Menuju konten utama

Pakar Minta Kemenkes Jelaskan Detail Kasus Kematian Hantavirus

Pakar kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, menilai penjelasan tersebut perlu agar masyarakat memahami perjalanan penyakit serta langkah mitigasi yang tepat.

Pakar Minta Kemenkes Jelaskan Detail Kasus Kematian Hantavirus
Ilustrasi virus. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Pakar kesehatan sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan penjelasan lebih komprehensif terkait kasus kematian warga akibat Hantavirus di Ketapang, Kalimantan Barat.

Penjelasan mendalam dinilai perlu agar masyarakat memahami perjalanan penyakit serta langkah mitigasi yang tepat. Tjandra menekankan perlunya transparansi data klinis pasien yang meninggal.

Ia mempertanyakan apakah kasus tersebut menunjukkan gejala Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) sebagaimana karakteristik umum Hantavirus di Indonesia atau ada kondisi medis lain yang menyertainya.

"Akan baik kalau dijelaskan bagaimana perjalanan penyakit pada kasus yang meninggal di Ketapang ini, apakah memang ada gejala demam berdarah dan gangguan ginjal yang kita kenal sebagai 'Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)', atau ada situasi medik yang lain, sehingga pemahaman kita dapat jadi lebih utuh," ujar Tjandra dalam keterangan tertulis kepada Tirto, Senin (18/5/2026).

Selain aspek klinis, ia juga mendorong Kemenkes mempublikasikan hasil analisis genomik terkait strain virus yang menginfeksi pasien di Ketapang. Mengingat di Indonesia pernah ditemukan setidaknya tiga jenis strain, yakni Seoul Virus, Serang Virus, dan Puumala Hantavirus, konfirmasi jenis virus sangat krusial untuk pemetaan kesehatan.

Lebih lanjut, Tjandra mengingatkan bahwa investigasi tidak boleh hanya berfokus pada kontak manusia di sekitar lokasi kejadian.

Sesuai konsep One Health, pengawasan harus diperluas hingga ke populasi tikus dan lingkungan sekitar untuk memutus rantai penularan.

"Pemeriksaan dan penanganan pada manusia dan juga hewan dan lingkungan adalah konsep dasar Satu Kesehatan ('One Health') yaitu kerja bersama kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan, suatu program yang harus diimplementasikan di negara kita," tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan melalui Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa kasus kematian di Ketapang telah terdata dalam laporan nasional.

Kemenkes mencatat total 23 kasus terkonfirmasi Hantavirus dengan tiga kematian di sembilan provinsi selama periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Data ini sudah disampaikan dalam konferensi pers pada awal Mei lalu.

"Itu sudah termasuk yang 23 kasus konfirmasi (diumumkan). Temuannya di Maret 2026," jelas Aji kepada wartawan Tirto, Senin (18/5/2026).

Kemenkes memastikan bahwa seluruh kasus Hantavirus di Indonesia sejauh ini teridentifikasi sebagai Seoul Virus yang memicu HFRS, berbeda dengan Andes Virus yang memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menular antarmanusia seperti kasus di luar negeri.

Hingga saat ini, Kemenkes melaporkan belum ada temuan kasus konfirmasi baru atau kematian tambahan akibat virus ini di Indonesia.

Secara rinci, Kemenkes mencatat total 251 kasus suspek pada periode tersebut, dengan 225 di antaranya negatif dan 3 kasus tidak dapat diperiksa.

Distribusi kasus tersebar di Jakarta (6), Yogyakarta (6), Jawa Barat (5), Jawa Timur (1), Banten (1), Sumatra Barat (1), NTT (1), Sulawesi Utara (1), Kalimantan Barat (1), dan Jawa Timur (1).

"Belum ada info kasus baru," ujar Aji.

Baca juga artikel terkait HANTAVIRUS atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher