tirto.id - Hampir tengah hari di daerah Cimande, Kabupaten Bogor. Masih di pinggir jalan, kulit terasa perih dicucuk mentari. Selasa (2/12/2025) siang itu, peluh tidak berhenti mengucur. Namun, berjalan sebentar menuju areal perkebunan-hutan milik Heni Sri Sundani, pepohonan durian dan alpukat menjadi tempat berteduh yang rindang.
Area agroforestri tersebut tidak begitu luas memang, hanya sekitar 2,5 hektare (ha). Namun di tangan Heni, tempat tersebut menjadi denyut nadi pemberdayaan bagi warga dan petani setempat. Sejak 2016, perkebunan-hutan miliknya berhasil mengubah lahan tandus menjadi titik hijau yang meniup kehidupan.

Pohon-pohon kayu besar serta tanaman buah dan hortikultura bersatu-padu berderet. Pada bagian belakang perkebunan-hutan itu, vegetasi tanaman sudah lumayan rapat. Area miring ini memang menjadi titik awal kesuksesan Heni menciptakan hutan dan kebun impiannya.
Didorong mimpi memberdayakan keluarga petani berekonomi lesu–seperti dirinya dulu–lewat jalan pemberdayaan dan pendidikan, Heni memutuskan membeli lahan kritis yang tak memiliki harapan dari tetangganya di Cimande. Kontur lahannya memiliki kemiringan yang ekstrem, dalam tanahnya berwarna merah tanda tak menyimpan hara, tidak ada rumput dan ilalang yang tumbuh.
Pada 2016 Heni dan keluarga memang memutuskan pindah ke Cimande. Saat itu, keluarga di kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat, sempat bertanya-tanya kenapa Heni malah membeli lahan kritis milik petani di dekat rumah barunya tersebut.
“Orang rumah nanya, ngapain sih kamu beli-beli lahan begitu, kan susah ditanami juga,” ujar Heni ketika ditemui Tirto di kediamannya, di Cimande, Bogor.
Namun Heni lanjut terus, ia terinspirasi mendiang kakeknya di Ciamis yang dapat membuat lahan gundul dan miring di pinggir hutan menjadi area dengan nilai ekonomis tinggi. Ketika ia kecil, Heni melihat kakeknya yang juga seorang petani, menanam ratusan pohon bambu di lahan-lahan kritis dekat rumah mereka.
Tak disangka, bambu tersebut ternyata mampu membuat kontur tanah menjadi lebih kokoh dan mencegah longsor. Bukan hanya itu, bambu yang siap panen, dipilih secara selektif dan menghasilkan pundi-pundi uang untuk membantu perekonomian keluarga.
“Dulu kita pikir nanam pohon, nanam aja. Ternyata ketika kita sudah tahu ilmunya, itu untuk bahan menjaga dunia, kita menabung oksigen,” kata Heni.
Maka ketika kesempatan itu datang kala tetangganya di Cimande menawarkan lahan miring yang telah kritis, ia tak berpikir dua kali untuk membelinya. Dibeli dengan uang simpanannya dan harga yang tidak terlalu tinggi, Heni menyulap lahan kritis tersebut menjadi siap tanam.

Mulanya ia melakukan perlakuan khusus agar tanah yang mati bisa subur kembali. Dengan pupuk organik dan prinsip bahwa menciptakan lahan hijau yakni meniru cara alam bekerja sebagaimana aslinya, Heni berhasil membuat tanah kembali menghidupkan. Barulah Heni menanam pepohonan untuk memperkokoh tanah, seperti bambu, beringin, hingga kelapa.
Setelah kejadian itu, berangsur-angsur Heni mendapatkan kesempatan dari warga lain yang ingin melego lahannya yang sudah kritis. Lama-kelamaan setelah bertambah luas, ia dapat menumbuhkan perkebunan-hutan dengan berbagai jenis pohon dan tanaman yang mampu membawa banyak kebermanfaatan bagi warga sekitar.
Heni sengaja menggunakan metode agroforestri alias tumpang sari agar ada keseimbangan antara zona produksi dari hasil tanam dan zona konservasi untuk melindungi alam sekitar. Ia memiliki prinsip yang sederhana: lahan lurus digunakan untuk panen dan lahan miring untuk konservasi melindungi kontur tanah dan areal dari longsor sekaligus zona penyerapan air.
Di area hanya sekitar 2,5 ha itu, Heni sudah melakukan reboisasi dengan ribuan pohon. Itu mencakup bambu, pepohonan kayu seperti beringin, durian, pala, kelapa, hingga alpukat. Adapun di area selingan ada selada, seledri, labu, terong, jagung, dan banyak lagi. Bahkan imbas dari upaya reboisasi Heni di lingkungannya itu, lahir mata air baru dan membentuk aliran sungai kecil.

Bahkan, saat ini area itu juga dilengkapi aktivitas peternakan ayam, domba, dan ikan yang semuanya mengadopsi prinsip organik.
“Daun jagungnya kan jadi pakannya domba, jadi pakannya kambing. Yang kotoran domba, kotoran ayam, itu juga bisa untuk pupuk organik ini tadi ke pohon-pohon, balik lagi,” ucap Heni.
Saat ini, Heni memperluas kegiatan menanam pohon atau reboisasinya ke berbagai daerah Indonesia. Dengan Yayasan Empowering Indonesia yang tercipta 2017 silam, lewat program unggulan seperti sedekah pohon dan program membeli hasil pertanian warga, kini minimal ada 1.000 pohon yang ditanam jejaring sukarelawan Heni di berbagai daerah per bulannya.
Cikal bakal yayasan itu sebetulnya sudah lahir sejak 2011 ketika Heni membentuk Gerakan Anak Petani Cerdas. Sejak 2016 pindah ke Cimande, Heni juga membantu petani lansia dan anak-anak petani lewat pemberdayaan menggarap sawah, perkebunan, hingga peternakan.
Setahun lalu, bahkan ia mendirikan Empowering School ID agar anak petani bisa melakoni sekolah secara gratis. Sekolah itu tepat berada di areal perkebunan-hutan miliknya. Berkat reboisasi yang dilakukannya sejak 2016, kini hutan dan pertanian yang dikelolanya mampu menebar banyak manfaat.
“Menanam pohon itu nyawanya bumi, dan itu nyawanya kita,” ujar Heni.
Rosita dan Hutan Organik-nya di Megamendung

Hutan yang lahir dari mimpi dan komitmen melestarikan alam, menjulang rapat di punggung Megamendung, Kabupaten Bogor. Di bawah kanopi pepohonan yang menutup sinar mentari siang, langkah besar Rosita Istiawan (63) mendirikan Hutan Organik Megamendung, pernah terasa mustahil.
Lahan bekas perkebunan singkong yang gundul, pH tanah rendah, alang-alang yang lebih tinggi dari tubuh manusia, kontur miring ekstrem dengan mata air yang mengering, menjadi medan pertempuran Rosita mewujudkan mimpi. Saat ini, berawal dari lahan kritis berukuran 2.000 meter yang dibeli dengan tabungan keluarga itu, terbentang hutan organik seluas 30 ha yang dinaungi sekitar 44 ribu pohon berasal dari 121 jenis dan varietas .
Menjulang seluas dari Megamendung ke bagian Gunung Geulis. Perjalanan itu berawal dari mimpi sang suami yang kini telah berpulang. Tahun 2000 silam, perjalanan dia mewujudkan mimpi keluarga dimulai dengan perjuangan yang tak mudah.
“Saya mau membuat hutan,” ungkap Rosita, menirukan mendiang suami ketika ditemui Tirto di kediamannya, yang kini dikenal dengan naman Hutan Organik Megamendung, Kamis (4/12/2025).
Kondisi awal lahan yang dibeli Rosita memang kritis: pH tanah hanya 2,5–4, tak ditemukan cacing, 70 persen permukaan ditutupi alang-alang, dengan kemiringan mencapai 80 derajat.
Rosita menggambarkannya dengan gamblang, “Alang-alang lebih tinggi dari ibu,” katanya.

Dan lebih parah lagi tidak ada air di awal Rosita menggarap lahan itu untuk menumbuhkan hutan. Mata air dulu pernah ada, tetapi ketika Rosita datang, yang tersisa hanya rembesan. Itu pun muncul hanya bila hujan.
Karenanya, Rosita memikul air dari tempat tinggalnya dulu di Cipayung selama dua tahun penuh. Hal itu mau tak mau mesti ia lakoni agar tumbuhan yang telah ditanam bisa hidup.
“Saya jalan 2,5 kilo[meter] membawa air,” katanya. “Satu pohon, satu gelas cangkir.”
Setelahnya, tanah dibentuk terasering supaya pupuk organik tidak hanyut terbawa hujan. Ia mulai menanam pohon dan tumbuhan dengan jarak 2,5 x 2,5 meter. Ia tanam 1.500 pohon per hektare dengan metode tumpang sari atau agroforestri.

Setelah dua tahun memulai upaya tanpa modal keilmuan formal pertanian dan perhutanan, persis di titik di mana ia hampir menyerah, mata air muncul dari tanah yang dulu mati. Kejadian itu menghidupkan lagi semangatnya.
Hal ini bukan sekadar prestasi teknis semata, tetapi bukti bahwa metode yang dilakukan Rosita itu membuahkan hasil dalam menghidupkan lahan kritis.
Data hidrologi kemudian membuktikan bahwa metode itu bukan kebetulan. Penelitian IPB di kawasan ini menunjukkan bahwa mata air menjadi stabil pada lokasi dengan populasi lebih dari 1.200 pohon per hektare, bahkan tetap mengalir ketika masa 100 hari tanpa hujan pada 2015 silam.
Pembentukan hutan turut menghasilkan efek ekologis nyata, ditandai kemunculan kembali satwa-satwa liar. Tercatat ada 25 spesies burung di hutan organik Megamendung, berbagai serangga dan reptil, hingga diduga terdapat kemunculan kucing hutan (Felis bengalensis).
Hal ini menjadi bukti bahwa keanekaragaman hayati kembali setelah vegetasi mulai pulih . Kini, 121 jenis flora tercatat di kawasan ini, termasuk kayu Afrika, sungkai, pala, mahoni, dan vegetasi hutan sekunder lain yang memperkaya kanopi hutan mini Megamendung .
“Sekarang jumlahnya dalam 30 hektare bisa 44.000 pohon,” ucap Rosita.

Namun membangun hutan bukan cuma bicara tantangan yang datang karena kondisi alam. Upaya melestarikan lingkungan juga artinya mesti siap berhadapan dengan polah manusia.
Ia bercerita, hama utama dari upaya menciptakan utama justru manusia.
Ia pernah diancam golok karena membeli tanah-tanah kritis milik warga yang sudah tidak digunakan. Ia pernah dimintai “jatah” oleh para calo tanah.
Bahkan tantangan dari pola pikir masyarakat, karena suburnya kebiasaan menebang pohon tanpa repot-repot menanam lagi. Termasuk ekspansi pembangunan dan alih fungsi lahan di sekitar kawasan hutan, ia menyaksikan bagaimana tanah justru hilang bukan karena erosi, tetapi karena pembangunan resort hingga villa di wilayah hulu.
Namun, Rosita tak gentar. Ia mengaku, manusiawi memang mengalami rasa lelah dan putus asa dalam mencapai mimpi-mimpinya. Namun jika hendak melindungi alam, komitmen jadi kuncinya. Rosita menegaskan, jika benar ingin melindungi hutan, orang mesti mengantongi keberanian laiknya macan.
“Karena kita harus berani. Harus benar-benar berani melawan siapapun. Karena cita-citanya buat hutan. Kalau membuat hutan, harus jadi macan-nya hutan,” tegas Rosita.

Di sisi lain, inti dari upaya Rosita bukanlah sekadar membuat kebun raya, bukan pula proyek pertanian raksasa. Inti perjuangannya membuat hutan adalah menyelamatkan masa depan. Ia melihat dengan mata sendiri, jika wilayah hulu rusak imbas penggundulan hutan dan alih fungsi lahan, berarti hilir tenggelam.
“Di sini hulunya Jakarta,” katanya. “Kalau hujan 3 jam aja banjir, itu kiriman dari Bogor.”
Perhatiannya akan dampak kerusakan alam tercermin dari kesedihannya saat menanggapi kejadian banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera. Ia menilai, bencana itu sudah terjadi, maka perlu menjadi refleksi bagi seluruh pihak agar tidak terulang lagi.
Ia mengingatkan untuk tidak lagi menebang pohon serampangan, dan mulai melakukan aksi reboisasi yang serius. Bukan sekadar seremonial tanam pohon langsung selesai. Tetapi saat ini yang dibutuhkan adalah komitmen untuk melakukan tanam pohon lalu merawatnya.
“Ayo kita sama-sama membangun hutan ini. Membangun hutan ini sama-sama masyarakat.
Lihat ekonominya, supaya masyarakat tertarik nanam pohon di hutan. Ingat, jangan hutan itu dibabat. Ayo kita cari solusi,” ajak Rosita.
Membabat Hutan, Memanen Bencana
Bencana banjir dan longsor sejak akhir November 2025 yang melanda Aceh dan Sumatera memang bukan sekadar fenomena alam. Bencana ini dipantik aktivitas manusia yang tidak memperdulikan alam dan komitmen pemerintah yang belum serius dalam melindungi alam.
Per Kamis (4/12/2025) sore, pukul 16:00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, mencapai sebanyak 836 jiwa. Bahkan pekan pertama Desember 2025 ini, banjir juga merendam Kabupaten Bandung dan Kota Malang.
Kepala Divisi Kehutanan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Difa Shafira, menunjukkan jurang antara laju kehilangan hutan alias deforestasi dan upaya pemulihan lewat reboisasi pemerintah justru semakin menganga di Indonesia. Di tangan regulasi yang tidak sepenuhnya mampu menahan ekspansi industri dan proyek strategis nasional, hutan Indonesia masih terus tergerus.
Difa mengungkap, laporan FOLU Net Sink 2030 menyebutkan selama periode 2013-2019, Indonesia kehilangan 4,8 juta hektare hutan. Angka deforestasi bertahan di kisaran 113-133 ribu hektare per tahun dalam periode 2019-2023.
Sebaliknya, upaya rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) sejak 2015 hingga 2023 yang dicatat Kementerian Kehutan baru mencapai 1,9 juta hektare. Kurang dari separuh luas hutan yang hilang dalam satu dekade.
Rehabilitasi pun tak berjalan mulus karena diwarnai konflik tenurial, koordinasi kelembagaan yang masih tumpang-tindih, perubahan kebijakan, hingga pemetaan data yang belum akurat sehingga menghambat efektivitas program.
“Kurang lebih lima juta hektare tutupan hutan hilang dalam sepuluh tahun, tapi pemulihannya tidak sampai dua juta hektare,” kata Difa kepada wartawan Tirto, Rabu (3/12).
Menurut Difa, pemerintah harus menempatkan penghentian deforestasi sebagai prioritas utama, bukan sekadar mengejar target rehabilitasi. Difa menegaskan bahwa penanaman hutan tanaman industri (HTI) tak boleh menjadi legitimasi pembukaan hutan primer.
ICEL juga menyoroti bagaimana PP 23/2021 dan Permen LHK 7/2021 memberikan jalan khusus bagi Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk proyek pangan dan energi berbasis lahan luas. Pengawasan di tingkat undang-undang juga dinilai tidak cukup ketat, membuka peluang regulasi turunan yang menciptakan celah lebih besar.
Analisis Difa, selama kerangka hukum masih memberikan ruang eksekusi bisnis dan proyek nasional di kawasan hutan, upaya reforestasi tidak akan mampu mengejar deforestasi.
“Selama hutan dalam konsesi tidak punya perlindungan kuat dan PSN terus mendapat karpet merah, rehabilitasi akan selalu kalah cepat,” ujar Difa.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
































