tirto.id - Kawasan Seminyak, Sanur, dan Ubud sudah masyhur sebagai destinasi utama wisatawan yang bertandang ke Bali. Namun, minat wisatawan lambat laun bergeser ke sisi barat Bali. Beberapa alasannya adalah lanskap alam dan lingkungan yang masih terjaga serta suasana yang lebih tenang, tetapi akses dan infrastrukturnya tetap lengkap.
Salah satu kawasan yang menawarkan pengalaman tersebut adalah Kabupaten Tabanan. Ia dikenal sebagai lumbung berasnya Provinsi Bali. Kontribusi padi dari Tabanan terhadap keseluruhan produksi Provinsi Bali mencapai 25 persen.
Oleh karena itu, sebagai destinasi pariwisata, Tabanan menawarkan panorama sawah yang masih asri lengkap dengan sistem subak yang dijaga kelestariannya oleh para petani di sana. Dalam rentang 11 bulan terakhir, Kabupaten Tabanan tercatat dikunjungi sekira 153.000 wisatawan asing.
Tanah Lot yang merupakan ikon pariwisata Bali terletak di kabupaten ini. Pura yang terletak di tepi laut tersebut dikunjungi oleh 1.793.821 orang wisatawan sepanjang 2024. Prospek kunjungannya pada 2025 pun menjanjikan.
Selain itu, Tabanan juga punya Pantai Nyanyi yang terletak di Desa Beraban. Ia dinilai sebagai hidden gem baru di Pulau Dewata. Sebagai destinasi, ia menawarkan panorama pantai berpasir hitam yang eksotis, ombak besar idaman para peselancar, serta momen matahari terbenam yang epik.
Kondisi alam yang masih asri dan terjaga adalah modal terbesar Tabanan. Terkhusus di Pantai Nyanyi, wisatawan bakal dapat pengalaman terkoneksi dengan alam, komunitas, dan budaya lokal. Koneksi 3 elemen tersebut juga ditangkap oleh Nyanyi Bali, sebuah grup multigenerasi yang berasal dari wilayah tersebut.
Nyanyi Bali dibangun dari ide untuk menciptakan ekosistem yang mengintegrasikan antara lingkungan hidup yang autentik dan basis komunitas yang kuat di kawasan itu.
“Kami ingin membuat pengalaman yang bisa menghormati alam dan tradisi Bali karena itu adalah yang membuat Bali istimewa. Kami tidak ingin melupakan akar sejarah kami, siapa kami, dan identitas kami. Kami sedang membangun ekosistem yang sifatnya sirkuler, menghubungkan tanah, masyarakat, dan pengalaman,” ungkap Nyoman Astari Siswanto, Direktur Nyanyi Bali, ketika ditemui di Nyanyi Bali, Rabu (26/11/2025).
Ide tersebut kemudian menetas menjadi Bali International Training and Development Centre (BITDeC) yang berdiri pada 2006. Keberadaan institusi pelatihan dan pendidikan tersebut merupakan visi dari Almarhum Frans Bambang Siswanto—generasi pertama dari grup Nyanyi Bali—yang ingin memberdayakan talenta lokal dan pemuda Indonesia umumnya melalui pendidikan berkualitas dan berakar pada nilai-nilai dan kearifan lokal.
“Dia berangkat dari pengalaman hidup yang cukup sederhana. Pada waktu mudanya, dia sempat berpengalaman tinggal di asrama dan dari situ dia bervisi untuk membuat suatu tempat pelatihan. Beliau percaya bahwa jika orang diberi keterampilan dan dilatih, mereka bisa memiliki kesempatan untuk mengubah masa depan,” jelas Astari.
Setelah BITDeC berjalan selama satu dekade, Bali Culinary Pastry School (BCPS) didirikan untuk menyokong kebutuhan industri pariwisata di sana akan tenaga profesional di bidang kuliner.
Pada mulanya, BCPS hanya memiliki enam siswa. Namun, seiring berjalannya waktu, sekolah tersebut telah meluluskan lebih dari 1.000 siswa dengan variasi 10 kewarganegaraan. Bahkan, sejak 2023, BCPS telah menempatkan lebih dari 60 siswanya dalam program magang internasional selama enam bulan di Prancis, Italia, dan Hong Kong.

Institusi pendidikan di BITDeC lalu bertambah dengan hadirnya Politeknik International Bali (PIB) yang didirikan pada 2017. Perguruan tinggi tersebut didirikan dengan basis kurikulum tourismpreneurship atau pembekalan kewirausahaan (entrepreneur) di bidang pariwisata (tourism). Dalam kurikulum tersebut, pengembangan keterampilan melalui praktik relatif lebih banyak dibandingkan teori.
Setelahnya, pada November 2025, Kōro Bali diluncurkan. Tempat tersebut merupakan upaya Nyanyi Bali menjadikan gastronomi sebagai medium pembelajaran, pemberdayaan, dan pembangunan ekosistem berkelanjutan. Destinasi kuliner yang berdiri di atas lahan seluas 1 hektare itu memiliki peran sebagai kelas hidup (living classroom) dari siswa BCPS.
Para siswa BCPS turun langsung dalam mengelola operasional harian Kōro Bali, mulai dari operasional dapur dan pemprosesan makanan, manajemen pelayanan tamu, pengelolaan area makan, hingga standar keramah-tamahan.
“Kami ingin memberi murid kami pengalaman global untuk memberi mereka kesiapan berada di dalam industri [pariwisata]. Jadi, melanjutkan komitmen kami terhadap pembelajaran dan pengembangan keterampilan. Dalam kelas hidup tersebut, edukasi bisa bersinggungan langsung dengan industri,” kata Astari.
Namun, Nyanyi Bali tak mengejar kecepatan pertumbuhan, melainkan membangun masa depan dari akar budaya dan ekologi. Managing Director Nyanyi Bali dan Founder BCPS, Made Ariani Siswanto, mengungkap bahwa ketimbang ekspansi bisnis, grup multigenerasi tersebut lebih fokus kepada keberlanjutan, kualitas, dan dampak sosial yang diberikan.
“Misi yang kami emban akan tetap sama, yakni menumbuhkan profesional kelas dunia yang memiliki tujuan dan passion. Tanggung jawab untuk mengajar, memberdayakan, dan menciptakan peluang yang berdampak lintas generasi akan terus berlanjut,” tutur Arie, sapaan akrab Made Ariani.

Berakar dari Keinginan dan Mimpi
Menjelang senja, dapur BITDeC masih mengepul dengan asap tipis dan aroma tajam bumbu dari wajan. Ketika saya berkunjung ke tempat tersebut, para siswa tengah dalam praktik harian pembuatan hidangan.
Mereka lincah memotong sayuran, lalu mencampurkannya ke dalam bumbu halus yang sudah harum itu. Salah satu yang berada di sana adalah Wayan Sudiarta, seorang siswa dari program Professional Chef Culinary Batch XI.
Wayan, sapaannya, berasal dari Buleleng dan memiliki mimpi untuk menjadi seorang koki. Beruntung, yayasan tempatnya bernaung memiliki koneksi yang dapat menghubungkannya ke BCPS untuk mendapatkan beasiswa. Wayan lantas menjalani seleksi yang cukup ketat untuk membuktikan kelayakannya mendapatkan beasiswa.
Dalam proses seleksi tersebut, dia harus menegaskan ambisi dan keinginannya untuk belajar memasak.
“Sehabis aku SMA, aku kerja langsung menjadi pelayan meja (waiter). Setelah kerja selama satu tahun, aku dikontak oleh yayasan bahwa ada tawaran sponsor dari BCPS. Sebelumnya, aku enggak tahu BCPS ini seperti apa, jadi setelah mencari informasi. Aku baru mengikuti seleksi dan akhirnya lolos. Senang sekali karena passion aku ada di sini,” kata Wayan.
Meskipun demikian, ketika masuk ke BCPS, Wayan harus tetap beradaptasi dengan lingkungan pendidikannya. Dalam pendidikannya, dia harus belajar dengan intens dari instrukturnya, baik dari segi bahasa asing maupun teknik memasak.
Namun, karena intensnya pendidikan pula, Wayan mampu mengerti dasar-dasarnya dalam waktu satu tahun.
“Apa yang bisa aku ubah dari diri aku adalah disiplin. Disiplin di sini sangat memengaruhi aku. Sekarang, jadi bisa tepat waktu (in time) dan tentu saja kemampuan masak yang aku dapatkan dan cara berbicara di depan publik yang makin lancar,” terangnya.
Wayan bercerita, beberapa waktu yang lalu dia sempat mendapatkan kesempatan untuk melakukan magang di Amankila, salah satu hotel mewah di Kabupaten Karangasem. Dengan senyum semringah, dia mengungkapkan kesempatannya untuk menyajikan hidangannya kepada pemain bola ternama, Zlatan Ibrahimović.

“Itu seru sekali karena artis besar yang pengen banget kita ketemu, apalagi aku suka sepak bola. Sebenarnya, semua tamu itu penting, tetapi yang ini lebih menyentuh. Buat aku, meskipun ada pressure karena (memasak untuk) idola, ini seru banget,” ucap Wayan.
Di sisi lain, Natasha Rachel, alumni yang mengikuti Industry Access Program Batch V bercerita bahwa dia belum menyadari kemampuannya untuk memasak hingga menempuh pendidikan di BCPS. Saat ini, dia dipercaya menjadi Assistant Chef Instructor dan salah satu tim dalam pembukaan Kōro Bali di akhir November 2025.
Rachel merantau dari Bandung ke Tabanan untuk belajar di BCPS. Dari kegigihannya semasa menuntut ilmu, dia diberi kesempatan untuk belajar di Prancis, bahkan sempat memperkenalkan kuliner Indonesia, yakni sate ayam, di minggu terakhirnya berada di sana.
Setelah kembali, dia memutuskan untuk memberi kontribusinya kembali kepada tempat belajarnya dahulu.
“Saya bersyukur bisa kembali dan mendukung siswa yang memulai perjalanan yang sama seperti yang pernah saya tempuh. Ke depannya, saya akan memulai perjalanan baru di Kōro. Saya akan bantu Kōro dulu, belajar di sana. Senangnya di lingkungan Nyanyi ini, kita terus berkembang dan enggak ada kata berhenti untuk belajar,” kata Rachel.
Merawat Ekosistem Kabupaten Tabanan
Secara umum, ekosistem di Bali dilandaskan pada beberapa konsep tradisional yang mengakar sejak zaman dahulu. Misalnya, Tri Hita Karana (tiga hubungan harmonis) dan Sad Kerti (enam prinsip untuk menjaga keseimbangan alam semesta). Prinsip tersebut memungkinkan manusia untuk berhubungan baik dengan Tuhan yang menciptakan semesta, sesama manusia, dan lingkungan tempat tinggal.
Nilai-nilai ini, sebut Anastasia Sulistyawati, Co-Founder BITDeC, memberikan arah dalam setiap langkah, mulai dari desain ruang, proses pendidikan, pengolahan makanan, hingga pengelolaan kawasan.
“Semuanya kami lakukan dengan satu tujuan, yaitu membangun ekosistem yang tumbuh, maju, tetapi tetap sakral dan menyatu dengan alam lingkungan. Kami ingin Nyanyi Bali menjadi contoh bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan akar budaya dan nilai lingkungan,” terang Anastasia.
Jika dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya, seperti Pantai Berawa dan Canggu, lokasi Banjar Nyanyi memang belum terlalu dikenal. Namun, melihat hijaunya hamparan padi dan suasana tenang khas pedesaan, Banjar Nyanyi diyakini bakal jadi destinasi yang tepat untuk investasi properti dan pariwisata.
Apalagi, tren saat ini menunjukkan bahwa pergerakan investor di Bali cenderung mengarah ke barat dan mengincar tempat strategis yang terhubung dengan pusat kota.
Meskipun beragam properti sedang dibangun di kawasan Banjar Nyanyi, tetapi Nyanyi Bali berupaya untuk menjaga ekosistemnya dapat hidup berdampingan. Misalnya, ekosistem petani dan subak yang masih eksis di wilayah Banjar Nyanyi, serta pesisir Pantai Nyanyi yang masih belum banyak dijamah investor.
Salah satu bisnis properti mereka, N Residence, dikonsepkan sebagai investasi jangka panjang agar generasi berikutnya dapat mewarisi tanah beserta komunitas sekaligus.
“Kami ingin tetap mempertahankan sawah. Konsep kami adalah kepadatan rendah (low density), serta mempertahankan beberapa tempat natural dan terbuka. Kami ingin membangun masa depan yang menghormati budaya, menguatkan masyarakat, dan menjaga lingkungan. Ini bukan pembangunan semata, tetapi upaya membangun komunitas untuk puluhan tahun ke depan,” jelas Astari.

Astari mengklaim Nyanyi Bali menerapkan responsible development atau pengembangan yang bertanggung jawab. Aksi dari responsible development tersebut dituangkan dalam bentuk upcycle (mengubah bahan limbah menjadi produk baru dengan nilai lebih tinggi), komposter, dan pengelolaan limbah dengan basis daur ulang (recycling).
“Kami baru mulai tahun lalu, yang awalnya sampah semua itu kami tidak ada pemilahan dan buang semuanya ke TPA, tetapi dari inisasi awal sampai sekarang itu, kami melihat adanya dampak positif dari pemilahan. Sejak adanya pemilahan itu, kontribusi kami ke landfill sekarang sudah sangat menurun, yakni 26 persen saja yang kami buang ke TPA,” kata Astari.
Menapaki dekade baru, Nyanyi Bali menegaskan untuk memilih jalur yang lebih terarah dengan berlandaskan komunitas dan orientasi jangka panjang. Pada 2026, Nyanyi Bali mengusung tema “A Legacy of Stewardship” dengan misi menumbuhkan masa depan Bali yang berkelanjutan, melalui pengembangan manusia dan kelestarian alam.
“Seluruh inisiatif kami berawal dari keyakinan bahwa sebuah tempat harus berkembang seiring akar budaya dan ekologi. Kami melihat juga banyak pembangunan-pembangunan di Bali yang berkualitas. Kami ingin membuktikan bahwa kami orang Indonesia dan dari Bali, dan kami bisa membangun sesuatu yang baik,” jelas Astari.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































