Pemilu Serentak 2024

Motif di Balik Upaya Golkar Menggaet Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

Oleh: Alfian Putra Abdi - 15 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Upaya menggaet Ganjar Pranowo dinilai hanya strategi marketing politik Golkar saja untuk menciptakan panggung jelang Pemilu 2024.
tirto.id - Sejumlah partai politik mulai melakukan manuver menjelang Pemilu 2024. Partai Gerindra misal kembali mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai bakal capres 2024. Meski ia sudah gagal tiga kali pada pemilu sebelumnya, tapi para pendukung optimistis menteri pertahanan era Presiden Jokowi itu meraih dukungan suara rakyat.

Terbaru adalah manuver Partai Golkar. Wakil Ketua Umum DPP Golkar Nurdin Halid membuka peluang bagi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bergabung. Partai berlambang pohon beringin itu bersedia memasangkan Ganjar dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024.

“Kalau Ganjar tidak ada tempat di partainya [PDIP]. Golkar terbuka. Apakah jadi nomor 1 atau nomor 2. Itu soal nanti,” ujar Nurdin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/11/2021).

Bahkan Nurdin mengaku siap seandainya Ganjar ingin menjadi kader partai beringin tersebut. “Ini ada rumah baru. Tapi ketika kita masuk sebuah rumah baru, tidak jual kontrak. Jangan menjadi pemilik. Bersama-sama dulu baru menjadi pemilik,” ujar Nurdin.

Nurdin yakin partainya bisa tembus Pilpres 2024. Dan hanya butuh koalisi dengan satu partai saja untuk menembus ambang batas presiden 20 persen. Tak seperti partai lain yang mesti berkoalisi dengan banyak partai; kecuali PDIP yang sudah memiliki suara di atas ambang batas.

Ganjar sendiri belum mengantongi restu dari PDIP untuk melangkah mencalonkan diri sebagai capres. Namun, sejumlah organisasi relawan telah bermunculan terang-terangan menyampaikan dukungan kepada gubernur Jateng itu untuk maju dalam Pilpres 2024. Deretan pentolan para relawan ini di antaranya merupakan loyalis Presiden Jokowi dan beberapa kader PDIP.

Akan tetapi, deklarasi para relawan itu membuat hubungan Ganjar dengan Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul memanas. Sebab, Bambang Pacul selaku Ketua PDIP Jateng sekaligus Ketua DPP PDIP Bidang Bappilu cendrung mendorong Ketua DPR RI Puan Maharani yang merupakan putri Megawati Soekarnoputri. Belakangan muncul istilah “barisan celeng” bagi kader PDIP yang mendukung Ganjar.


Hanya Cek Ombak

Sinyal dari Golkar untuk Ganjar dimaknai sebagai upaya mengubah narasi partai. Peneliti Riset Politik - Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN) Wasisto Raharjo Jati menilai Golkar membutuhkan figur dengan karakteristik yang membumi seperti Ganjar di kalangan akar rumput.

“Sepeninggal Pak Harto, narasi politik Golkar cenderung elitis sehingga kurang menjangkau pemilih menengah bawah,” ujar Wasis kepada reporter Tirto, Jumat (12/11/2021).

Golkar juga butuh figur yang populer seperti Ganjar untuk mendongkrak eletabilitas partai dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden.

“Sosok GP sebagai pemimpin populis ini yang dibutuhkan oleh Golkar untuk bisa memenangi pilpres karena Golkar sendiri lebih banyak diisi kalangan teknokratis,” kata Wasisto.

Apalagi PDIP belum memberikan lampu hijau pada Ganjar untuk menjadi capres pada Pilpres 2024. Hal itu bisa jadi alasan kuat Ganjar untuk melompat ke partai lain, kata Wasisto.

“Pengalaman-pengalaman sebelumnya, kadernya yang justru bermanuver sendiri sebelum dipecat oleh PDIP. Kader populer PDIP sebelumnya seperti Rustriningsih, I Made Mangku Pastika, maupun Emil Dardak itu pindah haluan ke partai lain setelah merasa tidak mendapatkan peluang kandidasi dari PDIP,” ujar Wasisto.

Sementara itu, Dosen Ilmu Politik & International Studies Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menilai wacana pemasangan Airlangga dan Ganjar tidak masuk akal. “Itu hanya strategi marketing politik Golkar saja, untuk menciptakan panggung-panggung sembari menawarkan wacana pasangan alternatif di Pilpres 2024 mendatang,” kata dia kepada reporter Tirto.

Pernyataan politik tersebut hanya upaya lain Golkar mendongkrak elektabilitas Airlangga yang tidak lebih besar dari Ganjar, kata Khoirul.



Berdasarkan survei yang dilakukan Poltracking, Ganjar menduduki posisi pertama sebagai calon presiden unggulan. Dua nama di bawah Ganjar ialah Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Dalam survei nasional periode 3-10 Oktober 2021 dengan 1.220 responden dan margin error 2,8 persen, Poltracking mencatat nama Ganjar dan Prabowo bersaing tipis dalam soal elektabilitas.

Ganjar berada pada angka 18,2 persen, sementara Prabowo berada di angka 17,1 persen. Peringkat ketiga ditempati Anies Baswedan dengan angka 10,2 persen. Setelah nama Anies, elektabilitas kandidat lain terpaut jauh seperti Ridwan Kamil (2,4 persen), Khofifah Indar Parawansa (2,1 persen), Sandiaga Uno (1,7 persen), Puan Maharani (1,5 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (1,3 persen) dan Airlangga Hartarto (0,5 persen).

Nama Ganjar pun lebih terpilih daripada Prabowo bila responden ditanya dengan simulasi hanya 15 kandidat. Ganjar berada di atas Prabowo dengan angka 22,9 persen, sementara Prabowo hanya 20 persen. Anies berada di peringkat ketiga dengan 13,5 persen. Selebihnya? Tidak ada yang sampai 2 digit seperti Ridwan Kamil (4,1 persen), AHY (3,3 persen) maupun Airlangga (1 persen).

Berbeda jauh hasil survei Ganjar dengan Airlangga. “Menempatkan Ganjar sebagai calon wakilnya Airlangga adalah sekadar upaya bargaining position Golkar, mengingat Ganjar sendiri agak kesulitan mendapatkan restu elite PDIP,” kata Khoirul.

Namun, kata Khoirul, Golkar sepertinya masih berupaya menebar jaring. Sebab Ganjar bukan satu-satunya yang diberikan sinyal oleh partai berlambang pohon beringin tersebut.

“Di acara ultah Golkar kemarin, Anies juga sudah diberikan panggung. Lalu, supaya pintu koalisi tidak tertutup sejak dini, wacana Airlangga-Ganjar dimunculkan. Sekali lagi, ini adalah strategi marketing politik Golkar,” tukasnya.

Politikus PDIP Andreas Hugo Pareira dalam keterangan tertulis, menanggapi enteng saja soal pernyataan Golkar tersebut. Menurutnya hal itu menandakan kader PDIP laku di mana-mana.

“Mungkin lebih laku dari kader partai tuan rumah, yang nawarin,” kata dia.

Andreas mengatakan PDIP belum fokus ke Pilpres 2024. Partainya masih sibuk membantu kerja-kerja Presiden Joko Widodo. “Kerja dulu dukung, kawal pemerintahan Jokowi. Ini penting untuk sukses pemerintahan sebagai modal elektoral menuju pileg pilpres 2024,” tukasnya.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight