Menuju konten utama
Reforestasi Mandiri

Hutan Organik Megamendung: Dari Lahan Kritis ke 44 Ribu Pohon

Perjuangan Rosita mengubah lahan kritis jadi hutan 30 hektare yang menyimpan air, menjaga ekosistem, dan melawan ancaman perusakan manusia.

Hutan Organik Megamendung: Dari Lahan Kritis ke 44 Ribu Pohon
Header Wansus Rosita Hutan Organik Megamendung. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di bawah kanopi dedaunan pohon di Hutan Organik Megamendung, Rosita Istiawan tampak tak memperlihatkan raut kelelahan. Sejak pagi hari, Kamis (5/12/2025), perempuan berusia 63 tahun itu terus menjamu berbagai tamu yang datang untuk berkunjung ke hutan miliknya. Hutan yang ia tanam sendiri bersama keluarga, serta warga sekitar yang bekerja di sana.

Hutan seluas 30 hektare itu menjulang rapat dari wilayah Megamendung, Kabupaten Bogor hingga area Gunung Geulis. Siapa menyangka, hutan yang kini rindang dan asri itu dulunya berawal dari sebidang lahan kritis dengan luasan 2.000 meter persegi. Tahun 2000 silam, terdorong dari keinginan suaminya membuat hutan, Rosita membeli lahan bekas perkebunan singkong di Megamendung dari masyarakat.

Kondisi awal lahan yang dibeli Rosita memang kritis: pH tanah hanya 2,5–4, tak ditemukan cacing, 70 persen permukaan ditutupi alang-alang, dengan kemiringan mencapai 80 derajat.

Rosita menggambarkannya dengan gamblang, “Alang-alang lebih tinggi dari ibu,” kata dia saat melakukan wawancara eksklusif dengan Tirto di Hutan Organik Megamendung, Kamis (5/12/2025).

Ia mulai menanam pohon dan tumbuhan di lokasi itu dengan jarak 2,5 x 2,5 meter. Ia tanam 1.500 pohon per hektare dengan metode tumpang sari atau agroforestri. Setelah dua tahun memulai upaya tanpa modal keilmuan formal pertanian dan perhutanan, persis di titik di mana ia hampir menyerah, mata air muncul dari tanah yang dulu mati.

Kejadian itu menghidupkan lagi semangatnya. Data hidrologi kemudian membuktikan bahwa metode itu bukan kebetulan. Penelitian IPB di kawasan ini menunjukkan bahwa mata air menjadi stabil pada lokasi dengan populasi lebih dari 1.200 pohon per hektare, bahkan tetap mengalir ketika masa 100 hari tanpa hujan pada 2015 silam.

Pembentukan hutan turut menghasilkan efek ekologis nyata, ditandai kemunculan kembali satwa-satwa liar. Tercatat ada 25 spesies burung di hutan organik Megamendung, berbagai serangga dan reptil, hingga diduga terdapat kemunculan kucing hutan (Felis bengalensis).

Hal ini menjadi bukti bahwa keanekaragaman hayati kembali setelah vegetasi mulai pulih . Kini, 121 jenis flora tercatat di kawasan ini, termasuk kayu Afrika, sungkai, pala, mahoni, dan vegetasi hutan sekunder lain yang memperkaya kanopi "hutan mini" Megamendung.

“Sekarang jumlahnya dalam 30 hektare, bisa 44.000 pohon,” cerita Rosita terkait kondisi hutannya saat ini.

Namun, bukan berarti membuat hutan dan melestarikan alam secara mandiri tidak jauh dari tantangan. Rosita menyebut bahwa manusia merupakan hama utama hutan. Berkali-kali ia menerima tekanan dan ancaman karena bersikukuh mempertahankan kelestarian hutannya.

Simak kisah selengkapnya dalam petikan wawancara Tirto dengan Rosita di bawah ini:

Bagaimana cerita awal mendirikan Hutan Organik Megamendung?

Nama ibu, Ibu Rosita hanya ibu rumah tangga. Tapi saya membuat hutan.

Satu, saya komitmen dengan suami. Karena suami saya ingin rumah di pinggir hutan tetapi Hutannya nggak ada. Kita berkomitmen membuat hutan bersama anak-anak.

Jadi dari masyarakat kita membeli tanah ini. Dari 2.000 meter sekarang 30 hektare (ha). Dari tanah kritis, gundul, tidak ada pohon satu pun. Dari pH 2 cuma sampai 4.

Kenapa ini berhasil? Karena 99 persennya tumpang sari. Nanti kalau orang bertanya, apa namanya tumpang sari? Kalau sekarang namanya agroforestri.

Kebanyakan orang bertanya bagaimana itu agroforestri? Dalam satu bedengan karena ibu menanam 2,5 x 2,5 meter, bedengan ini tanahnya sangat lereng jadi dibikin terasering sama ibu. Supaya pupuk yang masuk ke lahan tidak hanyut dengan air hujan.

Terus pinggirnya ditanami sereh. Dalam satu ha bedengan itu ditanam sampai 1.500 pohon. Sekarang jumlahnya dalam 30 ha, bisa 44.000 pohon.

Kok bisa sekarang jadi rapat sekali? Mereka dibawa burung bijinya bisa jadi, bisa tumbuh. Itu yang paling utama. Dulu di sini biar pada tau nggak ada yang namanya air.

Jadi ibu untuk menyiram pohon dulu, satu pohon itu satu gelas cangkir. Dulu baru 6 ha udah dibikin zona supaya jelas.

Ada zona ekonomi, ada zona utility, apa itu? Zona utility itu bangunan buat pendopo sama rumah saja, kita tidak membuat bangunan apa-apa lagi.

Yang ketiga, zona konservasi yaitu untuk menghasilkan air. Jadi zona konservasi tidak boleh orang lewat.

Bermacam-macam pohon kita tanam, selama 2 tahun menanam, keluar mata air. Bersyukur Alhamdulillah keluar mata air. Karena orang hidup tanpa air itu tidak bisa.

Kenapa bisa berhasil begitu bagus? Karena itu 99 persen tanam rawat dengan agroforestri.

Dulu suka dukanya, sangat berat ibu membawa air dari rumah ibu ke sini. Itu 2,5 kilometer membawa air dari Cipayung ke sini [Megamendung] untuk hanya menyiram pohon selama 2 tahun.

Lahan Hutan Organik Megamendung

Lahan Hutan Organik Megamendung. tirto.id/M Fajar Nur

Awalnya bagaimana bisa membeli lahan? Dan seperti apa gambaran kondisi saat itu?

Ibu beli dari masyarakat. Bapak [bekerja] di perminyakan ini harus jelas, ibu hanya sebagai ibu rumah tangga. Tapi orang pebisnis ibu, punya Toko ban, punya Warteg, apapun.

Suatu saat bapak ditanya sama ibu, tahun 1999 dulu. “Pak, udah tua mau menjadi apa?”.

Dia bilang, “aku cita-cita cuma satu, pengen rumah di pinggir hutan.”

Hutannya tidak ada. Sebagai ibu, walaupun perempuan, itu merasa tertantang. Akhirnya ibu ambil tantangan. Jadi ibu beli dari masyarakat memang lahan yang kritis yang tadi.

Alang-alang lebih tinggi dari ibu. PH cuma sampai 4. Air pun nggak ada. Mau diapain juga kita bingung. Kita mau nanam apapun bingung pada saat itu.

Akhirnya kita mulai pakai tumpang sari bersama pohon-pohon, dan itu bersama masyarakat.

Kendalanya apa sih di sini awal-awal? Untuk menghijaukan dan untuk membeli tanah.

Karena di sini bersaing sama orang dari Jakarta. Kalau orang Jakarta punya 1.000 meter saja, itu dibuat resort dan vila. Kalau hujan, inilah kiriman air dari Bogor. Hujan 3 jam saja banjir, itu kiriman dari Bogor.

Padahal, sama yang punya vila juga kita pesan. Walaupun bangunan tinggi-tinggi ada di Jakarta, kalau mau [bangun] di puncak, jangan dong bangunan tinggi-tinggi.

Tapi kita nggak bisa melarang. Jadi kita tanam pohon untuk penyerapan air. Biar Jakarta pun tidak banjir. Biar ekosistemnya juga kembali.

Kalau misalkan udah kepalang banyak vila liar, jangan dibongkar, karena nggak ada solusi untuk dibongkar. Karena udah dibongkar, tetap tumbuh banyak. Coba kasih solusinya, kasih surat, untuk dia menanam pohon. Perawatannya kayak apa? Mereka punya pegawai, suruh dong pegawai yang merawatnya. Ini kan cari solusi.

Dulu ibu aja membeli lahan kritis, diancam dengan calo tanah. Padahal tidak ada perantara, karena ibu beli dari masyarakat kayak yang mau ngawinin dan yang kerja di ibu. Tapi tetap mereka [calo] minta jatah. Dulu mah ibu sampai diancam golok.

Dimintain seribu semeter, minta sampai lima ribu semeter. Tapi ibu bilang, kalau misalkan itu golok kena ibu berdarah, baru ibu bayar.

Kenapa kayak setengah jadi macan kalau bikin hutan? Karena kita harus berani. Harus benar-benar berani melawan siapapun. Karena cita-citanya membuat hutan. Kalau membuat hutan, harus jadi macan hutan.

