tirto.id - 30 Januari 2026. Suara gemuruh yel-yel membelah udara, mengalahkan suara gerimis tipis yang turun pagi itu. Sebanyak 1.622 orang berseragam putih hitam dan rompi krem tetap berdiri tegak. Mereka dengan hikmat mengikuti upacara pengukuhan sebagai pelayan duyufurrahman atau para tamu Allah.
Sejak masuk “barak” Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 10 Januari 2026, hujan memang selalu membersamainya. Bahkan sejak tiga hari jelang penutupan diklat di Lapangan Galaxy, Makodau I Halim Perdanakusuma, hujan selalu mengguyur. Lapangan upacara yang hijau penuh rumput berubah menjadi hamparan lumpur.
Akan tetapi, kondisi terebut tidak menyurutkan semangat para peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi 2026 itu, dalam mengikuti rangkaian penutupan dan pengukuhan sebagai petugas haji. Wajah-wajah mereka tampak lelah, tapi semangatnya tetap menyala.
Mayoritas dari mereka bukan tentara atau polisi, tapi kedisiplinan mereka saat ini hampir menyerupai para prajurit militer. Selama 20 hari mereka ditempa pendidikan semi-militer. Mereka dilatih kedisiplinan dan pelatihan baris-berbaris atau PBB.
Tujuan diklat ini adalah menghadirkan petugas yang berintegritas dan profesional dengan empat sasaran. Pertama, fisiknya kuat dan bugar karena 90 persen ibadah haji identik dengan ibadah fisik. Kedua, mentalnya harus tangguh dalam melayani jemaah haji, bukan dilayani.
Ketiga, selama diklat, para petugas juga dibekali pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni sesuai tugasnya masing-masing, termasuk manasik haji serta gladi posko Armuzna. Keempat, diklat ini diharapkan menciptakan bonding dan adanya persatuan yang kuat di antara para petugas.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan, selama 20 hari di barak mereka dilatih semi-militer, terutama soal kedisiplinan, rentang komando, hingga kekompakan. Para peserta diklat yang datang dari latar belakang berbeda ini menjadi kompak, menjadi satu kesatuan.
“Tadi teman-teman lihat sendiri mereka, bahkan bapak-bapak yang [dari] militer juga [merasa] aneh, ini kok bisa tertib dan rapi,’ kata Dahnil saat meninjau kesiapan upacara penutupan dan pengukuhan Diklat PPIH Arab Saudi 2026, di Lapangan Galaxy, Makodau I, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (29/1/2026).
Salah satu pelatih yang juga Komandan Kompi B Diklat PPIH 2026, Mayor Marinir Rofig, mengatakan, latihan PBB diharapkan membuat para petugas haji lebih disiplin, karena PBB memiliki makna atau pelajaran kekompakan, kebersamaan.
Menurut dia, dalam PBB tidak ada orang bergerak sendiri-sendiri, tentu selalu kompak, selalu bersama-sama sesuai komando dari pimpinannya.
“Nanti ketika di Arab Saudi, dia pun bekerja selayaknya seorang PBB, dia akan selalu mendengarkan dan melaksanakan perintah dari pimpinannya dan bekerja bukan maunya sendiri-sendiri, namun bekerja untuk kebersamaan untuk mencapai hasil yang lebih maksimal sehingga memberikan pelayanan terhadap jemaah haji dengan baik dan hasil yang baik," kata dia di lokasi pelatihan, Selasa (12/1/2026).

Mengubur Ego
Pengukuhan kali ini memang bukan sekadar seremonial belaka. Berdasarkan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto, pembinaan petugas haji tahun ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih serius, terutama terkait kedisiplinan dan dedikasi para petugas.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya, petugas hanya mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) selama beberapa hari yang seringkali dianggap formalitas, kali ini mereka ditempa selama satu bulan penuh. Durasi tersebut dibagi menjadi 20 hari pelatihan intensif di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta dengan sistem semi-militer, yaitu 10 hingga 30 Januari 2026, dan akan dilanjutkan pendalaman materi secara daring selama 10 hari, sejak 2 hingga 11 Februari 2026.
Hasilnya pun mulai tampak. Selama 20 hari di asrama, para petugas yang notabene warga sipil dengan latar belakang beragam, mulai dari dosen, pejabat kementerian atau lembaga, tenaga ahli DPR, tegana kesehatan (dokter dan perawat), jurnalis, para kiai, gus atau neng (putra dan putri pengasuh pesantren), hingga freelance, dididik untuk memahami rentang komando, kekompakan, dan jiwa korsa.
Selama 20 hari di asrama, para peserta diklat ini selalu ditekankan agar “mengubur egonya masing-masing” supaya siap menjadi pelayan jemaah haji, bukan minta dilayani dan hanya nebeng haji. Apalagi pada musim haji 2026 ini, terdapat sekitar 33 ribu jemaah lansia. Karena itu, para petugas haji diminta mendampingi mereka secara maksimal.
“Di sinilah urgensi kenapa petugas-petugas haji itu adalah orang-orang yang punya tanggung jawab tinggi, disiplin tinggi, fisik tinggi, stamina tinggi," kata Dahnil di sela-sela kegiatan Diklat PPIH Arab Saudi hari ke-17 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (26/1/2026).
Dahnil meminta agar para petugas haji yang bertugas di Arab Saudi dapat mendampingi dan melayani jemaah secara maksimal. Hal itu, kata Dahnil, hanya dapat dilakulan oleh petugas haji dengan fisik dan stamina yang baik.

Petugas Haji sebagai Wajah Negara
Saat penutupan, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, menekankan kembali soal amanah negara bagi para petugas haji 2026. Ia meminta para petugas haji meningkatkan kualitas pelayanan karena mereka adalah cerminan negara saat melayani jemaah haji di Tanah Haram nanti.
Dalam arahannya, Gus Irfan mewakili Presiden Prabowo Subianto menegaskan, penyelenggaraan ibadah haji merupakan amanah besar negara yang menyangkut kehormatan bangsa dan kepercayaan umat.
“Dengan jumlah jemaah terbesar di dunia, penyelenggaraan haji menuntut tata kelola yang tertib serta petugas yang berorientasi penuh pada pelayanan,” kata Gus Irfan pada Jumat (30/1/2026).
Karena itu, Gus Irfan menekankan, petugas PPIH harus sigap, disiplin, dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada jemaah. Disiplin dan kesadaran dalam bertindak menjadi fondasi utama agar pelayanan berjalan dengan integritas dan tidak kehilangan nilai pengabdian.
“Tanpa disiplin, pelayanan akan kehilangan ruhnya. Hadirkan negara secara nyata melalui pelayanan prima. Setiap pelayanan yang diberikan kepada jemaah adalah wajah negara,” kata dia.
Ia juga mengingatkan pentingnya etika, integritas, dan komitmen menjaga nama baik Indonesia di mata dunia. Dengan ridho dan doa keluarga, petugas diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan.
Melalui diklat ini, Kemenhaj menegaskan kesiapan PPIH sebagai garda terdepan pelayanan haji, guna memastikan setiap jemaah memperoleh layanan yang aman, nyaman, dan bermartabat sebagai wujud nyata kehadiran negara.

Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id



























