Menuju konten utama

DPRD Tangsel Soroti Penutupan Akses Jalan Warga oleh Graha Raya

Warga terdampak diimbau melapor ke DPRD Tangsel soal penutupan akses jalan, agar masalah segera ditindaklanjuti lewat mekanisme resmi.

DPRD Tangsel Soroti Penutupan Akses Jalan Warga oleh Graha Raya
Tembok Pengembang dibangun persis di depan rumah warga di Pondok Aran, Tangerang Selatan. tirto.id/ Jupri Nug

tirto.id - Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Mohammad Yusuf Sachiro, menyoroti dugaan penutupan akses jalan warga di RT 04/05, Kelurahan Pondok Kacang Barat, Kecamatan Pondok Aren, yang dilakukan oleh pengembang Graha Raya.

Mohammad Yusuf Sachiro

Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Mohammad Yusuf Sachiro. (Foto: Tangerangupdate.com)

Yusuf mengimbau warga yang terdampak untuk tidak ragu melaporkan persoalan tersebut kepada DPRD Tangsel, agar dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme resmi.

“Silakan datang ke DPRD, kirim surat. Nanti kita jadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP), baru kita follow up,” ujar Yusuf kepada Tangerangupdate, Kamis (23/10/2025).

Ia juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi guna melihat langsung kondisi warga terdampak.

“Mungkin nanti kita turun ke lokasi. Nanti kita follow up lagi,” tambahnya.

Warga Terancam Terisolir Akibat Penutupan Jalan

Sebelumnya, sedikitnya tujuh kepala keluarga (KK) di RT 04/05, Pondok Kacang Barat, hampir terisolir akibat akses jalan mereka ditutup dengan tembok oleh pihak pengembang. Warga mengaku jalan selebar dua meter yang kini terblokir itu merupakan lahan yang telah mereka beli sejak tahun 2002.

“Kemarin di sini tiba-tiba mau ditutup. Padahal jalan itu saya beli tahun 2002, lebarnya dua meter. Tiba-tiba mau diberi gerbang sepihak,” ujar salah satu warga kepada Tangerangupdate, Senin (20/10/2025).

Tercatat ada sekitar 10 bangunan rumah, termasuk empat petak kontrakan, yang terdampak langsung penutupan akses tersebut. Warga mengaku tertekan dan merasa tidak diperlakukan adil oleh pihak pengembang.

“Kita dicuekin banget. Katanya kalau gak mau, bongkar aja rumahnya. Lah ini kan tempat strategis, gak banjir, masa kita disuruh pergi,” imbuhnya.

Warga menyebut sudah mencoba menempuh jalur negosiasi dengan pihak pengembang, termasuk mengajukan ganti rugi sebesar Rp10 juta per meter persegi yang mencakup nilai lahan dan bangunan. Namun, permintaan tersebut ditolak.

Selain penawaran uang, pengembang juga sempat mengajukan opsi tukar guling, namun ditolak warga karena dianggap tidak sepadan.

“Kalau tukar guling, rugi. Rumahnya cuma satu lantai, lantai atas gak dihitung. Hitungannya gak masuk akal, lokasinya juga belum jelas,” kata warga lainnya.

Warga juga menyoroti dugaan pembayaran yang tidak penuh terhadap beberapa rumah yang sudah dibebaskan oleh pengembang.

“Ada yang sudah dibayar, tapi cuma setengah. Sisanya baru dibayar setelah pemilik bongkar rumahnya sendiri,” ungkap warga.

Oleh sebab itu, warga berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan segera turun tangan memediasi konflik ini. Jalan yang ditutup disebut merupakan akses umum yang bahkan pernah diaspal oleh pihak kelurahan dan menjadi jalur vital bagi aktivitas warga.

Ketua RT 04, Udin, mengaku sudah mengetahui adanya konflik antara warga dan pengembang Graha Raya, namun belum mengetahui soal tembok penutup akses tersebut.

“Masalahnya saya tahu, tapi kalau temboknya saya belum tahu,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Pondok Kacang Barat, Afgan Yuniar, mengaku belum menerima laporan resmi dari warga terkait persoalan ini.

“Saya tidak tahu,” katanya singkat.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengembang Graha Raya belum memberikan penjelasan resmi meski telah dikonfirmasi oleh Tangerangupdate.

============

Tangerangupdate adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait AKSES JALAN atau tulisan lainnya dari Tangsel_Update

tirto.id - Flash News
Kontributor: Tangsel_Update
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Siti Fatimah