Menanti Kehancuran ISIS dari Serangan Terakhir SDF

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 17 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
ISIS dibayangi keruntuhan sejak Mosul dan Raqqa jatuh pada 2017.
tirto.id - Lima tahun lalu, tepatnya 8 April 2013, Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan ISIS. Kekuatan utamanya bertumpu pada jihadis-jihadis Al-Qaeda di Irak dan beberapa kelompok milisi antipemerintah di Suriah. Namun kemudian Ayman Al-Zawahiri, pemimpin Al-Qaeda, menampik bahwa ISIS adalah bagian dari kelompoknya.

Meski demikian ISIS lalu berkembang pesat melebihi Al-Qaeda. Secara de facto mereka benar-benar mendirikan kekhalifahan Islam dengan merebut kota-kota di Irak dan Suriah.

Medio 2013 mereka menguasai Kota Raqqa di Suriah dan kemudian menjadikannya sebagai ibukota kekhalifahan. Lalu pada Juni 2014, ISIS mencaplok kota terbesar kedua di Irak, Mosul. Kejadian ini benar-benar bikin dunia terkejut. AS segera menetapkannya sebagai ancaman global.

Sejak itu, seperti dilaporkan Jason Burke dari The Guardian, ISIS telah mengendalikan populasi kena pajak sekitar tujuh atau delapan juta orang. ISIS juga menguasai ladang minyak hingga rute penyelundupan yang menguntungkan. Senjata, amunisi, dan peralatan militer modern dalam jumlah besar pun semakin memperkuat kedudukan mereka.


Tetapi kini, situasi sudah berbalik. ISIS sedang menuju titik kehancurannya. Menilik ke belakang, ISIS mengalami kemunduran ketika Mosul berhasil di rebut kembali pada Juni 2017. Operasi militer pasukan gabungan Irak dan Koalisi dimulai sejak Oktober 2016. Pasukan Irak bergerak dari selatan dan YPG Kurdi dari utara.

Itu adalah perang yang sulit. Butuh sekira delapan bulan bagi pasukan gabungan itu untuk bisa merebut Mosul—itupun belum keseluruhan kota. Setidaknya pasukan koalisi itu berhasil memberi pukulan telak kepada ISIS kala berhasil merebut Masjid Agung Al-Nuri dan menara Al-Hadba pada 29 Juni 2017.

Masjid tua itu merupakan situs penting bagi ISIS. Di masjid itulah Abu Bakar Al-Baghdadi pertama kali tampil di muka umum setelah merebut Mosul dan mendeklarasikan kekhalifahan pada 2014. Direbutnya Mosul, dan terutama masjid itu, menandai hilangnya setengah wilayah ISIS di Irak.

"Kembalinya Masjid al-Nuri dan Menara al-Hadba ke pangkuan bangsa menandai berakhirnya negara ISIS yang penuh kepalsuan," kata Perdana Menteri Haider al-Abadi seperti dilansir Reuters.

Musabab Kejatuhan ISIS


Sejak kejatuhan Mosul, ISIS terus tergencet hingga pada Oktober 2017 Syria Democratic Front (SDF) berhasil merebut Raqqa. Dalam perang sejak 2014 hingga 2017, ISIS telah kehilangan sekira 60.000-an jihadisnya. Dalam tiga tahun itu ISIS juga telah kehilangan 78 persen teritorinya di Irak dan 58 persen teritori di Suriah. Terebutnya Raqqa tentu jadi kehilangan sangat besar bagi ISIS, karena kepemimpinan telah rontok, administrasi kekhalifahan otomatis tak efektif, kamp pelatihan hilang, dan aliran propaganda ISIS pun jadi surut.

Seturut laporan Zack Beauchamp di laman Vox, ada dua alasan utama yang jadi biang kemunduran ISIS di Suriah. Pertama adalah sifatnya yang eksklusif. ISIS tak mau berkolaborasi dengan kelompok-kelompok antirezim Bashar Al-Assad. Alih-alih bekerja sama, ISIS malah kerap menyerang mereka.

Sebab kedua adalah sikap ISIS yang memusuhi semua pihak, mulai dari AS dan negara-negara Barat hingga negara-negara kawasan Timur Tengah. Lain itu, ISIS pun lebih terpusat baik dari segi markas, fasilitas, pejuang, dan struktur komandonya. ISIS seakan mengisolasi dirinya sendiri yang mana justru jadi senjata makan tuan.

Kecepatan ISIS menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah sebenarnya juga menunjukkan kelemahannya. Kedua negara itu, terutama Suriah, sedang dilanda konflik sehingga memudahkan milisi ISIS merebutnya. Nyatanya mereka tak mampu ekspansi ke negara tetangga lain yang lebih stabil dan kuat.

“Jika mudah untuk menyapu perbatasan sebuah negara yang hancur seperti Suriah, perbatasan negara-negara yang lebih kuat seperti Turki, Israel dan Yordania terbukti lebih tahan. Tidak mungkin bagi ISIS—yang pasukannya mayoritas adalah Sunni—merangsek jauh ke Irak tengah dan selatan yang didominasi Syiah,” tulis Burke.



Kini, ISIS sedang menghadapi momen kejatuhan totalnya. Pasalnya, SDF yang didukung Amerika Serikat kini tengah menggempur kantong pertahanan terakhir ISIS di desa Baghouz, Suriah bagian timur. Diperkirakan tak lama lagi eksistensi ISIS bakal terhapus di Suriah.

Akan tetapi, progres serangan sedikit melambat karena ISIS menjadikan warga sipil sebagai perisai. Awal Maret lalu, serangan intensif telah dimulai, namun terpaksa berhenti setelah tiga hari karena ulah militan ISIS itu.

"Kami memperlambat serangan di Baghouz karena sejumlah kecil warga sipil ditahan sebagai perisai manusia oleh ISIS," kata Mustafa Bali, juru bicara SDF sebagaimana dikutip VOA Indonesia (4/3/2019).

Infografik HL Indepth Fans ISIS
Infografik HL Indepth Fans ISIS Berbaiat


Esoknya dilaporkan sebanyak 500 kombatan ISIS menyerahkan diri kepada SDF. Mereka menyerah setelah Baghouz dibombardir dari udara oleh pasukan Koalisi pimpinan AS. Bersamaan dengan itu, dilaporkan pula ribuan warga sipil ISIS eksodus dari Baghouz.

Adnan Afrin, juru bicara dan komandan SDF, seperti dikutip CNN (6/3/2019), mengatakan bahwa, "Lebih dari 6.000 orang telah melarikan diri atau meninggalkan Baghouz dalam 48 jam terakhir dan lebih banyak lagi diperkirakan akan tiba di area penerimaan."

Usai eksodus itu, pertempuran hebat kembali meletus empat hari kemudian. SDF mencoba menyerang kubu ISIS melalui darat dan udara. Target utama SDF adalah depot senjata ISIS yang tersisa. Sementara itu, militan-militan ISIS menyerang balik dengan memanfaatkan badai pasir, karena saat itu pesawat-pesawat pasukan Koalisi tidak bisa beroperasi.

Pertempuran masih berlangsung hingga kemarin (15/3/2019). Gelombang besar warga sipil pun terus berdatangan dari Baghouz sementara pesawat-pesawat koalisi terus menggempur desa itu.

ABC News melaporkan sebagian besar pengungsi itu adalah wanita dan anak-anak, juga militan ISIS yang terluka dan menyatakan menyerah. Diperkirakan sekitar 7.000 pengungsi baru akan tiba di kamp pengungsi seiring dengan bergugurannya pertahanan ISIS di Baghouz.

Perang penghabisan agaknya masih akan berlangsung dalam seminggu ke depan. Begitu juga gelombang pengungsi ISIS. SDF dan Pasukan Koalisi mau tak mau harus bersiap, untuk mencegah krisis terjadi di kamp pengungsian yang bakal melebihi daya tampungnya.

Jika Baghouz jatuh, secara de facto ISIS lenyap. Namun, implikasi setelah itu juga tak kalah runyam dari perang itu sendiri. Permasalahan utama yang segera terlihat adalah menyangkut nasib mantan warga ISIS yang umumnya berasal dari serbaneka negara. Akankah mereka diterima kembali?

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono