Menuju konten utama
Horizon

Mothernet: Ilusi AI Menggeser Kematian dan Mengganti Ritual Doa

Mothernet mengisahkan Rama yang menghidupkan kembali ibunya lewat AI. Teknologi itu membuatnya terjebak dalam penyangkalan dan menjauh dari proses berduka.

Mothernet: Ilusi AI Menggeser Kematian dan Mengganti Ritual Doa
Esok Tanpa Ibu Mothernet. foto/Dok. Imdb
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di tengah ambisi AI menaklukan banyak hal, ada satu momen dalam hidup yang nyatanya tidak bisa dinegosiasikan oleh teknologi apa pun: kematian seseorang yang kita kasihi. Selama ribuan tahun, agama, ritual, dan komunitas hadir untuk membantu manusia menjalani momen itu agar bisa dijalani dan dilalui dengan manusiawi.

Mothernet adalah film Indonesia pertama yang gamblang mengambil premis gelap perkembangan AI sebagai kebangkitan digital orang mati yang menempatkannya bukan di ranah sci-fi yang jauh, tapi di ruang tamu sebuah keluarga Indonesia biasa.

Mothernet mengikuti kisah Rama (diperankan Ali Fikry) yang menolak melepaskan kepergian Laras, ibunya (Dian Sastrowardoyo). Rama "menghidupkan kembali" Laras melalui sebuah aplikasi AI bernama i-BU. Di layar smartwatch dan televisi jumbo, Laras masih bisa berbicara, memberi nasihat, bahkan menemani hari-hari Rama. Film berlanjut memperlihatkan gambaran bagaimana aplikasi AI menawarkan kedekatan dengan menolak jarak yang diciptakan kematian.

Di balik kemampuan i-BU mereplikasi memori, Rama perlahan dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah teknologi dapat membuat seorang ibu tetap hidup, atau justru nilai-nilai yang diwariskannyalah yang membuat seorang ibu tetap dekat?

Jika dibandingkan dengan judul awal yang beredar yaitu Esok Tanpa Ibu, judul Mothernet sebenarnya adalah pintu masuk yang presisi untuk membaca film ini. Esok Tanpa Ibu terdengar menekankan kehilangan sebagai fakta linear waktu atau hari-hari setelah kematian ibu. Sementara Mothernet membidik sesuatu yang terdengar lebih licik: ilusi bahwa ibu bisa digantikan oleh sebuah jaringan digital "net" yang menyamar sebagai "mother".

Judul ini menggeser fokus pembacaan film dari sekadar kehilangan menjadi simulasi relasi. Dan justru di situlah film ini menjadi menarik untuk didedah.

Pergeseran Fungsi Ritual, Doa, dan Ziarah

Awalnya, saya membaca Mothernet sebagai film tentang teknologi, perkembangan AI, dan semacamnya. Sampai kemudian saya menyadari, AI di sini ternyata hanyalah kendaraan. Tokoh utama penggerak cerita nyatanya adalah duka, serta bagaimana duka jika diberi jalan keluar yang terlampau mudah, bisa berhenti menjadi proses, dan bahkan berubah menjadi perangkap.

Untuk memahami perkara kehilangan dengan baik, saya perlu meminjam kerangka Elisabeth Kubler-Ross soal tahapan berduka. Secara berurutan, proses berduka ini dimulai dengan penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan akhirnya baru penerimaan. Selama ini, kelima tahapan ini dipahami sebagai proses yang perlu dilalui satu per satu. Bukan opsional, yang bisa dipilih untuk dihindari.

Yang dilakukan i-BU, replika AI dari sang Ibu, adalah membekukan tahap penyangkalan itu selamanya. Rama juga tak perlu menjalani tahap marah, tak perlu tawar-menawar dengan Tuhan atau takdir. Ia cukup membuka smartwatch, memulai obrolan atau pertanyaan, dan ibunya menjawab.

Alih-alih solusi, ini adalah jeda yang menyamar sebagai penyembuh.

Di sini bisa kita lihat, meski Mothernet merupakan salah satu film Indonesia pertama yang membawa bahasan Artificial Intelligence, para sineasnya tidak benar-benar berambisi mengajak para penontonnya mempertanyakan apakah mesin bisa berpikir. Tapi justru ini menariknya. Sineas, melalui detail-detail adegan dan perjalanan emosional karakternya bertanya sesuatu yang jauh lebih personal dan jauh lebih menakutkan: apa jadinya ketika teknologi mengambil alih pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh ritual doa, oleh ziarah, oleh waktu, dan oleh keikhlasan?

Kegelisahan yang ditawarkan Mothernet ini bisa kita coba pelajari dengan menilik kembali bagaimana Islam memandang relasi antara yang hidup dan yang mati. Kematian memang bukan akhir dari eksistensi, jika kita melihatnya dalam perspektif Islam. Ada proses perpindahan ke sebuah "ruang antara" tempat yang meninggal menunggu, sebelum kebangkitan (alam barzakh). Ini merupakan batas ontologis yang tegas menjelaskan orang yang sudah meninggal tidak akan kembali untuk berbicara, memberi nasihat, atau malah mengobrol dengan yang hidup.

Yang tersisa dari relasi itu adalah doa. Dalam Islam secara jelas disebutkan, hanya tiga hal yang masih bisa "tetap berproses" bagi orang yang telah meninggal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Coba kita perhatikan strukturnya. Arah relasi ini satu jalur. Yang hidup mendoakan yang mati. Yang mati tidak membalas dengan nasihat baru, tidak memberi jawaban atas pertanyaan yang belum terjawab semasa hidup.

Salah satu adegan paling tajam dalam film ini, yang layak dibaca lebih simbolik daripada sekadar detail plot, terjadi tepat saat pemakaman Laras. Alih-alih hadir sepenuhnya dalam momen yang seharusnya menjadi puncak pengakuan atas kematian ibunya, Rama justru mendengarkan suara ibunya lewat headset yang ia kenakan.

Di sinilah teknologi menampakkan fungsinya yang paling berbahaya, ia menjadi pelarian dari proses berduka itu sendiri.

Penguburan atau pemakaman hadir dalam keseharian manusia sebagai ritual yang memaksa yang hidup berhadapan langsung dengan yang mati. Realitas ini digambarkan dengan jenazah yang diangkut, tanah yang ditimbun, atau ucapan belasungkawa dari rekan dan saudara. Menariknya, dalam layar, pilihan sinematografi justru tidak mau berlama-lama menghadirkan wide shot yang biasa digunakan momen pemakaman untuk menempatkan penonton dalam jarak "objektif" dari duka kolektif keluarga. Sineas justru memilih menyorot Rama, kamera mendekat ke close-up pada headset di telinga Rama.

Sineas sengaja mengolah adegan Rama yang memakai headset di pemakaman dengan melakukan tumpang tindih scoring dari Hara "Layar Terkembang" dengan suara Laras yang terdengar.

Pilihan framing dan scoring ini secara sinematografis mengisolasi Rama dari ruang di sekelilingnya: kedalaman ruang yang dangkal, membuat latar belakang pemakaman (jenazah, keluarga, prosesi) menjadi kabur, sementara wajah Rama dan benda kecil di telinganya tetap tajam. Secara visual, ia hadir secara fisik namun absen secara batin; kamera menunjukkan keterasingan itu tanpa perlu dialog satu kalimat pun.

Secara harfiah, melalui adegan pemakaman itu kita diberi gambaran bahwa Rama memilih untuk tidak menerima kenyataan ibunya sudah meninggal. Pilihannya jelas, ia mempertahankan ilusi kehadiran ibunya dibanding menerima yang nyata, tepat di momen ketika penerimaan itu paling dibutuhkan.

Jika dipahami lebih dalam, tahlilan, ziarah kubur, atau sedekah atas nama orang yang telah meninggal sebenarnya bekerja di dua wilayah sekaligus: iman dan duka. Ada keyakinan bahwa doa dan amal dapat mengalirkan pahala sekaligus mendekatkan manusia kepada yang memberi hidup. Selain itu, bagi yang ditinggalkan, ritual-ritual itu juga menyediakan waktu dan ruang untuk berduka. Orang tidak dibiarkan berduka sendirian. Ada keluarga, tetangga, dan komunitas yang datang untuk menemani. Dalam pengertian ini, ziarah dan doa memungkinkan yang hidup tetap merasa terhubung dengan yang telah mati, tetapi tanpa mengaburkan satu batas kenyataan yang paling sulit diterima: orang itu sudah pergi.

Perangkat i-BU meniadakan seluruh arsitektur ini. Ia mengubah relasi satu arah menjadi dua arah. Rama tidak lagi mendoakan ibunya; ia mengobrol dengannya. Dan begitu obrolan itu mungkin, kebutuhan untuk berdoa, yang mengandaikan jarak, yang mengandaikan ketiadaan menjadi terasa kurang mendesak.

Di sini Mothernet lebih tepat dibaca sebagai cerita tentang pergeseran fungsi ritual keagamaan menuju fungsi teknologis, alih-alih sekadar cerita tentang kecanggihan AI.

Teknologi AI mulai mengambil alih fungsi yang selama ini dimiliki ritual keagamaan. Yakni menggantikan perantara yang selama ini membantu manusia berdamai dengan ketiadaan yang bisa disentuh secara langsung dalam kesedihan sehari-hari.

Ini sebenarnya adalah cermin bagi penonton, seberapa sering kita, tanpa AI secanggih i-BU sekalipun, sudah menggantungkan ketenangan psikologis kita pada hal-hal yang lebih mudah diakses ketimbang doa yang sunyi dan tidak selalu terasa dijawab.

Film Mothernet

Poster Film Mothernet (Esok Tanpa Ibu). (FOTO/BASE Entertainment)

Warisan Laras yang Tak Bisa Ditiru i-BU

Kunci untuk membaca seluruh film ini sebenarnya sudah diletakkan sejak adegan pembuka, dan justru di situlah saya awalnya lalai.

Pada lima menit pertama, penonton bisa melihat Rama, Ibu, dan Bapaknya (Ringgo Agus Rahman) berziarah ke makam Uti Laras. Selepas berdoa bersama, ketiganya mengenang kisah-kisah masa kecil Laras dengan utinya.

Salah satu yang diceritakan adalah momen ketika Laras pernah dimarahi utinya karena memecahkan pot bunga. Dalam ceritanya, Laras bercerita neneknya marah bukan karena pot itu mahal. Neneknya ingin memahamkan bahwa setiap bentuk kehidupan (termasuk tanaman kecil di pot itu) layak untuk selalu dihargai.

Nyatanya, adegan ini bukan hanya nostalgia ala-ala yang ditempel untuk membangun kedekatan emosional penonton dengan para lakon di Mothernet. Sineas memacak adegan ini sebagai awalan penting sekaligus pengenalan pertama terhadap nilai hidup Laras yang di akhir film akan menjadi warisan sesungguhnya. Sebuah warisan yang gagal ditiru oleh AI.

Film, sejak menit-menit pertamanya, sudah diam-diam memberi tahu penonton apa yang sebenarnya dipertaruhkan: bukan suara Laras, bukan wajahnya, melainkan cara pandangnya terhadap kehidupan.

Sineas membangun karakter Laras dengan detail-detail yang jika dirangkai membentuk satu benang merah yang konsisten. Laras digambarkan senang pergi ke hutan, selalu terpesona ketika melihat bunga liar yang berhasil tumbuh di tanah yang gersang. Sosok Laras juga dikenalkan sebagai arsitek taman yang baru menggarap proyek Flower Tower.

Proyek ini, digambarkan Laras, sebagai medium yang baik untuk mengenalkan tanaman kepada anak-anak yang tumbuh di lingkungan urban.

Detail-detail ini, jika dibaca terpisah, tampak seperti pelengkap karakterisasi biasa. Namun, jika dirangkai bersama, hal-hal ini menunjukkan sesuatu yang lebih penting: Laras adalah ibu yang memiliki filosofi hidup yang koheren tentang penghargaan terhadap kehidupan yang rapuh, yang tumbuh di tempat sulit, dan yang perlu benaran dirawat.

Nilai inilah yang kelak coba diwariskannya kepada Rama, dan inilah pula yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma apa pun.

Dalam visual film, sineas membenturkan nilai Laras ini dengan Rama pada dua tekstur ruang yang saling berlawanan, dan pertentangan itulah yang menjadi tulang punggung mise-en-scène-nya.

Dunia Laras berupa hutan, bukit, Flower Tower, dan ruang-ruang yang selalu digambarkan dengan tekstur organik: dedaunan yang tidak simetris, kebun teh di subuh hari, cahaya matahari yang menembus kanopi secara tidak rata, warna-warna hangat yang condong ke kuning dan hijau tua.

Dunia Rama pascakematian ibunya, sebaliknya, didominasi oleh interior yang lebih steril: permukaan kaca dan layar, cahaya artifisial yang datar, palet warna yang cenderung biru pucat atau abu-abu, warna yang secara konvensional diasosiasikan dengan antarmuka digital.

Dua dunia ini akhirnya direkonsiliasi di adegan akhir. Saat Rama pergi ke hutan, tempat yang kerap disambangi ibunya. Ia berjalan ke atas bukit dan menjumpai hamparan bunga yang tumbuh di antara dua bukit. Di adegan ini Rama kembali diingatkan dengan nilai hidup Laras, tentang kehidupan yang bertahan di tempat yang tidak seharusnya memungkinkan pertumbuhan.

Esok Tanpa Ibu Mothernet

Esok Tanpa Ibu Mothernet. foto/Dok. Imdb

Untuk kali pertama, akhirnya Rama paham dan mampu melihat dunia melalui cara pandang ibunya. Ia memahami, mengapa ibunya begitu menghargai kehidupan sekecil apa pun itu. Rama memahami, ia tetap bisa sangat dekat dengan ibunya melalui nilai hidup yang diwariskan itu. Barulah setelah momen itu, Rama menghapus aplikasi i-BU.

Resolusi di akhir film ini bisa dibaca sebagai momen ketika Rama akhirnya memahami warisan ibunya, bukan sekadar momen ketika ia "sembuh" dari kesedihannya.

Sampai di sini, Mothernet mampu menjadi refleksi soal bagaimana manusia sesungguhnya hidup setelah mati. Bukan sebagai database yang bisa diputar ulang yang menjawab ketika ditanya. Ia hidup lagi sebagai nilai yang terus diwariskan kepada mereka yang ditinggalkan.

Secara simbolik, Mothernet sebenarnya punya penutup yang cukup dalam. Hanya saja, penyelesaian itu terasa datang terburu-buru.

Saya sendiri ragu, apakah benar, memahami cara pandang seseorang tentang hidup otomatis membuat kita siap menerima kematiannya? Rasanya tidak sesederhana itu. Grieving biasanya jauh lebih berantakan daripada sekadar menemukan satu pemahaman, lalu tiba-tiba mampu melepaskannya.

Menurut saya, di sinilah Mothernet kehilangan kesempatan untuk menggali bagian yang paling menarik dari ceritanya.

Sineas sebenernya sudah cukup piawai membuka pertanyaan tentang keinginan manusia untuk mempertahankan orang yang telah meninggal dengan teknologi melalui filmnya. Hanya saja, terlalu cepat memberikan jalan keluarnya.

Rama memahami warisan ibunya, lalu menghapus i-BU. Selesai. Sineas luput mempertimbangkan kemungkinan yang lain: bagaimana kalau Rama tahu bahwa ia harus melepaskan ibu, tetapi belum tentu sanggup menerima kehilangannya? Duka tidak selalu membutuhkan jawaban. Kadang-kadang (atau seringnya), secara rasional kita tahu seseorang telah pergi, namun secara emosional, kita masih terus mencari keberadaannya.

Secara keseluruhan, Mothernet memang memiliki gagasan menarik soal teknologi, kematian, dan penyangkalan manusia terhadap kehilangan orang yang dicinta. Hanya saja, film ini seperti terlalu cepat merapikan persoalan yang sejak awal dibuat cukup rumit.

Resolusi di menit-menit akhir Mothernet adalah gambaran ketergesa-gesaan sineas menggarap keberjarakan-kedekatan yang sejak awal dibangunnya sendiri. Karena pada kenyataannya, kedukaan tidak selalu selesai hanya karena kita berhasil memahami makna kepergian itu sendiri. Memahami seseorang telah pergi tidak serta membuat kita benar-benar siap ditinggalkan.

Baca juga artikel terkait MISBAR TIRTO atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Horizon
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Irfan Teguh Pribadi