Periksa Fakta

Hoaks & Fakta Soal Antibodi dan Jumlah Kematian Akibat COVID-19

Oleh: Irma Garnesia - 17 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Informasi terkait antibodi dan jumlah kematian karena COVID-19 banyak beredar di media sosial dan aplikasi pesan instan. Apakah informasi tersebut akurat?
tirto.id - Informasi yang tersebar terkait "virus corona yang diklaim palsu" sudah banyak dan kerap beredar. Demikian pula klaim yang menyebut tidak adanya kematian yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini. Informasi ini salah satunya diunggah oleh akun Facebook Sony H. Waluyo (arsip) yang dibagikan pada 8 Juli lalu.

Unggahan akun Sony tersebut menyebutkan analisis Dr. Andrew Kaufman terkait COVID-19. Berikut potongan pesannya:

Munculnya analisa Dr Andrew Kaufman yang adalah ahli biologi molekuler tentang covid menguak tabir rekomendasi WHO yang dinyatakan tidak akurat sehingga identifikasi dan penangangannya menjadi tidak proporsional dan tentu saja malah menciptakan kegaduhan yang berbuntut banyak masalah ruwet.
Dr Andrew Kaufman menyatakan sampel uji covid tidak dimurnikan sehingga ada kekeliruan identifikasi antara virus dengan exosome yang adalah materi genetik antibody. Inilah mengapa tes covid sering merujuk pada antibody reaktif sebagai acuan untuk deteksi infeksi virus.
Tentu saja hasilnya menjadi sering meleset sebab antibody reaktif dapat timbul karena berbagai sebab dan bukan hanya karena oleh covid. Akibat dari terluka, flu biasa, gangguan bakteri dll tentu sudah sewajarnya akan memicu antibody reaktif.
Oleh karena itu tak perlu heran jika banyak orang yang dites positif tidak menunjukkan gejala sakit parah dan bahkan dengan istirahat dan berbagai obat segera pulih kembali.

Selain dari Kaufman, Sony juga mengutip situs Zaidpub yang berisi informasi tentang Dr. Stoian Alexov, ahli patologi di Eropa. Dalam unggahannya, akun Sony menyebutkan bahwa Alexov menuduh WHO sebagai "organisasi medis kriminal ... tanpa memberikan bukti wabah yang dapat diverifikasi dan obyektif."

Artikel Zaidpub berjudul "No One Has Died From The Coronavirus" tersebut memaparkan bagaimana Alexov membuktikan bahwa ahli patologi di Eropa tidak menemukan antibodi monoklonal terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Dengan demikian, keberadaan SARS-CoV-2 dalam tubuh tidak mungkin diverifikasi. Alexov menyimpulkan vaksin COVID-19 tidak mungkin untuk diciptakan.


Penelusuran Fakta

Pemeriksaan fakta ini akan berfokus pada klaim terkait antibodi, angka kematian akibat COVID-19, serta latar belakang kedua ahli yang disebutkan dalam unggahan akun Sony.

Melalui mesin pencarian Google, Tirto tidak menemukan informasi pasti terkait Dr. Andrew Kaufman. Kami juga tidak menemukan website milik Kaufman. BBC menyebut bahwa Kaufman pernah mengunggah video yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap lockdown dan vaksinasi. Video itu saat ini telah diturunkan oleh YouTube karena melanggar aturan komunitas platform tersebut.

Dalam artikel periksa fakta Reuters, Kaufman juga disebutkan mengeluarkan beberapa klaim salah terkait vaksin COVID-19. Ia menyatakan bahwa vaksin nantinya akan memodifikasi gen manusia.

Mengutip laman Biotechprimer, vaksin DNA melibatkan injeksi dari sebagian kecil kode genetik virus (DNA atau RNA) untuk merangsang respons kekebalan pada pasien tanpa infeksi. Prosedur ini tidak menciptakan organisme yang dimodifikasi secara genetis. Informasi dari Kaufman juga dinyatakan salah oleh Mark Lynas, peneliti di Cornell University. Menurutnya, seperti ditulis Reuters, vaksin DNA tidak dapat memodifikasi organisme dan tidak ada vaksin yang dapat memodifikasi manusia secara genetik.

Sementara itu, Dr. Stoyan Alexov merupakan ahli patologi di National Oncology Hospital di Bulgaria. Klaim Alexov ini pertama kali dipublikasikan di situs off-guardian.org. Menurut Media Bias Fact-check, OffGuardian termasuk situs konspirasi.

Klaim yang dipaparkan Alexov, yang juga dipublikasikan oleh Zaidpub, telah disanggah oleh Ian Lipkin, Profesor Epidemiology di Mailman School of Public Health di Columbia University dalam situs Health Feedback.

Selain itu, masih dari Health Feedback, jumlah pasien meninggal disebabkan oleh COVID-19 dapat dibuktikan melalui penghitungan tingkat kematian pada 2020 yang ternyata memang lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya ketika pandemi belum terjadi.

Di Jakarta, Indonesia, misalnya, pada periode Maret, April, dan Mei saja terdapat lebih dari 4.700 pemakaman, mengutip BBC. Padahal, dari pemantauan pada 2011 hingga 2014 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kematian di Jakarta hanya sekitar 6.000 hingga 7.000 jiwa tiap tahunnya. Temuan yang dituliskan oleh BBC menunjukkan lonjakan besar dari kematian rata-rata di Jakarta tiap tahunnya.

Laporan Financial Times juga menunjukkan tingkat kematian yang lebih tinggi di Belgia, Perancis, dan Italia dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mengutip Health Feedback, angka kematian yang tinggi juga ditemukan di Amerika Serikat.


Lebih lanjut, Alexov menyatakan, tidak ada antibodi spesifik novel-coronavirus yang ditemukan. Padahal, sejumlah penelitian telah melaporkan penemuan antibodi yang berikatan secara spesifik dengan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, juga antibodi yang melawan SARS-CoV-2 pada pasien yang telah terinfeksi.

Klaim selanjutnya dari Alexov, tubuh membentuk antibodi khusus terhadap patogen yang dihadapinya. Antibodi spesifik ini dikenal sebagai antibodi monoklonal. Namun, deskripsi ini tidak akurat. Ketika berhadapan dengan virus baru, tubuh membutuhkan sekitar 15 hari untuk membuat cukup antibodi. Dengan bantuan Memory B-cells, tubuh akan mengenali virus/patogen tersebut, sehingga jika kita terinfeksi virus yang sama, tubuh dalam memproduksi antibodi dalam waktu yang lebih singkat.

Antibodi ini dapat membantu sel-sel lain dari sistem kekebalan tubuh mengenali dan menghancurkan patogen. Dalam kasus infeksi virus, antibodi juga dapat mengikat virus untuk mencegah virus menginfeksi sel.

Istilah "monoklonal" menunjukkan bahwa antibodi berasal dari klona sel B yang sama. Ketika sel B membelah, sel-sel putrinya digambarkan sebagai klona. Antibodi yang dihasilkan oleh klona dari sel B yang sama digambarkan sebagai antibodi monoklonal.

Di sisi lain, antibodi poliklonal yang diproduksi oleh klona sel B yang berbeda mengikat ke situs pengikatan antigen yang berbeda pada patogen yang sama. Mengingat tubuh secara alami mengandung banyak klona sel B yang berbeda, kumpulan antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap patogen akan menjadi poliklonal secara natural, bukan monoklonal.


Kesimpulan

Dengan pemaparan fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa klaim-klaim yang disampaikan Dr. Andrew Kaufman dan Dr. Stoyan Alexov bersifat salah, tidak akurat dan menyesatkan.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight