Menuju konten utama
Horizon

Rangga & Cinta: Memoles yang Manis, Mengaburkan Latar Krisis

Tanpa dipadu dengan keberanian untuk menerjemahkan masa sebagai sejarah yang pantas dibaca, Rangga & Cinta sebagai daur ulang AADC hanyalah deret angka.

Rangga & Cinta: Memoles yang Manis, Mengaburkan Latar Krisis
Kolase Poster Film Rangga dan Cinta. filmranggacinta
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rangga & Cinta memulai “hidup baru”-nya dengan statement yang jelas: The Rebirth of Ada Apa dengan Cinta (AADC). Sineas memilih menempelkan diksi “rebirth” alih-alih “remake” atau “adaptasi” dalam judul. Ia menyiratkan kelahiran kembali, bukan sekadar pengulangan.

Dari judulnya kita bisa memahami apa saja yang ditawarkan film ini. Strateginya jelas, nostalgia dengan membawa memori populer, nama lakon ikonik, dan alur cerita yang pernah dikenal. Siasat cerdik untuk mempermudah film anyar mendapatkan perhatian. Penonton lama langsung tahu di mana lakon-lakon akan berdiri, adegan mana saja yang berkesan dan diulang kembali, serta kapan bisa baper di scene-scene emosional.

Film Rangga & Cinta (2025) disutradarai oleh Riri Riza, bukan lagi Rudi Soedjarwo. Sebelumnya, di AADC (2002) Riri Riza sebatas jadi produser film. Lantas, sejauh mana Riri Riza dkk belajar selama 23 tahun (dari 2002 ke 2025) untuk memberi kelahiran yang baru untuk lakon dan ceritanya?

Apakah film memberi detail lebih jelas pada ruang samar (padahal penting) yang dulu hanya disinggung singkat di AADC? Bagaimana posisi film rebirth ini di hadapan penonton baru, apakah ia mampu menjadi karya yang segar dan relevan, atau sekadar copy-paste-replace-delete-save?

Adakah yang Baru dari Tumpukan yang Usang?

Pondasi Rangga & Cinta (2025) dibangun dengan lebih dari 75 persen alur cerita dan dialog inti AADC (2002). Pun dengan latar periode waktu yang sama, yakni di tahun 2001-2002. Masih bercerita tentang dua anak SMA penyuka puisi dan buku-buku sastra, yang saling jual mahal kemudian sama-sama jatuh cinta.

Rangga (kali ini diperankan El Putra) masih digambarkan sebagai sosok yang dingin, penyendiri, lebih suka baca buku sastra di pojokan sekolah dibanding bersosialisasi, dan satu lagi yang khas: ia masih berbicara dengan bahasa Indonesia yang baku, nyaris arkais, namun juga ketus. Karakter Cinta (diperankan Leya Princy) juga masih sama dengan 23 tahun lalu, masih suka main berkelompok dengan Geng Cinta-nya. Sosok yang setia kawan tapi sering labil jika sedang galau dan jatuh cinta.

Jika 23 tahun yang lalu hanya Geng Cinta AADC yang menyanyi dan berjoget bareng, di film baru ini ada lebih banyak orang yang dari detik pertama film sudah hadir dengan koreografi dan nyanyiannya. Inilah salah satu pembeda Rangga & Cinta dengan AADC, genre drama ditarik lebih spesifik menjadi drama musikal. Sebuah pilihan estetika yang cukup ambisius dalam menjembatani nostalgia dengan bahasa visual yang resonan bagi penonton baru yang banyak dari gen Z.

Poster Film Rangga dan Cinta

Kolase Poster Film Rangga dan Cinta. filmranggacinta

Sebagai bentuk rebirth, film Rangga & Cinta hadir dengan memikul beban tafsir atas masa lalu AADC. Sehingga untuk memahaminya bisa dilakukan dengan melihat dua hal: apa saja yang berulang dan dipertahankan, serta apa saja yang benar-benar baru.

Dalam Rangga & Cinta, sineas agaknya memilih untuk tidak banyak melakukan perubahan pada kerangka dasar. Masih dengan kisah dua remaja yang tumbuh di Jakarta, sebuah kota yang sedang belajar “menata dirinya” di tahun 2001-2002 atau pascareformasi.

Rangga & Cinta masih bersetia dengan ruang-ruang puitis yang dulu membuat AADC dipenuhi adegan ikonik: sekolah dengan lorong panjang, toko buku bekas di Kwitang, hingga satpam bandara yang terlalu baik hati. Sebagian besar plot dan dialognya digarap mengikuti jejak film pertama.

Namun, karena Rangga & Cinta meminjam begitu banyak, penonton otomatis akan memberi banyak perhatian terhadap apa saja hal yang baru dan adegan mana saja yang diolah ulang.

Keluarga dan Masa yang Tak Diberi Ruang Lebih

Dalam AADC, latar belakang keluarga Rangga memainkan peran penting: ada riak riwayat yang membuat Rangga menjadi sosok yang terkesan misterius, pendiam, tajam, ketus, dan seolah menyimpan sedikit saja keceriaan. Di AADC, penonton mengenali ayah Rangga sebagai sosok yang kerap menulis artikel yang “melawan negara”, sehingga rumahnya kerap mendapat teror. Kita juga tahu, ibu dan kakaknya telah lama meninggalkan Rangga dan ayahnya.

Kiwari, di hadapan penonton baru, Riri Riza dan Mira Lesmana kembali menghidupkan kembali latar belakang ini. Dalam Rangga & Cinta, sineas mendedah latar ayah Rangga yang “dituduh melawan negara” dengan menempelkan diksi “dituduh sebagai makar”. Selain itu, ayah Rangga juga dibicarakan sebagai “aktivis kiri” yang dilekatkan dengan kata “berbahaya”. Pilihan diksi-diksi ini berlalu begitu saja dalam adegan telepon dan saat rumah Rangga dilempari api. Film bergerak cepat melewati akar tuduhan tersebut.

Ketika istilah “makar” diucapkan Rangga, atau saat diksi “aktivis kiri berbahaya” muncul dalam dialog, penonton tidak disuguhi etnografi histori tentang apa yang menimbulkan tuduhan tersebut, tidak ada arsip, serta tidak ada dialog yang menyodorkan perspektif berbeda.

Mengizinkan narasi populis aktivis kiri sebagai ancaman untuk lewat tanpa kontekstualisasi tentu saja merupakan pilihan yang terburu-buru. Apa akibatnya jika sebuah karya menempatkan perspektif tersebut tanpa memberi ruang kontra-narasi? Di mana posisi film rebirth ini terhadap anggapan politik yang selama ini memarginalkan suara-suara kritis? Di titik ini, tanggung jawab naratif Rangga & Cinta diuji.

Dari hal tersebut, kita bisa melihat bagaimana sineas men-skip (lagi) satu poin penting yang bisa saja menjadi pintu masuk penonton membaca dinamika sosial politik tahun 2001-2002 (pasca 1998). Sineas memperlakukannya seperti cheat code dramatik, memakai latar tahun yang sama tapi tetap malas mengulik makna di baliknya dan berhenti di zona aman: puisi-puisi, buku-buku sastra, anak-anak berseragam putih abu yang belum kenal medsos, hingga telepon kabel yang menjadi estetika nostalgia. Zona aman yang juga tak menyediakan ruang bebas tempat luka kolektif bangsa dihadirkan di hadapan generasi baru.

Media visit pemeran film Rangga dan Cinta

Pemeran film Rangga dan Cinta, Leya Princy (kiri) dan El Putra Sarira (kanan) berpose saat media visit ke Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat (8/8/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar

Ibu yang pergi meninggalkan Rangga pun porsi bahasannya disederhanakan menjadi obrolan yang lembut antara Rangga dan Cinta. Di film baru ini kita tidak akan menemukan Rangga yang bilang, "Kamu tahu nggak, ada berapa orang yang saya ajak ngomong tentang keluarga. Yang pertama Pak Wardiman, yang kedua kamu. Mungkin saya malu ngomongin itu sama orang-orang. Orang akan mikir, saya anak dari Ibu yang tidak bertanggungjawab."

Di AADC penjelasan motif ibu pergi hanya selintas, di Rangga & Cinta alasan sang ibu pergi pun menjadi semakin samar.

Di beberapa film coming of age, kepergian ibu bisa menjadi medan pembentukan identitas anak, baik pergi karena alasan ekonomi, perceraian, migrasi kerja, atau latar sosial lainnya. Ketika Rangga & Cinta memilih menipiskan bahasan tentang ibu, ia juga menutup salah satu jalur terbaik untuk mengaitkan trauma personal dengan sejarah kolektif yang melekat di periodenya.

Ibu yang pergi sebenarnya bisa menjadi jalan untuk mendedah karakter Rangga, juga bisa sekaligus mengelaborasi perubahan struktur sosial keluarga di era pasca-krisis. Sebuah fenomena yang saya rasa penting dipahami generasi baru, penonton baru Rangga & Cinta.

Tahun 2002 yang sineas pakai secara berulang akhirnya hanya sebentuk angka, bukan tahun pertumbuhan bangsa yang perlu dicatat. Adegan-adegan pendek yang dihadirkan mungkin cukup memberi alasan bagi dinginnya Rangga, namun tidak cukup terang memperlihatkan kondisi sosial, ekonomi, atau psikologis yang menempel pada keluarga Rangga pada 2002—empat tahun setelah Reformasi 1998.

Perubahan genre menjadi musikal adalah salah satu keputusan besar di film ini. Musikal memberi banyak keuntungan, mulai dari lagu yang dapat mengungkap (atau meringkas) hal-hal yang sulit diekspresikan lewat dialog natural. Dilengkapi dengan koreografi yang mampu menerjemahkan emosi remaja ke dalam bahasa tubuh yang mudah mengena di tengah penonton baru yang sebagian gemar dance cover dan Tiktok-an. Sampai dengan keuntungan paling cuan: soundtrack yang bisa dijual terpisah serta memperpanjang umur komersial film itu sendiri.

Meski begitu, musikal di sini juga punya peran sebagai alat estetis yang memuluskan pelarian dari pertanyaan-pertanyaan paling tajam tentang masa lalu. Musik di sini (sengaja atau tidak) memotong momen-momen yang sebenarnya berpotensi menimbulkan pergulatan dalam membuka bahasan yang sensitif. Misalnya ketika adegan di studio musik, Rangga mengaitkan piano dengan keberadaan ibunya. Apakah pembahasan ibunya berlanjut? Tidak. Pembuat film, Rangga, dan Cinta sepakat melanjutkannya dengan bernyanyi saja, yang hadir pun lagu “Tentang Seseorang”, alih-alih bahasan tentang ibu.

Posisi musikal di film memang jadi strategi pasar yang masuk akal. Sasaran produksinya jelas: menjangkau kelompok penonton yang haus estetika, playlist, dan instant-shared moments. Secara komersial dan kultural, strategi ini cerdik, secara pedagogis, ia setengah jadi. Saya selalu percaya rebirth yang baik tidak hanya soal memperbarui estetika, tapi juga mampu membaca ulang ingatan kolektif dan menautkannya pada problematika masa kini.

Film pertamanya, AADC, sebenarnya telah memberi sedikit bayangan tentang trauma reformasi melalui latar keluarga Rangga: ayahnya yang menjadi korban diskriminasi karena pandangan politiknya, dan ibunya yang pergi akibat dari kondisi itu. Fragmen kecil ini praktis menjadi satu-satunya konteks sosial pasca-Orde Baru yang muram.

Namun, bisa dipahami jika AADC tidak terlalu menggali trauma ini. Industri film Indonesia di tahun 2002 baru bangkit dari mati suri dan AADC hadir sebagai tonggak kebangkitan sinema. Kehadirannya tentu ingin merayakan “kehidupan baru”, yakni sebuah kerja kolektif untuk sedikit bernapas setelah represi panjang era Orde Baru.

Menariknya (dan juga problematiknya), Rangga & Cinta sebagai rebirth justru menafikan sisa-sisa konteks yang sedikit dikulik di AADC. Saya merasakan, di film baru ini, ingatan reformasi yang dulu hanya samar, kini semakin tipis. Hal ini menandai pergeseran dari “pelupaan yang bisa dimengerti” di AADC menjadi “pelupaan yang disengaja” di Rangga & Cinta.

Di hadapan generasi baru, pembuat Rangga & Cinta memilih keamanan estetis dibanding keberanian historis. Memilih memberikan musik-musik bagus, kamera yang manis, dan chemistry pemain-pemain anyar, alih-alih mewedarkan luka-luka personal dan kolektif yang relevan dengan tahun 2001-2002.

Apa yang bisa kita pahami bersama dengan pemotongan kedalaman keluarga Rangga, kepergian ibu yang tak punya banyak arti? Apa yang bisa penonton pelajari dari penerimaan label-label politik tanpa kritik terhadap ayah Rangga? Kita memang tidak perlu repot-repot menjadikannya soal.

Sekali lagi, AADC dibangkitkan, dan sekali lagi masa yang paling perlu ditanya dikesampingkan. Sepuluh, dua puluh tahun lagi, barangkali cerita Rangga dan Cinta akan dilahirkan ulang, mengambil latar masa yang sama, namun gemanya akan tetap lirih jika tidak dipadu dengan keberanian untuk menerjemahkan masa sebagai sejarah yang pantas dibaca, bukan cuma angka-angka.

Baca juga artikel terkait ADA APA DENGAN CINTA atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Misbar
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Irfan Teguh Pribadi