Menunggu Ajal Metromini dan Kopaja pada 2018

Oleh: Mawa Kresna - 26 April 2017
Dibaca Normal 4 menit
Bus-bus Metromini dan Kopaja pernah jadi andalan transportasi warga Jakarta sejak resmi beroperasi pada 1976 di era Gubernur Ali Sadikin. Tahun depan, sesuai aturan, mereka tinggal sejarah.
tirto.id - Metromini yang dikendarai Rahman Gultom bergetar saat melintasi jalan berlubang. Kaca-kaca mobil berderam, kursi-kursi berdecit. Tetapi Rahman, pria 51 tahun, anteng saja di depan kemudi. Mengendalikan bus merah-oranye S610 jurusan Blok M–Pondok Labu, dengan tangan kiri menjepit sebatang rokok dan tangan kanan memegang kemudi, ia pelan-pelan menyusuri jalanan ibukota yang dipadati lalu-lalang kendaraan.

Rahman bahkan sesumbar, “Biar begini masih bisa lari sampai 80 kilometer per jam. Mau coba?” Ia terbahak.

Bagi Rahman, kondisi metromini yang dikendarainya dianggap terlalu biasa. Rangka kursi dari besi yang sudah berkarat. Kursi dari plastik berwarna oranye mengilap tapi rapuh. Lantai berkarat dan berlubang di sana-sini. Pedal rem, kopling, dan gas juga sudah berkarat.

Mengakali umur tua si merah-oranye, para sopir ini punya akal panjang. Pedal rem, misalnya, supaya tidak licin dililit ban. Spion yang pecah diganti spion mobil yang, karena ukurannya lebih kecil, diikat karet ban supaya erat. Tuas persneling dibiarkan lebih mirip linggis, dan kita bisa melihat aspal jalan dari lubang di bawahnya.

Sepanjang perjalanan, Rahman bangga mengisahkan metromini yang jadi sandaran penghasilannya bisa mengantarkan kedua anaknya menjadi sarjana. Di masa jaya, antara 1980-an sampai 1990-an, uang berlimpah dari menarik metromini. Masih banyak penumpang, bahkan mereka mau berdesakan dan bergelantungan. Kondisi itu kontras dari hari ini. Sepanjang Blok M-Pondok Labu, penumpang tak lebih dari 10 orang.

“Dulu bawa pulang duit Rp300 ribu sehari itu gampang. Sekarang dapat Rp100 ribu saja susah banget,” kata pria asal Medan yang menjalani profesi sebagai sopir metromini sejak 1985.

Menurunnya pendapatan dari metromini terjadi sejak 2013. Kemunculan ojek berbasis aplikasi online bikin para penumpang beralih ke transportasi yang mudah diakses itu. Pemerintah Jakarta juga terus-menerus memperbarui dan menambah halte TransJakarta, memperbanyak koridor, sehingga transportasi publik yang beroperasi sejak 2004 ini mampu melayani aktivitas warga selama 24 jam. Secara perlahan itu berdampak pada sepinya penumpang di metromini.

Belum lagi jalanan Jakarta yang makin macet. Bikin terbatas jumlah rit. Satu rit berarti satu kali pergi-pulang rute. Sampai 2010, Rahman masih bisa menarik enam sampai sepuluh rit dengan setoran Rp400 ribu per hari ke pemilik metromini. Namun, sejak 2013, kondisinya anjlok drastis.

“Ini proyek MRT bikin macet, bisa berbulan-bulan begini, rugi kita-kita. Sehari paling dapat Rp400 ribu, Rp200 ribu sudah buat setoran. Bensin Rp100 ribu. Bersih bawa pulang Rp100 ribu. Itu pun pas lagi ramai,” kata Rahman.

Kondisi itu dialami rekan-rekan seprofesi Rahman dari Kopaja. Suryadi, sopir sekaligus pemilik Kopaja 605, mengaku hanya bisa membawa pulang Rp150 ribu sehari. Bus semata wayangnya itu sebenarnya sudah ingin dijual, tetapi tidak ada yang mau membelinya.

“Kalau sopir lain yang bawa, kasihan mereka. Ya sudah, daripada enggak ada yang bawa, saya sendiri saja. Dapat paling Rp150 ribu dibagi dua sama kernet,” ujar pria berumur 52 tahun itu.

Sahat Sianturi, 37 tahun, juga begitu. Sebagai sopir tembak, ia tidak berharap mendapatkan banyak uang. Asal cukup untuk makan sehari dua kali dan rokok, ia sudah cukup senang. “Sekarang sopir benerannya saja sudah susah, apalagi kami,” katanya.

Ugal-Ugalan dan Usia Uzur

Metromini dan Kopaja, sebelum berada dalam kondisi tua seperti sekarang, pernah jadi transportasi andalan warga Kota Jakarta. Sejak resmi dikelola dalam sebuah perusahaan pada 1976, di era Gubernur Ali Sadikin, kedua angkutan umum ini mencerminkan era perubahan ibukota, meninggalkan pendahulu mereka seperti oplet.

Namun, dalam perjalanannya, dua bus kota ini berubah jadi gambaran ibukota yang menyeramkan. Aksi ugal-ugalan sopir yang dikejar setoran, maraknya kriminalitas di dalam bus, dan sederet problem lain sebagaimana umur manusia yang sudah uzur sehingga tak laik pakai dan tersengal-sengal.

Pemerintahan Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama mengajukan tawaran apa yang disebut "layanan transportasi publik terintegrasi". Solusinya, menggandeng Metromini dan Kopaja ke dalam satu operator di bawah pemerintah provinsi dengan mengintegrasikannya ke TransJakarta.

Pada 2013, sejumlah rute Kopaja ikut bergabung. Sebaliknya, Metromini tidak. Sopir-sopir Metromini bahkan menggelar aksi mogok pada akhir tahun 2015 sebagai protes atas langkah Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang melakukan razia dan mengandangkan bus-bus kota yang reyot dan ngos-ngosan.

Aksi mogok para sopir ini bikin geram Ahok, yang sampai bilang akan bikin bangkrut para pemilik dan sopir Metromini yang menolak tawaran Pemprov. Salah satu alasannya, bus-bus ini sudah bikin banyak nyawa penumpang melayang.

Alasan Ahok ada benarnya. Polda Metro Jaya mencatat, pada 2015, Metromini menjadi penyumbang 10 persen kecelakaan lalu lintas di Jakarta dari total 609 kasus. Sedangkan Kopaja menyumbang 41 kasus kecelakaan sepanjang 2015. Pada Desember 2015, sebuah Metromini jurusan Grogol-Kalideres menabrak KRL jurusan Jatinegara-Angke di pintu perlintasan kereta api di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Akibatnya, 18 orang meninggal dunia dan 6 orang luka-luka.

Para sopir bus-bus ini tergolong nekat. Mereka tetap narik meski kondisi bus tak layak uji pakai. Selama mesin masih hidup, gas dan rem masih berfungsi, mereka tetap jalan.

Sahat, misalnya, sebagai sopir tembak harus tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan bensin. Matanya lebih awas melihat kiri dan kanan jalan mencari penumpang.

“Kalau enggak gini, cuma dapat sedikit, padahal harus setor ke sopir,” ujar Sahat.

Kasus kejahatan di Metromini dan Kopaja pun kerap terjadi. Yang paling kecil adalah pencopetan. Dinda Ayu, warga Bogor berusia 23 tahun, menjadi korban pencopetan saat menaiki bus dari Ragunan ke Blok M, 17 April lalu. Ia baru sadar dompetnya raib dari tas saat turun dan hendak memesan ojek online.

Pada awal 2016, sebuah perampokan terjadi di dalam Metromini 03 jurusan Rawamangun-Senen. Korbannya Ardianto, 19 tahun. Ia ditodong pisau oleh tiga orang agar menyerahkan dompet dan ponsel miliknya.

Masalah lain soal kondisi bus yang sudah nyaris koit. Hanya perlu kreativitas para mekanik dan sopir yang bikin mesin bus-bus ini terus jalan, meski dengan napas empot-empotan.

Para penumpang juga mesti menahan diri dari bau sampah yang berserakan di lantai atau bau tak sedap lain dari besi berkarat. Belum lagi deru bus yang berisik dan asap hitam dari knalpot yang mengotori udara Jakarta, yang sudah kotor dengan padatnya kendaraan bermotor lain, kendaraan pribadi, ribuan ojek.

INFOGRAFIK HL Metromini

Musnah pada 2018

Meski masih menghasilkan uang dan menjadi sandaran hidup para sopir, bus Metromini dan Kopaja akan dimusnahkan pada 2018.

Sejak 2016, pemusnahan ini sudah dilakukan secara bertahap dengan mekanisme dua banding satu. Maksudnya, setiap perpanjangan izin trayek, dari tiga bus, akan dipertahankan dua bus dan satu bus dimusnahkan. Begitu seterusnya sampai bus habis.

Nasib itu akan segera dialami Metromini yang disopiri Rahman dan Kopaja milik Suryadi. Izin operasi mereka akan berakhir pada Agustus 2017 mendatang. Mereka hanya bisa memperpanjang sekali lagi, sebelum akhirnya dimusnahkan.

Rahman sudah berencana pulang kampung ke Medan pada 2018, sedangkan Suryadi akan pensiun dan mencari aktivitas lain di hari tuanya.

Seharusnya pemusnahan Metromini dan Kopaja sudah selesai pada September 2016, mengacu Peraturan Daerah No. 5 tahun 2014 tentang transportasi. Salah satu aturannya menyebutkan masa pakai kendaraan angkutan umum berlaku maksimal 10 tahun. Metromini dan Kopaja ada yang umurnya lebih dari 15 tahun. Pemerintah DKI Jakarta memberikan batas operasi dan izin trayek terakhir pada bulan itu. Namun, Pemprov terus memberikan kelonggaran kepada pemilik bus sembari menunggu peremajaan, lalu bergabung dengan TransJakarta.

Azas Tigor Nainggolan, mantan juragan Metromini, berkata ia sudah memusnahkan 15 Metromini miliknya sejak 2016. Bus itu dibelah-belah dan besi-besi tuanya dijual dengan harga kiloan. Tiap satu busnya hanya dihargai sekitar Rp15 juta.

“Seingat saya, September 2016, sudah tidak boleh lagi ada Metromini, semua izin trayek tidak bisa diperpanjang. Pemerintah yang bilang itu. Saya menurut saja, sudah saya musnahkan semua Metromini. Kok sekarang ternyata masih boleh, ini kacau,” kata Tigor kepada reporter Tirto, 11 April lalu.

Berdasarkan catatan Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun 2016, sampai saat ini masih beroperasi 1.500 Metromini dan 800 Kopaja. Khusu Kopaja, pada 2016, sudah ada 320 armada yang diremajakan dan diintegrasikan ke TransJakarta. Tahun depan jumlah itu hanya akan menjadi angka. Metromini dan Kopaja tinggal sejarah.

Baca juga artikel terkait TRANSPORTASI PUBLIK atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan