tirto.id - Perusahaan jaringan waralaba minuman olahan susu dan es krim asal Cina, Mixue, menutup ratusan gerainya di pasar internasional sepanjang tahun 2025.
Indonesia dan Vietnam menjadi dua negara yang mengalami penurunan jumlah gerai paling signifikan dalam langkah efisiensi perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru Mixue, jumlah gerai internasional perseroan menyusut sebanyak 428 unit sepanjang tahun lalu. Data perseroan menunjukkan, total gerai Mixue di luar Tiongkok Daratan mencapai 4.895 gerai pada 2024, kemudian turun menjadi 4.467 gerai pada 2025.
Untuk itu, Manajemen Mixue menyatakan bahwa perseroan saat ini tengah fokus mengoptimalkan kinerja gerai-gerai yang sudah ada.
"Perusahaan saat ini fokus mengoptimalkan operasional gerai-gerai yang sudah ada agar bisa berjalan stabil, berkelanjutan, dan bertahan untuk jangka panjang," tulis laporan keuangan Mixue dikutip, Senin (4/5/2026).
Secara spesifik, perseroan menyebut Indonesia dan Vietnam sebagai dua negara yang menjadi prioritas optimalisasi. Di kedua negara tersebut, jumlah gerai Mixue justru berkurang selama periode pelaporan.
"Di Indonesia dan Vietnam, kami fokus pada optimalisasi operasional toko yang sudah ada untuk mendukung operasional jangka panjang, berkelanjutan, dan stabil. Selama Periode Pelaporan, jumlah toko di kedua negara ini mengalami penurunan," tulis manajemen perseroan.
Meski menutup ratusan gerai, Mixue masih akan terus memperluas jaringan global. Sepanjang 2025, perseroan memasuki pasar baru seperti Kazakhstan dan Amerika Serikat. Selain itu, merek kopi segar milik Mixue, Lucky Cup, juga membuka gerai pertama di Malaysia dan Thailand.
Secara keseluruhan, jaringan toko Mixue di seluruh dunia per 31 Desember 2025 mencapai sekitar 60.000 toko, yang tersebar di Tiongkok dan 13 negara lainnya.
Dari sisi keuangan, perseroan mencatat pendapatan sebesar 33,56 miliar yuan (sekitar Rp85,3 triliun) pada 2025, meningkat 35,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Laba kotor perseroan juga naik 29,7 persen menjadi 10,45 miliar yuan (sekitar Rp26,4 triliun).
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































