tirto.id - Kamis sore, 8 Juli 1976, satelit pertama milik Indonesia yang diberi nama “Satelit Palapa” diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat (AS). Satelit Palapa diluncurkan menggunakan roket Delta 2914 pada pukul 19.30 waktu setempat.
Para pejabat Indonesia hadir secara langsung untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut. Peluncuran itu dianggap sebagai momen bersejarah sekaligus membanggakan bagi Indonesia. Pasalnya, di era 1970-an, tidak semua negara di dunia memiliki satelit.
Menurut catatan Ishadi Sutopo dan Sumarsono Soemardjo dalam buku Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya (1999: 8), Indonesia menjadi negara ketiga setelah Kanada dan AS yang membangun sistem komunikasi satelit domestik.
Lompat 49 tahun kemudian, Cape Canaveral kembali menjadi saksi sejarah bagi perkembangan satelit Indonesia. Rabu, 10 September 2025, Satelit Nusantara Lima (N5) resmi diluncurkan dari kawasan peluncuran roket yang terletak di wilayah tenggara AS itu. Satelit milik PT Satelit Nusantara Lima (SNL) —anak usaha PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN)— itu diluncurkan dengan menggunakan bantuan roket Falcon 9 milik perusahaan teknologi luar angkasa, SpaceX.
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengeklaim, peluncuran satelit dilakukan untuk kepentingan masyarakat. Melalui N5, jaringan internet disebut akan semakin merata di Indonesia. Satelit itu juga diharapkan akan menjadi jembatan bagi masyarakat dari Barat hingga Timur.
"Anak-anak di Maluku dan Papua akan punya akses belajar yang sama dengan anak-anak di Jakarta, pasien di pulau kecil bisa konsultasi dengan dokter terbaik, dan UMKM kita bisa bersaing di dunia digital. Inilah makna pemerataan digital yang sesungguhnya,” tambah Menkomdigi Meutya.
Meutya menambahkan, peluncuran satelit N5 yang merupakan hasil kerja sama global dengan Boeing Satellite Systems, Hughes Network Systems, dan SpaceX itu sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto. Prabowo sejak awal menekankan pentingnya kemandirian dan kedaulatan teknologi. Transformasi digital adalah program strategis agar seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan manfaat pembangunan secara merata.
Satelit N5 dijadwalkan akan mulai beroperasi pada kuartal pertama tahun 2026 mendatang.
Dengan kapasitas 160 Gbps, N5 menjadi satelit komunikasi yang terbesar di Asia Tenggara. Mengutip keterangan resmi Pemerintah Indonesia, dengan kehadiran satelit tersebut, saat ini total kapasitas satelit Indonesia mencapai hampir 400 Gbps. Satelit N5 juga memiliki teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS), yang menyediakan bandwidth besar dan kecepatan data tinggi.
Satelit ini akan menempati slot orbit strategis 113° Bujur Timur atau golden spot yang mencakup seluruh wilayah Indonesia dan memperkuat konektivitas di kawasan timur.
Seturut kata Meutya, satelit N5 diharapkan akan membuka peluang lebih luas bagi pendidikan jarak jauh, layanan kesehatan digital, UMKM berbasis daring, hingga akses hiburan dan informasi bagi masyarakat di pelosok yang selama ini sulit terjangkau.

PT PSN, perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia yang menjadi pemilik satelit N5 telah menyiapkan delapan stasiun bumi dari ujung barat hingga timur Indonesia untuk menopang layanan satelit itu.
Pembangunan stasiun bumi yang terletak di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, Kupang dan Makassar itu ditujukan agar satelit N5 dapat benar-benar menjangkau seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Selain wilayah Tanah Air, satelit N5 juga disebut memiliki jangkauan hingga luar negeri, seperti Filipina dan Malaysia. Sejak 2022, PSN sudah bekerja sama dengan perusahaan layanan jasa satelit di Filipina, We Are IT Philippines Inc, untuk mendukung konektivitas di wilayah-wilayah terpencil. Melalui kerja sama itu, PSN dapat menyediakan koneksi internet di Filipina dengan kapasitas 13,5 Gbps. Dengan begitu, N5 tak hanya menjadi jembatan bagi Indonesia, tetapi juga bagi kawasan ASEAN.
Direktur Utama (Dirut) PT PSN Adi Rahman Adiwoso mengatakan, kehadiran satelit N5 itu diharapkan dapat menjawab kebutuhan layanan internet warga Indonesia yang semakin meningkat pada era transformasi digital saat ini. Lewat satelit itu, Adi berharap kualitas kehidupan masyarakat Indonesia akan semakin meningkat.
“PSN meyakini kemudahan dalam mengakses layanan internet yang terbaik merupakan hak seluruh warga negara Indonesia di tengah pesatnya transformasi digital saat ini. Kami berharap kehadiran layanan PSN menjadi katalisator dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sehingga turut berkontribusi dalam mendukung kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia,”ujar Adi dalam keterangan resminya di situs PT PSN, Tirto kutip, Senin (15/9/2025).
Menimbang Manfaat dan Kelemahan dari Satelit N5
Pengamat teknologi informasi dan keamanan siber Alfons Tanujaya menilai, peluncuran satelit N5 tidak serta-merta dapat disebut sebagai, “game changer” dalam dunia telekomunikasi nasional.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami karakteristik satelit N5 yang tergolong ke dalam satelit orbit geostasioner. Satelit itu dikenal memiliki latensi tinggi, sehingga performanya berbeda dengan solusi berbasis fiber optik atau satelit orbit rendah (Low Earth Orbit, LEO).
Alfons menjelaskan, satelit orbit geostasioner memiliki biaya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan satelit LEO. Sehingga, satelit jenis itu disebutnya tidak bisa untuk mensubstitusi penggunaan satelit LEO secara keseluruhan. Satelit orbit geostasioner hanya mampu diandalkan sebagai cadangan saat situasi darurat.
“Latensi tinggi 500-600 ms yang menjadi ciri khas satelit orbit geostasioner [dengan] tinggi 36.000 km. Kapasitas per pengguna terbatas jika dibandingkan dengan LEO. Biaya per satelit tinggi jika dibandingkan dengan LEO. Dan jelas tidak bisa digunakan untuk menyaingi atau menggantikan fiber atau LEO. Paling sebagai backup di saat darurat saja dan menjangkau daerah yang sangat terpencil, tapi itu juga sudah bisa dilakukan oleh LEO,” terang Alfons menjabarkan karakteristik satelit N5 kepada Tirto, Senin (16/9/2025).
Ia menekankan bahwa tulang punggung internet global pada dasarnya berbasis kabel serat optik, bukan satelit. Satelit, baik N5 maupun LEO seperti Starlink, sebaiknya hanya diposisikan sebagai jalur alternatif, bukan jalur utama. Menurutnya, pemahaman ini penting agar strategi pembangunan digital Indonesia tetap terarah.
Alfons menjelaskan, penggunaan koneksi nirkabel (wireless) seperti melalui satelit tidak akan bisa menggantikan koneksi dengan kabel (wired). Sebab, koneksi nirkabel dengan satelit tidak memiliki keandalan anti cuaca dan juga kalah dari sisi kecepatan. Ia menambahkan bahwa koneksi kabel lebih mudah dikontrol secara keamanan dan kedaulatan digital.

Dari sisi kesiapan infrastruktur, Alfons menilai layanan satelit ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh operator telekomunikasi dan penyedia layanan internet/internet service provider (ISP) besar yang sudah memiliki perangkat pendukung. Namun, pemanfaatan itu juga menuntut modernisasi perangkat dan investasi tambahan yang bisa meningkatkan biaya.
Ia menyebutkan untuk skala korporat, satelit ini masih relevan digunakan, tetapi akan sulit bersaing dengan investasi di LEO yang menawarkan latensi lebih baik. “Secara umum di lokasi tertentu sudah bisa memanfaatkan Nusantara 5, tetapi terbatas pada operator telekomunikasi dan ISP besar. Namun, hal tersebut juga membutuhkan modernisasi perangkat yang pada akhirnya menaikkan biaya,” jelasnya.
Mampukah satelit N5 tekan harga pakai internet masyarakat?
Dampak positif tentu tetap ada, terutama jika dibandingkan dengan ketiadaan satelit. Namun, Alfons meragukan N5 akan mampu menurunkan harga internet secara signifikan. Pasalnya, preferensi konsumen pasti akan lebih tertuju kepada satelit LEO yang memiliki latensi lebih baik dan harga lebih terjangkau.
Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah menemukan model bisnis yang tepat. Satelit ini dinilai lebih cocok digunakan untuk kebutuhan broadcast, siaran pendidikan jarak jauh, atau sistem peringatan dini bencana, early warning system (EWS); ketimbang layanan internet harian yang membutuhkan latensi rendah.
Bagi Alfons, strategi pemanfaatan satelit harus realistis dan tidak membebani ekspektasi publik. Ia menyarankan pemerintah dan pengelola satelit N5 menjalin komunikasi erat dengan operator besar, stasiun TV, dan lembaga pendidikan.
“Penyelenggara Nusantara 5 bisa berkomunikasi dengan provider telekomunikasi dan ISP besar yang umumnya sudah memiliki pengalaman dan perangkat Very Small Aperture Terminal (VSAT) yang dibutuhkan sehingga bisa cepat memanfaatkan kapasitas bandwidth yang sudah ada. Komunikasi dengan pemerintah dan stasiun TV yang membutuhkan broadcast dan pendidikan juga bisa dilakukan karena disinilah keunggulan N5 dan jangan terlalu fokus pada layanan internet konvensional,” tutupnya.
Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Satelit N5
Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengakui, kehadiran satelit N5 sebagai bagian penting dari pembangunan infrastruktur digital, meskipun tidak sepenuhnya revolusioner.
Heru menyebut bahwa satelit ini adalah pengganti dari Nusantara Dua yang gagal mengorbit, sehingga kehadirannya lebih sebagai penguat infrastruktur, bukan pembuka era baru.
“Satelit Nusantara Lima atau N5, memang punya potensi besar untuk memperkuat dunia telekomunikasi dan infrastruktur digital Indonesia. Dengan kapasitas 160 Gbps dan teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS), satelit ini bisa menyediakan internet cepat ke seluruh pelosok negeri,” kata Heru kepada Tirto, Senin (15/9/2025).
Ia menambahkan, kapasitas yang dimiliki satelit N5 sebanding dengan Satelit Satria-1 milik Komdigi. Karena itu, ia tidak melihat N5 sebagai suatu hal yang luar biasa, melainkan salah satu instrumen untuk memperkuat pemerataan konektivitas.

Menurutnya, kunci keberhasilan N5 justru ada pada integrasinya dengan ekosistem yang sudah ada. Kontribusi terhadap daerah 3T disebut akan terasa signifikan, jika infrastruktur pendukung seperti ground station dibangun dengan baik.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya kesiapan ekosistem operator dan penyedia layanan agar kapasitas besar yang tersedia tidak menjadi sia-sia. Menurut Heru, secara umum ekosistem telekomunikasi Indonesia sudah siap, tetapi butuh kolaborasi dan koordinasi agar layanan satelit ini bisa dimanfaatkan secara optimal.
“Ekosistem penyedia layanan, termasuk UMKM digital [sudah] siap, karena permintaan konektivitas tinggi. Tapi tantangannya di upgrade ground equipment dan training SDM untuk teknologi VHTS. Secara keseluruhan, ya siap. Tapi maksimal butuh kolaborasi antaroperator agar bandwidth 160 Gbps tak sia-sia,” ucapnya.
Heru melihat bahwa dalam jangka pendek, N5 akan memperluas akses internet di daerah terpencil, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih jauh, termasuk memperluas inklusi finansial dan memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Antisipasi risiko teknis
Meski begitu, ia mengingatkan adanya risiko teknis maupun bisnis yang harus diantisipasi. Gangguan satelit di orbit, ancaman keamanan siber, hingga persaingan dengan penyedia LEO seperti Starlink dapat menghambat pemanfaatan N5.“Investasi di N5 rawan tak efektif kalau tantangan tak diantisipasi. Risiko teknis seperti gangguan di orbit, kemudian cyber security juga krusial karena satelit rentan diretas. Kompetisi dengan LEO seperti Starlink juga bisa bikin N5 kalah saing kalau tarif tak kompetitif,” ujar Heru.
Menurutnya, jika alokasi bandwidth diprioritaskan untuk wilayah 3T dan distribusi layanan diatur dengan baik, N5 akan memberi kontribusi nyata. Sebaliknya, jika pengelolaan tidak matang, kapasitas yang besar bisa terbuang percuma seperti kasus satelit sebelumnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id

