Tidak mungkin membuat hutan [tanpa keberanian]. Karena banyak yang namanya hama itu adalah manusia. Siapa saja hama manusia? Satu, masyarakat di sekitar yang bikin kandang kambing. Lalu, orang tradisinya nggak mau menanam, maunya menebang.

Tapi bersyukur Alhamdulillah sekarang hutannya sudah jadi. Dan ada 44 ribu pohon dan 121 jenis. Binatangnya ada 120 jenis, burungnya ada 25, burungnya bermacam-macam. Semua karena ekosistemnya sudah kembali.

Lahan Hutan Organik Megamendung

Lahan Hutan Organik Megamendung yang menempel rumah Bu Rosita. tirto.id/M Fajar Nur

Kalau contoh-contoh pohon yang ditanam ada jenis apa saja?

Jawa Barat sudah tidak ada pohon rasamala, puspa, kisireum. Nanti anak cucu kita nggak tahu tanaman apa sih itu. Kalau di Kalimantan tidak lagi ada eboni, semua sudah enggak ada lagi. Mudah-mudahan di sini sudah ada.

Meranti seluruh Indonesia ada di sini. Semua tanaman ibu sukai, semua ibu sayangi.

Jangan sampai orang membuat hutan juga bingung nanti ekonominya dari mana. Kalau mulai menanam sampai 3 tahun dari sayur, setelah sayur habis, sudah tumbuh ada kanopi di hutan, ya tanamlah kopi, tanamlah lada [mengganti sayur].

Jangan hutan yang ada ditebang buat menanam kopi. Karena akarnya tidak menyerap air. Kebanyakan sekarang menanam kopi hampir seluruh Indonesia, tapi hutan ada ditebang, itu salah.

Kenapa salah? Kopi tidak butuh matahari. Tapi kopi butuh naungan.

Apa tanaman atau pohon yang memiliki fungsi vital untuk lingkungan di sini?

Di Jawa, Ibu tahu ada pohon haji sengon. Kenapa dibilang haji sengon? Tanamannya cuma 3 tahun tapi dia bisa dibuat pelet, bisa buat peti ya.

Kalau di sini ada pohon namanya ada haji Afrika atau pohon Afrika. Kalau yang mau nanam itu pohon mani'i, kata orang Sunda.

Satu, daunnya dipakai pakan kambing. Dua, pembibitannya gampang. Tiga, akarnya untuk menahan longsor dan menyimpan air di wilayah ini. Empat, ekonominya tinggi asal mau sabar.

Selama 20 tahun menanam, yang ibu rasakan, dalam satu pohon tinggi 40 centimeter. jadi 70-80 centimeter, jadilah meja. Itu ekonomi yang paling tinggi. Minimal, dia 20 tahun nungguin, sudah membantu oksigen dan ekosistemnya dulu.

Jadi 20 tahun tuh berapa banyak yang ibu dapat? Dari satu pohon Afrika, jadi hanya yang busuk itu saja ditebang, jadi tujuh meja. Satu meja itu dijual Rp10 juta. Kalau di mall itu meja Rp30 juta, ibu jual hanya 10 juta.

Kenapa ekonominya harus diangkat, karena supaya orang mau nanam. Tapi dia nunggu 20 tahun. Karena minimal sudah terangkat untuk ekosistem dan fungsi penyimpanan airnya.

Orang sini memang banyak tanam di sini tapi tidak sabar. Ada tengkulak lewat, tukang kayu lewat, ditawar itu, dijual hanya Rp200 ribu.

Akarnya bisa menahan longsor dan menyimpan air. Pertumbuhannya pohon Afrika sangat cepat. Cuma Ibu tidak dibuat gelondongan.

Ibu bilang, nanem anak TK juga bisa nanem, anak SD bisa nanem. Tapi tanem tinggal.

Sekarang penghijauan di mana-mana, sampai 25 ribu pohon, 10 ribu pohon, yang ditanam tapi ditinggal. Tinggian alang-alang akhirnya dengan pohon itu yang ditanam.

Lahan Hutan Organik Megamendung

Kayu Afrika Salah satu fauna penopang Hutan Organik Megamendung. tirto.id/M Fajar Nur

Apa pendapat Anda soal bencana banjir di Aceh dan Sumatera sejak November 2025 yang dikaitkan diperparah deforestasi?

Ibu jadi dari narasumber di Kalimantan. Sangat sedih. Lihat dari pesawat, Ibu udah sedih. Ibu udah nangis. Karena udah banyaknya hutan, pohon-pohon yang sudah hancur gitu.

Ibu berduka. Indonesia lagi berduka. Dari Aceh, Padang, ya Kalimantan, itu beruntun semua bencana.

Tapi Ibu pesan, kalau yang sudah [dilakukan] mah sudah [jangan diteruskan]. Untuk semua pemerintahan, harus kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat, jika ada kebijakan.

Ayo kita sama-sama bangun kembali hutan. Kita tanam yang bener bersama masyarakat. Ajaklah masyarakat, ajaklah tenaga ahli untuk membuat hutan yang hancur-hancur.

Kalau kita saling menyalahkan kayu gelondongan ini ya, itu sudah, tidak usah lagi dilakukan [penebangan]. Kita semua menangis.

Ayo kita sama-sama sharing. Hutan tempat belajar, kita belajar sama-sama. Itu yang paling penting buat kita. Kita belajar sama-sama, mudah-mudahan bencana ini buat kita duka, jadi benar-benar orang terharu. Menanam pohon lebih penting dari apapun, dari cari uang.

Apa pesan ibu untuk sektor perhutanan kita saat ini?

Ibu sih pesan, karena sekarang gini, di mana-mana hutan ini sudah hancur, dan apalagi di daerah kita [Bogor], ini hulunya Jakarta. Ingat nih pemerintah, ini hulunya Jakarta. Kalau banjir tuh 3 jam, kiriman dari Bogor. Bila sudah banyak vila, tidak usah dibongkar. Cari solusi.

Kasih surat untuk menanam pohon. Biar ekosistemnya kembali dan menahan air dan menahan longsor. Supaya hujan tidak langsung ke Jakarta itu solusinya. Kedua, pemerintah menghijaukan di daerah-daerah nih. Kita sama-sama jangan tanam tinggal, tapi tanam rawat.

Dan ini Hutan Organik Megamendung jadikan aset Indonesia, walaupun hanya setitik 30 hektare, ibu minta satu ini dilindungi dan ini buat hutan konservasi. Dan tidak dijamah oleh orang yang berkepentingan.

Karena hama itu adalah manusia. Properti semua sudah mendekat ke kita. Tapi kalau ada surat, bahwa ini tidak diganggu adalah zona konservasi. Karena memang ini untuk anak dan cucu ibu dan anak cucu kalian yang akan datang.

Lahan Hutan Organik Megamendung

Rosita Istiawan, Pendiri Hutan Organik Megamendung. tirto.id/M Fajar Nur

Bagaimana pendapat ibu soal kondisi deforestasi dan upaya reboisasi pemerintah?

Jangan hutan dibongkar hanya untuk pertanian. Hutan bagus, dibongkar untuk nanam padi. Makanya tadi ibu bilang, jangan babat hutan hanya gara-gara kopi. Kan sudah dikasih tahu sama ibu.

Orang mau buat perumahan nih, dipakai nanti 25 tahun lagi. Kenapa kita nggak sama-sama tanam dulu? Sebelum orang itu mendapatkan SOP yang benar. Itu disebut lahan tidur.

Sekarang lahan dibongkar nih semua. Ditinggalin gitu aja. Nunggu izin atau apa. Kenapa sih kita nggak sama-sama hijaukan dulu? Dipinta baik-baik sebelum tanah itu dipakai.

Dan semua pemerintah, nih yang pemerintah yang mau menghijaukan, ayo sama-sama hijaukan. Ajak bicara, ajak action, dan cari peluang ekonominya, kita sama-sama obrolin. Supaya masyarakat juga tertarik untuk menghijaukannya.

Kalau tidak diajak ngobrol pemerintah dengan masyarakat, itu tidak akan berhasil. Ayo kita sama-sama supaya Indonesia ini benar-benar hijau.

Apa yang membuat ibu mempertahankan hutan organik Megamendung ini?

Manusiawi jenuh itu pasti ada. Namun misalkan, wah ini hebat terus, nggak mungkin karena sombong. Semua orang pasti punya jenuh, ada ngeluhnya.

Tapi kita berbalik, kita suami-istri yang komitmen. Yang dipegang itu komitmen. Kalau gue tinggalin, misal pertengahan, apa kita tidak sayang? Apa kita tidak jelek dengan suami dan anak? Komitmen itu yang menguatkannya.

Nilai kehidupan apa yang ibu dapat dari membuat hutan selama ini?

Umur ibu 63 tahun, terasa masih muda dan saya selalu segar. Dan kebahagiaan ibu itu ada orang datang untuk tahu tentang hutan ini. Kebahagiaan. Siapa pun datang. Dan untuk anak zaman sekarang, biar tahu. Pesan untuk anak-anak sekarang, cintai lingkungan, cintai diri dia sendiri.

Satu keluarga saja. Habisnya rokok, buangnya sembarangan. Cari dong tempat sampah. Di lingkungan RT dulu atau di lingkungan rumah sendiri menjaga lingkungan. Tanam, walaupun satu pot, buat diri dia sendiri.

Ayo pesannya sama-sama mencintai bumi ini. Mencintai lingkungan. Mencintai diri sendiri.

Baca juga artikel terkait DEFORESTASI atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Decode
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfons Yoshio Hartanto