Narsis: Alasan Selebritas Percaya Konspirasi COVID-19

Penyanyi Anji saat ditemui di Jakarta, Selasa (7/7/2020). ANTARA/Yogi Rachman/aa.
Oleh: Aditya Widya Putri - 13 Agustus 2020
Dibaca Normal 4 menit
Individu dengan tingkat narsisisme tinggi cenderung percaya pada konspirasi karena kebutuhan untuk terlihat berbeda.
Di Indonesia kita punya Anji, Luna Maya, Jerinx, Deddy Corbuzier, dan sederet nama tenar lain yang muncul sebagai anomali ketika menyikapi pandemi COVID-19. Kalau saja saling kenal dengan Madonna atau Wiz Khalifa, mungkin mereka akan membentuk perkumpulan sebesar kelompok anti-vaksin atau penganut bumi datar.

Ada satu pertanyaan yang mungkin sama-sama kita dibuat penasaran. Tentang mengapa teori-teori antitesis kerapkali diyakini oleh orang-orang kenamaan ini. Padahal mereka tak bisa dibilang “kurang” jika dipandang dari segi pendidikan formal dan ekonomi, apalagi akses terhadap informasi.

Tapi beragam macam hoaks terlanjur masuk ke dalam otak. Sebut saja ketika Luna Maya dengan ceroboh mengundang seorang dokter hewan, Moh Indro Cahyono mempromosikan soal entengnya infeksi COVID-19.

“Korban yang meninggal itu belum pernah ada satu pun yang meninggal hanya karena COVID-19, biasanya karena ada komplikasi medis,” demikian ringkasan dari hasil bincang-bincang mereka.

Kemudian ada Deddy Corbuzier yang beberapa kali mengundang narasumber random untuk mengomentari pandemi ini.

Sebut saja Mardigu yang berlatar belakang sebagai pebisnis atau rapper sensasional Young Lex. Pernah sekali waktu Deddy agak “lempeng” karena mewawancarai seseorang dengan latar belakang kesehatan, yakni Siti Fadilah Supari.


Tapi lagi-lagi obrolan antara mantan pesulap dan mantan Menkes yang didakwa atas kasus korupsi alat kesehatan ini melenceng dari fakta. Siti menyebut COVID-19 tidak lebih mematikan dari virus flu burung. Padahal flu burung tidak masif menular dari manusia ke manusia, dan vaksinnya diperuntukkan buat unggas.

Klaim bombastis lain dari Siti adalah penolakannya untuk mengirim sampel virus flu burung ke WHO. Memang, Indonesia sempat berhenti mengirim sampel, tapi pada 2007 sampel H5N1 Indonesia kembali masuk laboratorium WHO.

Wawancara ini memuncul gerakan “I believe in Siti Fadilah” yang juga digaungkan oleh rekan selebritas mereka seperti Rina Nose, Anji, dan Jerinx.

Belakangan, musisi Anji juga gencar memberi opini soal kejanggalan foto jenazah COVID-19. Kasus yang paling fatal adalah mewawancarai Hadi Pranoto, seseorang yang ia anggap profesor, ahli mikrobiologi, yang mengklaim telah menemukan penawar COVID-19--dan telah digunakan oleh Ratu Elizabeth II.

Sementara masyarakat pelan-pelan dibuat percaya pada hasil wawancara, menyepelekan virus COVID-19 dan, mengabaikan protokol kesehatan, Anji, Deddy, dan Luna lepas tangan ketika terbukti menyebarkan hoaks. Mereka bebas berlindung di balik pledoi “hanya sebagai pewawancara”.


Andil Selebritas dalam Distribusi Hoaks COVID-19

Di jagat teori konspirasi COVID-19, Luna Maya adalah Madonna. Sementara Anji, Jerinx, Deddy, dan kawan-kawannya bisa disetarakan dengan Lewis Hamilton, John Cusack, Woody Harrelson, dan Wiz Khalifa. Apa persamaan kesemuanya?

“Punya tingkat narsisme yang tinggi,” begitulah kiranya sebuah jurnal Social Psychological and Personality Science (SPPS) (2015) menyimpulkan sifat orang-orang yang percaya teori konspirasi.

Jika Luna atau Mardigu bicara soal infeksi COVID-19 yang menurut mereka dibesar-besarkan, Queen of Pop Madonna percaya bahwa vaksin COVID-19 tengah disembunyikan. Hakikat pesannya sama dengan yang dibawa penganut konspirasi COVID-19 lainnya: COVID-19 dan vaksinnya dibuat untuk bisnis semata.

“Mereka lebih suka membiarkan rasa takut, mengendalikan masyarakat, dan membiarkan orang kaya menjadi lebih kaya, sementara yang miskin jadi makin miskin,” unggahnya dalam keterangan sebuah video di Instagram.

Sementara pembalap Formula Satu Lewis Hamilton, John Cusack, Woody Harrelson, dan Wiz Khalifa turut mendistribusikan hoaks yang menghubungkan COVID-19 dengan teknologi 5G. Ada alasan yang bisa menjawab pertanyaan mengapa selebritas cenderung percaya teori konspirasi.

Menurut artikel yang diterbitkan jurnal SPPS, individu dengan tingkat narsisisme tinggi punya kebutuhan untuk merasa unik. Mereka cenderung ingin tampil beda, umumnya dengan meninggikan diri sendiri dan merendahkan kelompok lain.

Dalam kasus ini konteksnya berputar pada narasi bahwa dunia–atau orang kebanyakan–tengah dibodohi oleh WHO, Bill Gates, perusahaan farmasi, dan para tenaga kesehatan. Informasi yang lumrah diulang-ulang dalam pola penyebaran hoaks. Persis seperti hasil pengolahan sampel informasi dari Reuters Institute.

“Sebagian besar (59 persen) sampel kesalahan informasi melibatkan berbagai konfigurasi ulang. Informasi yang benar diplintir, dikontekstualisasikan, atau digoreng. Sementara misinformasi lainnya (38 persen) salah total,” demikian hasil ringkasan studi yang dilakukan Januari hingga akhir Maret 2020.

Keterlibatan tokoh-tokoh publik terkemuka seperti selebritas dan politisi dalam distribusi hoaks COVID-19 memang sedikit. Setidaknya dalam penelitian ini mereka hanya menyumbang 20 persen sampel. Tapi mereka memberi gelombang keterlibatan media sosial sebanyak 69 persen.

Meski sebagian besar informasi salah di media sosial berasal dari masyarakat biasa, mereka hanya memberi sedikit dampak keterlibatan dalam media sosial. Sebagian besar (39 persen) klaim sesat yang beredar menyoal tentang kebijakan otoritas publik, termasuk badan pemerintah dan internasional layaknya WHO atau PBB.


Memilah Narasumber di Belantara Informasi Palsu

Dari Luna Maya, Deddy, hingga Anji yang mencuat dengan wawancara kontroversial mereka, muncul wacana menerbitkan kode etik bagi influencer. Pasalnya ketika terbukti menyebarkan informasi salah, mereka dengan enteng berdalih berposisi netral sebagai pewawancara, bukan pemberi informasi.

Padahal informasi jelas butuh media sebagai ruang distribusi, dan para selebritas ini dengan senang hati menyediakannya–mungkin demi pundi-pundi AdSense atau sekadar narsis saja. Andai mereka paham kontennya hanya menambah lebat belantara informasi yang sudah gelap.

Ambil contoh dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengusulkan suntik desinfektan untuk perangi COVID-19. Buletin American Association of Poison Control Center (AAPCC) mencatat peningkatan kejadian keracunan desinfektan paska-pernyataan dilontarkan (23 April 2020).

Angkanya yang semula hanya 3.401 di bulan Maret menjadi 3.609 di bulan April. Jika dibandingkan periode tahun sebelumnya (April 2019) peningkatan keracunan desinfektan naik 121 persen. Meski statistiknya menurun di bulan Mei, namun tetap saja lebih tinggi 69 persen dari Mei 2019.

Kemudian studi terbatas di Irlandia melalui TheJournal.ie juga mencatat paparan informasi salah bertanggung jawab pada dua perubahan dari empat perilaku sehat sampel. Salah satu perilakunya adalah enggan mengunduh aplikasi pelacakan kontak COVID-19 akibat takut aktivitas pribadi diawasi pemerintah.



Parahnya penelitian Jurnal Science (2018) membuktikan bahwa berita bohong menyebar jauh lebih cepat dibanding berita terpercaya. Satu persen hoaks paling populer menyebar ke seribu hingga 100 ribu orang, sementara informasi valid jarang menyentuh lebih dari seribu orang.



Tapi orang-orang seperti Luna Maya, Deddy Corbuzier, Anji, dan kawan-kawannya tak peduli hal itu. Bagi mereka yang terpenting ada penyambung lidah yang bisa digunakan sebagai alat penyaji konten. Tak perlu pilah-pilah narasumber, yang penting visi dan misi pribadi sukses disampaikan.

Memang, mereka bukan profesional yang bisa dituntut menerapkan kode etik jurnalistik ketika melakukan wawancara. Jadi lebih baik kita sendiri yang melakukan filtrasi apabila nanti muncul selebritas lain dengan pola serupa dalam menyebarkan hoaks.

“Bisa cek sendiri reputasi informan dengan banyak cara. Gunakan Google Scholar untuk tracking karya berupa buku, artikel, atau paten,” saran Berry Juliandi, Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) sekaligus dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam upaya filtrasi tahap awal.

Kemudian gunakan sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT) untuk mencari latar belakang almamater. Jika dirasa kurang, lanjut beralih ke basis data Internasional seperti Scopus atau PubMed. Tapi, yang terpenting memang fasilitas penangkal hoaks yang langsung diampu pemerintah, tak sebatas website.

Percayakan masalah kesehatan Anda pada ahlinya. Bukan kepada seorang artis, musisi, apalagi mantan pesulap. Seekor monyet tentu tak lihai berenang, begitu juga ikan yang tak bisa memanjat.

Baca juga artikel terkait HOAKS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight