tirto.id - Deretan water barrier berwarna merah memanjang di sisi jalan depan Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Di balik pembatas itu, sebuah alat berat masih beroperasi mengeruk bagian sisi jalan. Debu sisa pekerjaan bercampur dengan deru kendaraan yang terus melintas di ruas jalan yang kini tak lagi selebar biasanya.
Jalur layang LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai memang sudah berdiri di atas jalan. Namun, di bawahnya, sejumlah pekerjaan masih menyisakan ruang-ruang yang belum sepenuhnya kembali seperti semula.
Bagi Ramzi, mahasiswa semester 5 jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kondisi itu bukan sesuatu yang hanya dilihatnya sesekali. Jalan dan trotoar di sekitar proyek menjadi bagian dari perjalanan hariannya menuju kampus.
Mahasiswa berusia 19 tahun itu cukup sering melewati kawasan tersebut karena menjadi akses utama menuju kampus.
“Sering, karena akses utama jika ingin ke kampus,” kata Ramzi.
Sehari-hari, dia seolah harus mengakrabi sejumlah bagian trotoar yang masih tertutup akibat pembangunan LRT.
“Engga cukup parah sebenarnya, namun ada beberapa titik di mana trotoarnya itu ditutup imbas proyek LRT Manggarai yang mengharuskan pejalan kaki harus jalan agak mepet ke sisi jalan,” ujarnya.
Bagi pejalan kaki, ruang yang menyempit membuat harus sedikit beradaptasi. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang khusus untuk pejalan kaki tidak selalu dapat digunakan sepenuhnya.
Ramzi menyebut kondisi tersebut terasa di sepanjang jalur Halte UNJ hingga Halte Kayu Jati. Di beberapa bagian, dia harus berjalan lebih dekat dengan kendaraan yang melintas.
“Gak gimana gimana sih. Lewatin aja, walaupun jalan kakinya harus turun ke jalanan,” katanya.
Gangguan itu tidak hanya dirasakan pada ruang berjalan kaki. Sebagian jalan yang tertutup akibat proyek juga membuat perjalanan menjadi lebih memakan waktu.
“Waktu iya, karena ada beberapa jalan juga yang sebagian tertutup imbas proyek ini sehingga kondisi jalanan jadi agak macet, kenyamanan juga jelas mengganggu,” ujarnya.
Ada pula titik-titik yang membuat Ramzi merasa tidak aman ketika berjalan kaki. Dia mulai menyadari kondisi tersebut sejak April 2026. Meski begitu, tidak semua bagian jalan yang dilaluinya masih berada dalam kondisi yang sama.
Ramzi melihat beberapa titik sudah mulai kembali terbuka. Salah satunya berada di sepanjang perempatan Halte Simpang Pramuka hingga UNJ.
“Ada beberapa titik yang udah lebih baik, sepanjang perempatan Halte Simpang Pramuka sampai UNJ itu udah dibuka jalannya, tapi yang di pinggir jalan Halte UNJ-Halte Kayu Jati masih ditutup,” katanya.
Ketika proyek LRT Velodrome-Manggarai akan segera diresmikan, Ramzi memiliki harapan sederhana. Dia ingin pekerjaan yang tersisa segera dibereskan.
“Seharusnya sudah dirapikan kalo udah diresmikan,” kata Ramzi.
Bagi dia, selesainya proyek bukan hanya tentang rampungnya pembangunan jalur LRT. Jalan dan trotoar yang terkena dampak juga perlu dikembalikan agar masyarakat dapat kembali menggunakannya dengan nyaman.
“Semoga proyeknya cepat diresmikan dan cepat selesai. Dan, ketika udah selesai, semoga kondisi di sepanjang jalan yang terkena imbasnya—entah yang di jalannya atau trotoarnya—bisa kembali menjadi normal lagi. Sehingga, tidak menggangu perjalanan bagi para masyarakat yang melewati jalan tersebut,” ujarnya.
Pantauan Tirto menunjukkan sejumlah ruas jalan di sekitar proyek LRT Velodrome-Manggarai memang masih mengalami penyempitan.
Di depan Pasar Pramuka, alat berat masih berada di sisi jalan dan beroperasi di area pekerjaan. Ruang tersebut dibatasi menggunakan water barrier berwarna merah yang mengambil sebagian badan jalan. Kendaraan yang melintas pun harus melewati ruang sempit yang tersisa di samping area proyek.
Penyempitan juga terlihat di Jalan Tambak. Ruas tersebut menjadi salah satu akses menuju maupun dari Stasiun Manggarai. Deretan pembatas proyek masih memanjang di sisi jalan sehingga ruang bagi kendaraan yang melintas menjadi terbatas.
Sementara di Jalan Pemuda, tepatnya di sekitar akses masuk LRT Rawamangun, penyempitan terlihat pada badan jalan sekaligus ruang bagi pejalan kaki. Area pekerjaan berada berdampingan dengan jalur yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari.
Kondisi jalan yang belum sepenuhnya kembali lapang juga dirasakan Adi, pengemudi ojek online berusia 37 tahun yang tinggal di Rawamangun sejak kecil.
Selama lebih dari 30 tahun tinggal di kawasan tersebut, Adi telah melihat perubahan jalan di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai pengemudi ojol, dia juga melewati sejumlah ruas yang terdampak pembangunan LRT dalam aktivitas sehari-hari.
Baginya, kondisi jalan sekarang sebenarnya sudah mulai membaik dibandingkan ketika proyek masih berlangsung. Namun, kelancaran itu belum berarti seluruh perjalanan sudah kembali nyaman. Penyempitan jalan masih menjadi persoalan yang dirasakannya ketika melintas.
“Kalo buat jalan, penyempitan kayak gini ya masih bahaya juga sih buat pengguna jalan yang mau lintas lewat sini,” ujarnya.
Terlebih, pada pagi hari, kendaraan mulai memenuhi jalan. Adi mengatakan kepadatan terasa semakin berat ketika waktu berangkat kerja bertepatan dengan aktivitas pengguna jalan lainnya.
“Kalau pas pagi, bareng sama orang berangkat kerja. Oh udah pasti parah,” katanya.
Sebagai pengemudi yang telah lama mengenal kawasan Rawamangun, Adi mengetahui sejumlah jalur alternatif yang dapat digunakan ketika kondisi jalan terlalu padat. Penyempitan yang terjadi selama pembangunan membuat kendaraan harus berbagi ruang yang lebih terbatas.
Dia menyebut kepadatan kendaraan, terutama sepeda motor, menjadi salah satu hal yang paling terasa selama proyek berlangsung.
“Emang parah banget. Maksudnya kayak padet banget motornya,” ujar Adi.
Kini, kondisi tersebut perlahan berubah. Menjelang selesainya proyek, Adi mulai merasakan beberapa bagian jalan lebih lancar dibandingkan sebelumnya.
“Ini udah mau selesai. Ini udah agak lancar. Tadinya emang gak bang. Parah juga,” katanya.
Namun, mata Adi masih menangkap bagian-bagian proyek yang belum sepenuhnya dibereskan. Alat dan pembatas pekerjaan masih menjadi bagian dari pemandangan di sekitar jalan.
“Masih banyak yang tutup nih, Bang. Alat-alat pun masih banyak,” ujarnya.
Karena itu, Adi belum menganggap perjalanan di kawasan tersebut benar-benar nyaman.
“Ya kalau diambil keseluruhannya sih gak nyaman ya, Bang. Gitu. Karena, masih kayak begini nih, masih berantakan,” kata Adi.
Baginya, ada satu hal yang akan membuat keadaan berubah: pekerjaan selesai dan area kembali tertata. Proyek LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai memang akan segera diresmikan. Jalur layang yang menjadi bagian dari proyek tersebut kini telah membentang menuju Manggarai. Adi pun menyampaikan harapannya agar sisa pekerjaan segera dituntaskan.
“Cepet-cepet selesai dah ini proyek. Biar semuanya enak lagi jalanannya. Gak kayak gini semerawut,” katanya.
Di bawah tiang-tiang beton jalur LRT yang telah berdiri, masyarakat masih menunggu satu hal yang sederhana, menanti ruang jalan dan trotoar yang kembali normal.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































