Naik Turun Keuntungan Film Lebaran

Oleh: Suhendra - 5 Juli 2016
Dibaca Normal 5 menit
Lebaran telah tiba. Momentum libur lebaran yang relatif panjang biasa dipakai sebagai waktu tepat untuk berkumpul bersama kerabat dan sanak saudara. Pusat hiburan dan tempat wisata biasanya jadi tempat merekatkan kebersamaan. Tak terkecuali bioskop-bioskop.
tirto.id - Jumlah penonton saat libur lebaran biasanya memang membludak. Bioskop jadi pelampiasan bagi orang kota yang enggan bermacet-macet ria menuju ke tempat wisata. Wajar jika momentum ini selalu dimanfaatkan para produser film lokal untuk merilis film-film terbaru mereka.

Bobby Batara, jurnalis dan pengamat film mengungkapkan kesadaran produser untuk memanfaatkan momentum Hari Raya sudah terjadi sejak dahulu. Salah satu film popular yang sering dirilis menjelang Hari Raya adalah film-film komedi Warkop DKI. Di saat film Indonesia mati suri, film lebaran pun semakin tenggelam.

Sebelum kebangkitan film lokal kembali pada awal tahun 2000, momen lebaran pun belum juga diperhitungkan sebagai waktu yang tepat untuk merilis film. AADC dirilis Februari 2002, dua bulan setelah lebaran dan Petualangan Sherina dilepas saat momen liburan sekolah di bulan Juni tahun 2000.

“Sejauh itu, hingga beberapa tahun sesudahnya, belum ada produser yang cukup lihai untuk membaca hari libur lebaran sebagai momen yang tepat untuk melansir produknya,” kata Bobby dalam kolomnya di Jakartabeat.com.

Selalu belajar dari tahun sebelumnya

Produser yang sadar akan memanfaatkan momentum libur lebaran adalah Ram Soraya saat merilis film Eiffel I’m in Love pada 2003 silam. Film ini sebenarnya dirilis empat hari sebelum Idul Fitri yang jatuh pada 24 November 2003.

Film yang dibintangi Shandy Aulia dan Samuel Riza ini adalah film pertama pasca 2000-an yang meneguk untung saat libur lebaran. Pada masa itu, film besutan sutradar Rachmania Arunita ini berhasil jadi film terlaris dengan 3,3 juta penonton mengalahkan film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta.

Bagi Ram, kesuksesan Eiffel I’m in Love adalah kejutan. Dia tak mengira momentum lebaran bisa dimanfaatkan. Ingin mengulang kesuksesan, Ram pun menerapkan pola yang sama pada film Apa Artinya Cinta tahun 2005. Kali ini jadwal rilis dipepetkan lebih dekat menjadi H-1 lebaran.

Agar lebih sukses Bobby mengatakan, Film yang lagi-lagi dibintangi Shandy Aulia dan Samuel Riza ini dipromosikan secara besar-besaran oleh Ram saat bulan Ramadan. Pemasangan iklan di badan bis dan billboard dilakukan di seantero ibukota.

Tak pelak, publik dibuat penasaran dan hasilnya cukup bagus, meskipun masih kalah dari Eiffel I'm in Love. “Perhitungan dinasti Soraya nyatanya benar. Film drama racikannya sukses dan menjadikan tradisi film lebaran selalu disambut meriah oleh penonton,” kata Bobby.

Setahun kemudian, pada film lebaran 2006, giliran Raam Punjabi lewat MVP Pictures yang melakukan eskperimen dengen melempar film horor bertajuk Kuntilanak. Film arahan Rizal Mantovani berlari sendirian karena tak ada film Indonesia yang peka akan momentum ini. Alhasil, sejuta pasang mata lebih jadi penonton.

Menurut Bobby, tahun 2006 adalah tahun terakhir di mana film lebaran muncul hanya satu judul di pasaran. Setelah itu, para produser kelas kakap mulai melirik momen ini. Pertarungan antar pemain besar pun terjadi.

Pada libur lebaran 2007, kesuksesan film horor Kuntilanak ditiru oleh banyak rumah produksi. Selain munculnya sekuel Film Kuntilanak 2, film Pocong 3 (Monty Tiwa) dan Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko) dirilis dekat-dekat lebaran. Muncul pula film genre komedi Get Married yang disutradari Hanung Bramantyo. Berkah lebaran film-film di atas masuk dalam 10 film terlaris 2007.

Get Married bahkan jadi film terlaris dengan 1,3 juta penonton. Faktor cerita yang ringan dan bisa ditonton seluruh keluarga jadi penyebab utama Get Married laris saat libur lebaran.

Kejenuhan orang akan cerita horor yang begitu-begitu saja. Membuat tren film lebaran berubah pada 2008. Cakupan target pasar di buat lebih luas dan menyasar keluarga. Tercatat enam judul film nasional bertarung diantaranya adalah Barbie, Chika, Cinlok, Laskar Pelangi, Suami-suami Takut Istri dan Kantata Takwa.

Sang juara utama adalah Laskar Pelangi. Melepas Laskar Pelangi di momen lebaran amatlah tepat. Banyak orang yang berbondong-bondong membawa seluruh anggota keluarganya untuk menonton film ini. Film besutan Riri Reza ini ditonton lebih dari 4,5 juta penonton membuat rekor penonton terbanyak pecah.

Kesuksesan cerita Laskar Pelangi yang lebih mengeksploitasi mimpi dan motivasi ditiru pada libur Lebaran 2009 lewat film animasi anak-anak, Meraih Mimpi.

Namun, hasilnya tak sebaik-baik film bergenre komedi seperti Get Married 2 (Hanung Bramatyo) dan Preman in Love yang dibintangi Tora Sudiro. Momen lebaran yang islami pun berhasil mengeret film Ketika Cinta Bertasbih 2 (Chaerul Umam) laku keras.

Bosan melulu laku film komedi, Hanung Bramantyo bereksperimen lewat film sejarah Sang Pencerah pada 2010, hasilnya cukup bagus dengan 1,3 juta penonton. Tema serupa dilepas Media Desa lewat trilogi film Darah Garuda.



Terus Turun Sejak 2010

Setelah 2010, animo orang terhadap film lebaran datar-datar saja. Tak ada lagi film yang berhasil memperoleh lebih dari sejuta penonton. Pada 2011, dari lima film yang beredar hanya tiga film yang memperoleh kisaran 500 ribu penonton yakni Get Married 3 (563.942 penonton), Di Bawah Lindungan Ka’bah (520.267 penonton) dan Tendangan Dari Langit (491.077 penonton).

Tahun 2012, hanya Perahu Kertas yang memperoleh di atas 500 ribu penonton. Detailnya 596.231 penonton. Lantas ketiga film sisanya yaitu Cinta Suci Zahrana, Brandal-brandal Ciliwung, Tanah Surga anjlok hanya mampu mendapat kurang dari 100 ribu penonton.

Semua sepakat bahwa Hanung adalah sutradara spesialis film lebaran. Banyak filmnya yang laku pada momen ini seperti sekuel Get Married, Tendangan dari Langit dan Sang Pencerah. Namun, hal itu tak terjadi pada 2013. Sekuel keempat Get M4rried tak selaris para pendahulunya. Jangankan satu juta penonton, untuk 500 ribu penonton saja tak sanggup dan hanya mampu mendapatkan 313.390 penonton.

Dua film lebaran lainnya seperti La Tahzan dan Moga Bunda Disayang Allah sama-sama juga tak menarik banyak minat orang. Saking rendahnya jumlah penonton film lebaran pada 2013, jaringan bioskop Grup 21 bahkan meski mempercepat jadwal tayang film Crazy Love yang mestinya 22 Agustus menjadi 15 Agustus 2013.

Kepayahan mencapai label box-office diperpanjang pada tahun berikutnya. Pada 2014, ada lima film Indonesia yangs serempak dirilis: Hijrah Cinta, Bajaj Bajuri The Movie, Runaway, Seputih Cinta Melati, dan Kamar 207.

Untungnya hasil pada 2014 lebih baik ketimbang 2013. Meski gagal meraih satu juta penonton, Hijrah Cinta berhasil menarik minat 711.671 pasang mata. Film yang mengambil kisah hidup Ustad Jefry al Bukhari alis Uje ini memang diminati oleh kalangan ibu-ibu pengajian. Di bawah Hijrah Cinta ada Bajaj Bajuri The Movie yang mendapat 460.779 penonton.

Bangkit Lagi Pada 2015


Kevakuman selama lima tahun gagal merengkuh box-office itu akhirnya pecah pada tahun lalu. Tak tanggung, dua film sekaligus, Surga yang Tak Dirindukan dan Comic 8: Casino Kings Part 1 berhasil merengkuh title itu.

Surga yang tak dirindukan berhasil mendapat 1.523.617 penonton membuat mereka jadi film terlaris pada 2015. Maklum film mengangkat kisah poligami dibalut cerita Islami ini pas dinaikan saat momentum lebaran. Terlebih cerita film diadaptasi dari novel Asma Nadia yang populer sebagai novelis cerita-cerita roman islami.

Di peringkat dua duduk, film Comic 8: Casino Kings Part 1 dengan raihan 1.211.820 penonton. Tak biasanya Anggy Umbara merilis film saat lebaran. Terlebih sejak 2005, tak ada film bergenre full komedi yang dirilis ketika momen lebaran. Get Married lebih cenderung mengeksploitasi komedi-romantis. Kesuksesan Comic 8 merupakan repetisi dari kesuksesan Warkop DKI di zaman dulu. Dan Angga jeli akan hal ini.

Kesuksesan dua film di atas tak merembet ke Hanung Bramantyo. Setelah kegagalan Get M4rried di 2013, Hanung memilih jeda setahun sebelum merilis Get Married 5 pada 2015 lalu. Hasil Get Married 5 pun ternyata tak memuaskan hanya berhasil meraup 300 ribu penonton.

Jadi sebuah pertanyaan menarik apakah film lebaran pada tahun ini akan sesukses tahun lalu? Kans untuk mengarah ke sana amatlah terbuka lebar. Film-film Hollywood yang akan muncul bersamaan ketika lebaran nanti adalah Independence Day Resurgence, The Legend of Tarzan, Star Trek Beyond dan Ghostbusters Reboot. Antusiasme orang terhadap film-film di atas biasa saja, tak seheboh seperti film-film superhero ciptaan Marvel atau DC.

Film lebaran tahun ini akan menayangkan lima film yakni Koala Kumal, Rudy Habibie, Jilbab Traveler, ILY from 38.000 feet dan Sabtu Bersama Bapak. Tiga nama disebut di awal diprediksikan mampu mendulang banyak penonton.

Koala Kumal adalah film yang dibintangi Raditya Dika. Selama ini film komedi-romantis yang dibintangi Raditya Dika selalu laku di kalangan remaja. Koala Kumal adalah film pertama Raditya Dika yang dirilis di hari lebaran. Jika mengacu capaian Comic 8 tahun lalu yang banyak dibintangi para stand-up komedian, dengan meniru format sama, film Koala Kumal minimalnya bisa mencapai separuh dari jumlah penonton Comic 8.

Film kedua yang diprediksi populer adalah Rudy Habibie. Film ini merupakan sekuel kedua dari Habibie-Ainun. Pada sekuel pertama MD Picture berhasil mengumpulkan 4,5 juta penonton – film terlaris kedua setelah Laskar Pelangi. Kans untuk mengarah ke sana amatlah terbuka lebar. Mengingat naskah cerita ditulis oleh penulis yang sama, Gina S. Noer.

Mesti dibumbui romantisme cinta Habibie saat usia muda, film ini sarat dengan motivasi karena mengangkat kisah jatuh bangun Habibie saat menempuh pendidikan di Jerman. Film ini dikabarkan digarap dengan serius. MD Pictures mengklaim ini adalah film termahal yang mereka produksi.

Screening film di lakukan berbarengan dengan perayaan ulang tahun BJ Habibie ke-80. Acara ini berlangsung di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Sabtu (25/6). Banyak tokoh-tokoh politik yang hadir. Seperti Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Fadli Zon, serta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Rudy Habibie disutradarai oleh sutradara spesialis film lebaran, Hanung Bramantyo. Setelah sekian lama, Hanung tampaknya akan kembali mendapat pundi-pundi uang lebih saat lebaran nanti.

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight