tirto.id - Sebagai salah satu warisan budaya nusantara, kebaya perlu mengikuti laju zaman. Upaya pelestarian warisan budaya takbenda Indonesia ini pun terus dijalankan agar kebaya tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
Demi menjaga relevansi kebaya dengan gaya hidup kekinian, Indonesia Kaya menginisiasi gerakan Kita Berkebaya sejak tahun 2025 lalu. Gerakan ini mengajak masyarakat, khususnya wanita muda di tanah air, mengenakan kebaya sebagai bentuk ekspresi diri dan identitas yang dinamis. Dengan begitu, kebaya diharapkan tidak menjadi sekadar baju tradisional atau simbol kenangan atas masa lalu belaka.
Semangat yang sama melandasi langkah Indonesia Kaya menggelar Padel Berkebaya di Bounce, Jakarta, baru-baru ini. Ajang ini memadukan kebaya dengan olahraga padel yang sedang populer dan menjadi bagian dari gaya hidup aktif anak muda. Bukan cuma menjadi busana, kebaya hadir mewarnai setiap gerak, tawa, dan kebersamaan.
Program Director Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menyatakan kegiatan Padel Berkebaya menunjukkan kebaya dapat hadir di ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda, bahkan saat mereka melakukan kegiatan aktif dan menyenangkan.
"Kami berharap makin banyak anak muda yang merasa akrab dan percaya diri mengenakan kebaya dalam berbagai kegiatan. Ketika kebaya makin sering digunakan, ekosistemnya pun ikut bergerak: para perajin, desainer, UMKM, hingga pelaku ekonomi kreatif. Pada akhirnya, kebaya tidak hanya hidup sebagai warisan budaya, tapi juga jadi bagian dari roda ekonomi yang terus berputar dan memberi manfaat bagi banyak orang," kata Renitasari.
Padel Berkebaya sekaligus menjadi cara baru dalam merayakan warisan budaya bangsa di Indonesia. Tak hanya pantas dipakai saat acara seremonial, kebaya terbukti bisa menemani aktivitas keseharian di tempat-tempat yang penuh ekspresi. Lewat kegiatan itu, kebaya bisa terus dirawat sebagai warisan budaya yang hidup, tumbuh, dan relevan dengan zaman.
Dikemas sebagai ajang kebersamaan serta hiburan, Padel Berkebaya juga menjadi bentuk advokasi budaya yang dekat dengan kehidupan. Kebaya dihadirkan bersama gerak tubuh dalam kegiatan yang energik dan interaktif. Di ruang olahraga, kebaya dikenakan sekaligus menjadi bagian dari gaya hidup wanita modern yang aktif, percaya diri, dan autentik.
Menariknya, Padel Berkebaya dihadiri oleh sejumlah figur publik yang mencintai kebaya dan punya gaya hidup aktif. Di antara mereka ada Ririn Ekawati, Anastasia Siantar, Ola Harika, Noi Aswari, Kushandari Arfanidewi (Kelinci Tertidur), serta banyak pecinta padel lainnya.
Kegiatan tersebut juga diisi dengan sesi coaching clinic bagi peserta yang belum terbiasa berolahraga padel. Mereka menerima materi tentang dasar-dasar bermain padel sehingga dapat ikut aktif terlibat secara inklusif di sepanjang acara.
"Jujur, awalnya saya tidak membayangkan kebaya bisa dipakai bermain padel. Tapi hari ini saya merasakannya sendiri, dan ternyata kebaya bisa tampil sporty, nyaman, dan tetap cantik. Sebagai pecinta padel, pengalaman ini terasa sangat spesial. Saya merasa kebaya jadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya untuk acara formal," ujar Ririn Ekawati, pesohor yang populer berkat sejumlah perannya di layar kaca.
"Buat saya, ini pesan yang indah untuk generasi muda: kita bisa mencintai budaya dengan cara kita sendiri, tanpa harus kehilangan gaya dan karakter. Kalau kebaya bisa hadir di lapangan padel, artinya kebaya memang hidup dan siap berjalan bersama zaman," lanjut dia.
Tak terbatas pada kegiatan olahraga, Padel Berkebaya pun diisi dengan bazar yang menjual berbagai jenis kebaya dan perlengkapan pendukungnya. Kegiatan ini bertambah meriah dengan kehadiran pementasan musik oleh DJ Ninda dan DJ Neysa. Penampilan keduanya mampu mewujudkan atmosfer yang cair dalam sebuah perayaan kebersamaan.
Perpaduan antara kebaya, olahraga padel, bazar, sekaligus musik dalam satu ruang menjadi simbol bahwa warisan budaya bisa terus hidup di tengah keseharian tanpa harus kehilangan relevansi maupun nilai tradisinya.
"Kami berharap Padel Berkebaya dapat menginspirasi lebih banyak perempuan untuk melihat kebaya sebagai bagian dari keseharian mereka. Bukan karena kewajiban budaya, tetapi karena rasa memiliki. Karena ketika perempuan bergerak dengan kebaya, di situlah budaya benar-benar hidup," pungkas Renitasari.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id































