tirto.id - Sekolah Rakyat dirancang sebagai program pendidikan afirmatif yang memakai pendekatan khusus. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera yang berstatus desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi (DTSEN).
Hal ini ditegaskan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam pertemuan Sekretariat Bersama (Sekber) Sekolah Rakyat bersama Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Daerah Bogor di Selalu Ada Kafe, Kantor Kementerian Sosial, Kamis (2/4/2026).
"Sekolah Rakyat ini adalah untuk anak-anak dari keluarga yang ‘istimewa’," ujarnya.
Karena sasarannya istimewa, kata Gus Ipul, maka seluruh aspek di dalam penyelenggaraan program ini juga dirancang secara khusus. "Gurunya harus istimewa dari sisi kapasitas, kemampuan, dan pemenuhan hak-haknya. Semuanya harus istimewa,” kata dia.
Sekolah Rakyat juga dilengkapi fasilitas pembelajaran modern. Setiap siswa memperoleh laptop, seragam, dan alat belajar yang lengkap.
Proses pembelajaran pun didukung learning management system dan papan tulis digital, sementara para guru dibekali perangkat teknologi mutakhir untuk menunjang kualitas pengajaran.
"Setiap siswa dapat laptop, seragam lengkap dan peralatan sekolah lengkap. Proses belajarnya sudah LMS (serta) papan tulisnya sudah digital. Ini adalah sekolah istimewa. Untuk anak-anak istimewa dengan afirmasi istimewa," ujar Gus Ipul.
Bangunan sekolahnya pun dibangun dengan standar khusus. Pemerintah meminta daerah menyiapkan lahan terbaik yang memenuhi persyaratan teknis Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini sebagai wujud keseriusan menghadirkan lingkungan belajar yang layak bagi murid-murid Sekolah Rakyat.
Gus Ipul menekankan bahwa Sekolah Rakyat tidak berfokus ke pendidikan semata. Program ini sekaligus menyentuh keluarga siswa agar lebih berdaya. Orang tua murid mendapatkan bantuan sosial dan hunian mereka diperbaiki agar lebih layak huni.
"Karena ini sekolah istimewa. Anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan. Rumahnya dibantu supaya lebih layak huni dan diberi bansos lengkap," jelasnya.
"Nanti (orang tuanya) didorong menjadi anggota Koprasi Desa Merah Putih dan diintervensi dengan program strategis Presiden Prabowo. Nanti anak-anaknya lulus, orang tuanya juga naik kelas. Itulah istimewanya gagasan Presiden," ujar Gus Ipul menambahkan.
Menurut Gus Ipul, antusiasme siswa Sekolah Rakyat untuk melanjutkan pendidikan juga cukup tinggi. Dari sekitar 6.000 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas, sebanyak 74 persen menyatakan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara sisanya memilih terjun sebagai tenaga kerja terampil setelah lulus kelak.
Pemerintah memastikan seluruh lulusan Sekolah Rakyat akan mendapatkan pendampingan lanjutan, baik untuk melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.
Upaya ini akan dilakukan melalui sinergi lintas kementerian di bidang pendidikan tinggi dan ketenagakerjaan. "Intinya lulusan Sekolah Rakyat akan dikawal sampai dia benar-benar bisa menjadi agen perubahan," kata Gus Ipul.
Dalam hal rekrutmen, Sekolah Rakyat sengaja tidak membuka pendaftaran terbuka untuk umum. Calon siswa dijaring langsung berbasis data DTSEN, lalu diverifikasi di lapangan oleh pendamping sosial bersama pemerintah daerah setempat.
"Pastikan bahwa rekrutemen ini jauh dari kongkalikong, suap-menyuap dan dari titipan-titipan yang jauh dari tujuan penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Saya terus terang dititipi (amanah) oleh Presiden. (Sekolah Rakyat) harus dijaga betul," tegas Gus Ipul.
Pertemuan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wakil Ketua II Sekber Sekolah Rakyat Juhari, Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku Affandi Z. Hassanusi, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Abidin Said, serta para perwakilan Pemerintah Kota Bogor.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































