari 43 warga tersebut, 35 di antaranya ditetapkan menjadi tersangka dan diputus bersalah oleh pengadilan. Lalu 3 warga Pulau Rempang dijadikan tersangka atas tuduhan merenggut kemerdekaan orang lain dan ditetapkan sebagai tersangka pada 17 Januari 2025.
YLBHI mendesak pemerintah untuk proyek Rempang Eco City. Terlebih melalui aturan terbaru, Rempang tak lagi jadi PSN seturut Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025-2029.
Sementara itu, Rempang dalam tahap awal pembangunan, disebut telah diminati perusahaan kaca terbesar di dunia asal Cina, Xinyi Group. Melansir laman Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal dalam laporan 2023, investasi Xinyi Group tersebut dicanangkan senilai USD11,5 miliar atau setara Rp174 triliun (kurs 2023) sampai dengan 2080.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































