Menuju konten utama

Mendukbangga: 8,1 Juta Keluarga Berisiko Stunting di Indonesia

8,1 juta terdiri atas 2,9 juta tidak memiliki jamban yang layak, kemudian 1,7 juta tidak memiliki air minum utama yang layak, dan 4,3 juta termasuk PUS 4T.

Mendukbangga: 8,1 Juta Keluarga Berisiko Stunting di Indonesia
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/2/2025). Rapat kerja tersebut membahas laporan perkembangan pelaksanan rekomendasi Panja Pengawasan Komisi IX DPR atas Percepatan Penurunan Stunting. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Spt.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, mengungkapkan sebanyak 8,1 juta keluarga berisiko stunting (KRS) di Indonesia berdasarkan hasil Pendataan Keluarga 2025.

Wihaji menjelaskan, pemerintah mengidentifikasi sekitar 8,1 juta dari 41,4 juta keluarga yang masuk kategori pasangan usia subur (PUS) berisiko mengalami stunting.

“Yang pertama ada 41,4 juta keluarga dengan pasangan usia subur. Dari 41 juta teridentifikasi 8,1 juta KRS. Kemudian dari 8,1 juta KRS ada 1.052.947 KRS desil satu,” kata Wihaji di dalam ruang rapat komisi IX DPR RI, Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Ia merinci, jutaan keluarga berisiko stunting tersebut masih menghadapi berbagai persoalan dasar yang berkaitan dengan sanitasi, akses air bersih, hingga perencanaan keluarga.

“Kemudian dari data tersebut 8,1 juta terdiri dari 2,9 juta tidak memiliki jamban yang layak, kemudian 1,7 juta tidak memiliki air minum utama yang layak, dan 4,3 juta termasuk PUS 4T: terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu sering, dan tidak menggunakan KB modern,” ujarnya.

Wihaji mengatakan, data tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menjalankan berbagai intervensi percepatan penurunan stunting, termasuk melalui program Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (GENTING).

Menurut dia, sasaran utama GENTING berasal dari keluarga berisiko stunting, khususnya kelompok desil terbawah.

“Dari desil satu yang tadi saya sampaikan 1.052.000 target GENTING kita 1 juta. 1 juta ini tidak hanya desil satu tapi juga desil 1 sampai 3,” kata Wihaji.

Ia mengklaim realisasi program tersebut pada 2025 telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah.

“Untuk itu pada hari ini saya laporkan kepada Ibu pimpinan dan Bapak sekalian bahwa capaian GENTING tahun 2025 alhamdulillah sudah tercapai 1,6 juta dari target 1 juta. Paling banyak memang edukasi, baru bantuan nutrisi, air bersih, jamban sehat, dan rumah layak huni,” tuturnya.

Selain memaparkan jumlah keluarga berisiko stunting, Wihaji juga mengakui prevalensi stunting nasional masih berada di atas target pemerintah.

“Perlu saya laporkan terakhir untuk 2025 adalah 19,8 persen dari target 18,8 persen. Kemudian nanti mohon maaf, 19,8 persen tahun 2024 kemudian target 2025 18,8 persen dan sampai nanti tahun 2029 targetnya 14,2 persen,” ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Wihaji menegaskan kementeriannya memiliki lima peran utama dalam percepatan penurunan stunting, yakni penyediaan data, pendampingan keluarga berisiko stunting, pendampingan calon pengantin atau pasangan usia subur, surveilans keluarga berisiko stunting, serta audit kasus stunting.

Ia juga menyebut penguatan pendamping di lapangan terus dilakukan melalui 17.730 petugas penyuluh KB dan PLKB serta 597.645 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas mendampingi keluarga dalam upaya pencegahan stunting.

Baca juga artikel terkait STUNTING atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher