Menuju konten utama

Menumbuhkan Kembali Asa Swasembada Bawang Putih

Indonesia dorong swasembada bawang putih lewat strategi ilmiah, perluasan lahan di 17 provinsi, dan penguatan teknologi pascapanen bagi petani.

Menumbuhkan Kembali Asa Swasembada Bawang Putih
Petani bawang putih. FOTO/iStock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id -

Di Indonesia, bawang putih (allium sativum. L) adalah bumbu esensial yang tersedia di hampir seluruh dapur masyarakat. Ia adalah jiwa dari kuliner Nusantara yang memberikan aroma harum dan rasa gurih yang khas. Seiring dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, kebutuhan akan bawang putih pun terus melonjak tajam.

Pada tahun 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi bawang putih oleh sektor rumah tangga melonjak sebesar 16,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai angka 635,5 ribu ton. Dengan tingkat partisipasi rumah tangga yang mengonsumsi komoditas ini mencapai 91,99 persen, bawang putih praktis telah menjadi kebutuhan pokok harian masyarakat.

Namun, lonjakan kebutuhan ini kontras dengan kapasitas produksi domestik kita yang masih minim. Produksi bawang putih nasional tahun 2025 berada di kisaran 36,86 ribu ton, mengalami penurunan sekitar 6,54 persen dibandingkan tahun 2024.

Secara historis, produksi bawang putih nasional kita ajek bergerak di angka 39.000 hingga 40.000 ton per tahun. Gap yang lebar antara produksi dan kebutuhan riil ini memaksa Indonesia bergantung pada keran impor untuk memenuhi sekitar 90 hingga 95 persen kebutuhan pasar.

Ketergantungan impor inilah yang kerap kali memicu kekhawatiran masyarakat akan fluktuasi harga dan ketersediaan bawang putih di pasaran. Pada 2025, nilai impor bawang putih Indonesia mencapai 608,57 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, Tiongkok menjadi negara asal utama dengan volume 531,13 ribu ton dan nilai impor 591,62 juta dolar AS.

India berada di posisi berikutnya dengan volume 11,04 ribu ton. Pada tahun 2025, sinyal positif terlihat seiring dengan penurunan nilai impor bawang putih sebesar 20,55 persen dibanding tahun 2024. Penurunan ini menjadi indikasi awal berkurangnya ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Siasat Ilmiah

Pemerintah harus mengambil langkah strategis untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Membangun kembali swasembada bukanlah persoalan membalik telapak tangan, melainkan membutuhkan pendekatan ilmiah guna menyiasati keterbatasan agroklimat.

Selama ini, sentra pertanaman bawang putih di Indonesia tumbuh subur di wilayah dataran tinggi dengan ketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Peta agroklimat tradisional menempatkan Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur sebagai sentra-sentra penghasil utama.

Kini, bawang putih tidak hanya bisa ditanam di dataran tinggi. Berkat pengembangan teknologi dan varietas, tanaman ini mulai dapat dibudidayakan di dataran medium sekitar 600 mdpl hingga dataran rendah. Kuncinya adalah memilih varietas yang sesuai dengan kondisi lahan.

Misalnya, Lumbu Hijau cocok untuk dataran tinggi 900–1.100 mdpl, Lumbu Kuning untuk 600–900 mdpl, dan Lumbu Putih untuk dataran rendah 6–200 mdpl. Sementara itu, Tawangmangu Baru dapat ditanam di wilayah dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl.

Selain memperluas lahan tanam, peningkatan produktivitas juga perlu dimulai dari penggunaan benih yang berkualitas. Benih yang baik memiliki siung yang padat, pangkal batang yang keras, serta bebas dari hama dan penyakit.

Upaya meningkatkan kualitas benih juga dilakukan melalui pemupukan dan pengembangan teknologi seperti kultur jaringan untuk menghasilkan bibit yang sehat dan berproduksi tinggi.

Gerakan Serentak di 17 Provinsi

Guna memperkuat produksi nasional untuk mencapai swasembada, pemerintah mendorong pengembangan sentra produksi baru melalui gerakan penanaman bawang putih serentak di 17 provinsi di seluruh Indonesia yang mencakup potensi lahan seluas 2.593 hektare. Gerakan ini disokong secara nyata melalui sinergi program pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, akademisi, hingga kelompok tani di daerah.

Di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, komitmen ini diterjemahkan lewat kucuran bantuan anggaran Kementerian Pertanian senilai Rp 55,65 miliar. Dukungan tersebut dialokasikan untuk pengembangan kawasan bawang putih seluas 658 hektare senilai Rp52,64 miliar, lengkap dengan sarana produksi pendukung seperti 15 unit irigasi perpompaan, 9 unit traktor tangan, dan 17 unit pompa air untuk memudahkan kerja para petani.

Bantuan prasarana ini memberikan dampak nyata pada panen raya yang digelar pertengahan Agustus 2026. Berlangsung di lahan seluas 105 hektare, panen raya tersebut mencatatkan estimasi produksi mencapai 1.050 ton bawang putih berkualitas tinggi yang digarap oleh 9 kelompok tani dengan melibatkan 287 petani setempat.

Penguatan ini disempurnakan dengan dukungan pembangunan infrastruktur gudang penyimpanan berteknologi pascapanen di Sembalun guna menstabilkan kualitas pasokan pascapanen
Gudang tersebut memiliki teknologi mumpuni yang dapat menjaga kualitas bawang putih selama distribusi.

Fasilitas yang tersedia tak hanya sebatas penyimpanan, tetapi mencakup pengeringan, grading, dan pengemasan memastikan kualitas bawang putih dalam waktu yang cukup lama.

Kesuksesan lainnya juga datang dari kaki Gunung Slamet, tepatnya di Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Melalui kolaborasi antara Polres Tegal, Pemerintah Kabupaten Tegal, TNI, kelompok tani, dan penyuluh pertanian, gerakan penanaman dan panen raya bawang putih dilakukan secara berkelanjutan.

Hasil panen raya pada lahan binaan warga setempat menunjukkan produktivitas yang sangat mengesankan. Salah satu lahan binaan milik H. Ir. Moch. Ibnu Efendi seluas sekitar 1,6 hektare telah menghasilkan sekitar 4,5 ton dari panen pada Juli hingga awal Agustus 2026. Sementara lahan lain yang dimiliki H. Abdul Jafar Cs seluas sekitar 30 hektare telah dipanen sekitar 25 hektare dengan rata-rata hasil sekitar 14 ton per hektare.

Pengembangan masih dilanjutkan dengan penanaman sekitar 20 hektare dan rencana penambahan sekitar 8 hektare pada akhir Agustus hingga awal September.

Pencapaian yang dicatatkan di Lombok Timur dan Tegal menunjukkan bahwa ketika dukungan sarana prasarana yang memadai dijalankan bersamaan dengan pembinaan teknis yang konsisten di lapangan, menunjukkan potensi peningkatan produktivitas bawang putih lokal.

Puncak panen nasional yang biasanya terkonsentrasi di bulan April kini mulai bergeser ke arah pasokan yang lebih merata sepanjang tahun seiring dengan ekspansi luas tanam baru yang terus berkelanjutan.

Upaya terintegrasi ini perlahan-lahan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan impor, menstabilkan harga di tingkat konsumen, dan pada akhirnya mengembalikan keharuman bawang putih lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis