Menuju konten utama

Ada Apa dengan Tompi & Pandji Pragiwaksono Soal Wapres Gibran?

Kontroversi Tompi & Pandji Pragiwaksono soal Wapres Gibran. Ada apa? Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Ada Apa dengan Tompi & Pandji Pragiwaksono Soal Wapres Gibran?
Tompi . ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/kye/16.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Komika Pandji Pragiwaksono dan dr. Tompi saling tanggap di media sosial terkait kritik terhadap Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka. Tompi menyatakan jika ia tidak sependapat dengan cara Pandji mengomentari fisik Gibran dan dimasukkan dalam materi stand up.

Pertunjukan stand up komedi Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea yang ditayangkan di Netflix sejak 30 Desember 2025 lalu terus mengundang kontroversi di kalangan masyarakat.

Ada yang setuju dengan berbagai materi stand up yang dibawakan Pandji, ada yang menilai jika Pandji sudah keterlaluan. Salah satu yang kontra adalah dr. Tompi.

Kontroversi Tompi dan Pandji Pragiwaksono Soal Wapres Gibran

Di salah satu materi komedi satir yang dibawakannya, Pandji menyebut beberapa kalangan. Namun, ketika membahas tentang Gibran, Pandji mengatakan jika putra Presiden ke-7 Joko Widodo itu mempunyai ekspresi seperti mengantuk.

“Ada yang memilih pemimpin berdasarkan tampang, banyak. Ganjar, ganteng ya? Anies, manis ya? Prabowo, gemoy ya? Atau, atau, wakil presidennya. Gibran, ngantuk ya?” kata Pandji.

Sontak, penonton tertawa setelah mendengar apa yang disampaikan Pandji tersebut. Pandji, bahkan mengulang beberapa kali kalimat terakhirnya tentang Gibran tersebut dengan menyebutnya dalam beberapa intonasi berbeda.

Apa yang disampaikan Pandji tentang ekspresi Wapres Gibran ini membuat Tompi yang memang berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika ikut berkomentar.

Lewat unggahan di akun Instagram @dr_tompi pada Sabtu, 3 Januari 2025, ia memaparkan kondisi Gibran yang sebenarnya.

“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas. Apa yang terlihat 'mengantuk' pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON,” tulis Tompi.

Ia juga mengajak semua orang untuk tidak membuat kondisi psikis siapapun sebagai bahan candaan.

“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir. Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” harapnya.

Unggahan Tompi ini tak lepas dari dukungan dan kecaman dari netizen. Ada yang menilai Tompi hanya membela Gibran karena menjadi pendukungnya, ada juga yang sependapat dengan apa yang disampaikan Tompi.

“wahai dokter tompi, saya tau arah politikmu. jadi maklum kalo kau bela gibran,” tulis akun @sigitwija313.

“Klau panji jadi lurah aja blm tentu amanah liat duit bejibun ...aneh lebih ke arah ujaran kebencian,” ujar akun @layung850.

Pandji sendiri turut mengomentari unggahan Tompi dengan kalimat yang singkat dan jelas.

“Keren Tom. trimakasih koreksinya,” tulisnya.

Lantas, bagaimana Wapres Gibran dalam menanggapi kritik dari Pandji tersebut? Gibran memang tidak menanggapi secara langsung materi tersebut. Ia hanya menggunakan lagu Pandji di salah satu post yang diunggah di akun Instagramnya @gibran_rakabuming.

Baca juga artikel terkait GIBRAN RAKABUMING atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra