Gaya Orde Baru Tertibkan Perilaku Seksual melalui Film

Oleh: Indira Ardanareswari - 1 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Rezim Orba khawatir para pemuda berperilaku seks menyimpang. Pemerintah berusaha menangkalnya lewat film.
tirto.id - Pada 1971 rezim Orde Baru merombak struktur Badan Sensor Film (BSF) secara besar-besaran. Keanggotaannya dikurangi dengan menyisakan lebih banyak orang-orang dari pemerintahan dan Golongan Karya. Pada kesempatan yang sama Menteri Penerangan Boediardjo mengeluarkan keterangan agar BSF mulai mendorong rencana penertiban perilaku seksual anak muda melalui film.

Beberapa tahun kemudian ucapan Boediardjo benar-benar menjadi kenyataan. Keputusan Menteri Penerangan No. 194A tahun 1977 menganjurkan kepada produser film untuk membuat film yang sesuai dengan program pemerintah. Film-film yang masuk kategori ini disebut sebagai “Film Cerita Indonesia Teladan”.

Kebetulan di saat bersamaan, pemerintah tengah gencar mengampanyekan pemberantasan kenakalan remaja yang berkaitan dengan seks bebas. Dari sanalah, baik sineas maupun pemegang otoritas sensor, mulai secara terbuka menerima seks dalam film. Film drama berjudul Akibat Pergaulan Bebas (1978) buatan rumah produksi Rapi Films menjadi salah satu film seks yang paling banyak mendapat perhatian.


Berawal dari Sebuah Gerakan

Di masanya, Akibat Pergaulan Bebas adalah film yang sangat fenomenal. Film yang dibintangi nama-nama besar seperti Roy Marten dan Yenny Rachman ini sempat merajai bioskop tanah air. Pemutaran perdananya di Jakarta pada 1978 menyedot lebih dari 300.000 penonton.

Di balik namanya yang bersinar, film besutan sutradara Matnor Tindaon ini menampilkan banyak sekali adegan seks pasangan muda. Tapi itu tak lantas membuatnya kena gunting sensor Orde Baru yang terkenal tajam. Sebaliknya, Akibat Pergaulan Bebas malah menjadi film seks andalan Orde Baru untuk menertibkan generasi muda.

Menurut wartawan dan sastrawan merangkap anggota BSF, Gayus Siagian, sebagaimana diutarakannya dalam majalah Merdeka (1/11/1979), Akibat Pergaulan Bebas bukan film porno. Alasan Gayus sederhana: APB mengemban misi pemerintah melalui kisah kemerosotan moral anak muda. Di belakang Gayus, anggota BSF lain juga menganggap film ini baik dengan mengesampingkan adegan-adegan intimnya.

Gayus menuturkan bahwa Moh. Said Reksohadiprodjo, anggota tim kecil penyensor APB, turut memberikan penghargaan. Pamong Taman Siswa yang dikenal konservatif dalam perkara sensor itu dikabarkan malah mendorong para produser film Indonesia untuk membuat film serupa.

Moh. Said memang berasal dari kalangan yang berkeinginan menertibkan perilaku seks pranikah. Misi penertiban perilaku seksual generasi muda Orde Baru memang sudah berjalan sedari awal 1970-an. Kala itu seks bebas dianggap sebagai dampak negatif derasnya arus kebudayaan populer di perkotaan. Pemerintah pun bergegas melakukan penertiban.

Pada Oktober 1971 dibentuklah sebuah tim yang bertugas menyusun siasat penanggulangan kenakalan remaja. Menurut ketua tim, Brigadir Jenderal H. Soejadi, seperti dikutip dalam Pornografi dalam Media Massa (1995: 8-9) karya Tjipta Lesmana, kenakalan remaja saat itu lebih banyak terjadi dalam bentuk seks bebas. Ini menjadi pekerjaan yang benar-benar baru bagi pemerintah.

Latar belakang penertiban perilaku seksual yang jarang dikemukakan adalah pemerintah sebenarnya gelisah dengan maraknya penyimpangan seksual di perkotaan. Tema penyimpangan seksual ini sempat diangkat ke layar perak dengan judul Tiada Maaf Bagimu dan Jang Djatuh di Kaki Lelaki. Keduanya mengangkat tema lesbianisme dan dipublikasikan pada waktu yang berdekatan, tepatnya pada Juli 1971, beberapa saat sebelum gerakan penertiban perilaku seksual dimulai.

Ujung dari produksi film lesbian tersebut tidak berbuah manis. Sementara Jang Djatuh di Kaki Lelaki bernasib lebih baik berkat penuturannya yang simbolis, Tiada Maaf Bagimu benar-benar dihabisi sensor. Penolakan terhadap tema-tema semacam ini sempat dilontarkan Moh. Said dalam pewartaan Tempo (10/7/1971).


Film Seks dan Penonton Muda

Dekade 1970-an adalah titik kebangkitan industri perfilman Indonesia. Di saat yang bersamaan sebagian masyarakat juga baru mulai mengenal bahwa adegan hubungan intim dapat dinikmati lewat pertunjukan layar perak. Ini menarik minat kalangan pemuda dan pemudi yang tengah dimabuk asmara.

Sebuah data menunjukkan bahwa jumlah penonton muda mengalami peningkatan pesat. Satu tahun setelah Akibat Pergaulan Bebas mencetak rekor nasional, hasil penelitian terhadap usia penonton bioskop mulai dibuka pada 1979. Hasilnya, penonton muda mendominasi kursi bioskop pada pengujung 1970-an.

Hasil penelitian yang dilakukan Subagyo Martosubroto dan dimuat dalam Berita Buana (7/11/1979) mencatat mayoritas penonton bioskop rata-rata berusia 15-24 tahun. Menurut pengamatan Martosubroto, hampir tidak ada penonton di atas usia 30 tahun.

Menyambung temuan tersebut, Karl G. Heider dalam Indonesian Cinema: National Culture on Screen (1991: 21) mendiskusikan kolerasi usia pembuat film dengan penontonnya. Menurut Heider, usia dan latar belakang sosial-budaya pembuat film secara tidak langsung merepresentasikan ide dan gagasan yang tercermin dalam bahasa visual film, kemudian menarik perhatian para penonton.

Sementara catatan Salim Said dalam Profil Dunia Film Indonesia (1982: 110) menunjukkan sutradara film angkatan 1970-an sebagian besar tidak mengenyam pendidikan tinggi. Maka tidak mengherankan jika Indonesia tahun 1970-an dibanjiri film-film yang terkesan murahan. Tinggal bertutur tentang perjalanan cinta anak muda beserta segala aktivitas seksualnya, sudah bisa mendatangkan penonton.



Infografik Penertiban Perilaku Seksua
Infografik Penertiban Perilaku Seksual. tirto.id/Fuad

Bukan untuk Orang-Orang Revolusioner

Hasil dari gerakan penertiban perilaku seksual tidak membuat pemerintah merasa puas. Saya S. Shiraishi berpendapat dalam Young Heroes: The Indonesian Family in Politics (1997: 149) bahwa anak muda dalam tradisi politik Orde Baru cenderung dilabel-labeli. Bagi rezim Soeharto, term "remaja" cenderung tidak berbahaya karena memiliki karakteristik yang bising, konsumeris, dan lebih mudah dialihkan perhatiannya kepada hiburan. Sebaliknya, julukan “pemuda” atau “pelajar” terdengar lebih mengancam karena punya sifat memaksa dan lebih revolusioner.

Gambaran pemuda revolusioner ini salah satunya muncul dalam representasi mahasiswa yang ditampilkan Rendra, Umar Kayam dan Sjuman Djaya melalui film Yang Muda Yang Bercinta (1977). Tak berbeda dibandingkan Akibat Pergaulan Bebas, film yang dibintangi Rendra ini juga mempertunjukkan adegan hubungan intim anak-anak muda.

Namun Yang Muda Yang Bercinta tidak sekadar mengangkat serangkaian konflik pemudi yang hamil di luar nikah. Ada upaya para dramawan terkemuka di balik layar untuk mengangkat kritik sosial melalui kisah cinta seorang mahasiswa merangkap penyair yang dimainkan Rendra.


Sayang, nasib Yang Muda Yang Bercinta tak semanis Akibat Pergaulan Bebas. Meski dinyatakan lolos sensor dengan pemotongan sepanjang 20 menit, film ini dilarang beredar di Jakarta karena dinilai berusaha menghasut generasi muda lewat pertunjukan propaganda politik.

Sebagaimana dilaporkan Tempo (24/6/1978), Menteri Penerangan Ali Moertopo menyayangkan keputusan Sjuman memilih Rendra sebagai pemeran utama lantaran aksi teaternya yang dinilai gemar menyudutkan rezim Soeharto. Beberapa anggota DPR yang tidak pernah tertarik membicarakan film pun turut berkomentar. Bagi mereka, “Film ini bisa menimbulkan interpretasi yang keliru.”

Argumen Shiraishi tentang penjinakan anak muda oleh rezim Orde Baru kemudian dilengkapi oleh Virginia Matheson Hooker dan kawan-kawan dalam pengantar antologi Culture and Society in New Order Indonesia (1995: 12). Hooker menyebut bahwa Orde Baru sempat menyaksikan pertambahan jumlah kalangan muda berpendidikan tanpa pekerjaan. Penguasa khawatir para pemuda tersebut akan berperilaku seksual menyimpang sekaligus menjadi musuh politik pemerintah.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - )

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight