Pemilu Serentak 2024

Membaca Pesan Jokowi Dalam Merawat Relawan Jelang Pemilu 2024

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 30 Agu 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Alvin menilai konsep politik Jokowi high context. Sikap politik Jokowi perlu diinterpretasikan secara mendalam sehingga publik harus menerka pesan itu.
tirto.id - “Jangan keliru, jangan salah menentukan sikap. Setuju ndak?”

Begitulah fragmen pernyataan Presiden Joko Widodo dalam Musyawarah Rakyat (Musra) yang digelar sekelompok relawan Jokowi di Bandung, Minggu (28/8/2022). Dalam acara itu, Jokowi mengajak semua relawan untuk tetap kompak.

Jokowi juga memaparkan sejumlah kinerja pemerintahannya di depan rakyat sambil menjawab soal pertanyaan arah gerakan relawan Jokowi mendukung pihak tertentu. Jokowi menegaskan tidak akan tiga periode dalam Musra.


“Konstitusi tidak memperbolehkan. Sudah jelas itu. Sekali lagi saya akan selalu taat pada konstitusi dan kehendak rakyat,” kata Jokowi.

Jokowi juga menyinggung soal kekuatan rakyat dalam Pemilu 2024. Ia mengakui partai yang memegang kendali penentuan paslon capres-cawapres sebagai amanat undang-undang, tetapi kewenangan pemilihan ada di tangan rakyat.

“Memang kita harus tahu juga bahwa menurut undang-undang, yang mengusung capres-cawapres itu adalah partai atau gabungan partai. Tapi pada saat pencoblosan yang menentukan itu adalah rakyat,” kata Jokowi.

Jokowi menambahkan, “Jadi sekali lagi Musra adalah instrumen demokrasi dan kita harap bisa memunculkan pemimpin yang dicintai rakyat, yang mau dekat dengan rakyat. Yang mau turun ke bawah, tidak hanya duduk enak di Istana.”

Pertemuan dengan Relawan Berkali-kali

Dalam catatan Tirto, Jokowi kerap mendatangi pertemuan relawan, bahkan sempat mengundang mereka ke Istana Negara. Musra sendiri berawal ketika kelompok relawan menemui Jokowi pada 29 Juli 2022 di Istana Kepresidenan Bogor. Pertemuan dihadiri 17 relawan Jokowi dan berujung gagasan Musra.

Selain Musra, Jokowi juga hadir dalam kegiatan relawan lainnya. Sebut saja kegiatan relawan Sapu Lidi pada 22 Agustus 2022 di Stadion Gelora 10 November Surabaya. Kemudian ada pertemuan dengan Bravo 5 di Ancol, Jakarta, Jumat (26/8/2022). Di hari yang sama, Jokowi juga bertemu dengan relawan K di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Dalam berbagai pertemuan tersebut, Jokowi menyampaikan sejumlah capaian kinerja pemerintahannya. Dalam setiap pertanyaan politik 2024, Jokowi selalu meminta relawan tidak terburu-buru dan menggunakan kata ojo kesusu.


Mengapa pesan ini kerap dilontarkan Jokowi dan mantan Wali Kota Solo itu rela meluangkan waktu bertemu relawan meski Indonesia kini tengah menghadapi masalah seperti kenaikan harga minyak dunia dan situasi tidak menentu global?



Dosen Komunikasi Politik Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo menilai, langkah Jokowi dapat dikategorikan sebagai upaya demonstrasi dukungan atau show-off force. Dalam istilah politik, show-off force menujukkan bahwa seorang tokoh punya basis politik yang kuat atau dukungan kuat dari pemilih. Pada umumnya, show-off force digunakan untuk kepentingan politik.

“Kalau dari sisi politik, kan, ada istilahnya show off force ya, untuk menunjukkan bahwa seorang tokoh mempunyai basis politik yang kuat dan punya dukungan yang kuat dari massa atau voters gitu, sehingga lawan-lawan politik atau bahkan aliansi politiknya juga harus memperhitungkan itu dan show off force ini atau demonstrasi kekuatan politik ini bisa digunakan sebagai kartu untuk bernegosiasi politik tentang sesuatu apa pun baik dengan lawan maupun kawan gitu,” kata Kunto kepada Tirto, Senin (29/8/2022).

Namun, Kunto punya pertanyaan serius alasan di balik Jokowi melakukan show-off force saat ini. Ia bingung Jokowi menggunakan metode tersebut, sementara mantan Wali Kota Solo itu tidak akan maju di Pemilu 2024.

“Untuk apa dia harus bernegosiasi dan membutuhkan apa? [Mau] menunjukkan bahwa dia punya dukungan yang kuat di masyarakat? kata Kunto.

Kunto mempunyai tiga prediksi. Pertama, Jokowi ingin agar programnya dilanjutkan presiden selanjutnya. Ia menduga, upaya Jokowi merangkul relawan sebagai bentuk bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu punya massa yang tidak sedikit.

Jokowi ingin melakukan negosiasi agar suara relawan itu ditukar dengan keberlangsungan program eranya, seperti Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, kata Kunto.

“Mungkin kali ini Pak Jokowi sedang ingin show off force bahwa nih partai politik, gua punya dukungan segini nih, lu nggak pengen apa calon presidennya nanti gua pilih?” kata Kunto.

Kedua, basis massa relawan Jokowi bersinggungan dengan relawan Ganjar Pranowo. Jokowi ingin menunjukkan bahwa massanya sangat besar dan mayoritas dekat dengan Ganjar. Alat ini digunakan sebagai "alat pertukaran" kepada partai agar PDIP sebagai parpol tempat bernaung Jokowi mau mencalonkan Ganjar di Pemilu 2024.

“Kita sama-sama tahu bahwa ada irisan yang kuat dengan antara relawan Pak Jokowi dengan relawan Pak Ganjar gitu, kan. Dan di sini mungkin sedang show off force ke PDIP bahwa ini loh udah segini banyak loh, masa enggak mau majuin Ganjar, nanti pasti menang kok gitu,” kata Kunto.

Ketiga, kata dia, Jokowi justru sedang menghentikan langkah relawan agar tidak sembarang bertindak. Ia tidak ingin relawan mendukung kandidat capres/cawapres yang tidak diusung partai. Ia khawatir relawan ini malah bergerak blunder dan tidak ada dampak politik di masa depan.

Ketiga alasan tersebut, kata Kunto, adalah motif yang paling mungkin saat ini. Ia pun mengingatkan bahwa relawan Jokowi dan PDIP adalah dua entitas yang berbeda. Oleh karena itu, kehadiran relawan Jokowi tidak selamanya berarti satu langkah dengan PDIP.

Ia juga menegaskan bahwa upaya pengumpulan para relawan bukan untuk menstabilkan situasi politik Indonesia yang kini menghadapi banyak masalah seperti konflik Ferdy Sambo, masalah kenaikan telur, pemilu atau isu global seperti konflik pangan dan ekonomi dunia.

“Ya kalau pun Pak Jokowi punya niatan untuk mengkondisikan gelombang stabilitas politik nasional, kayaknya itu tidak bisa terjadi dengan mengumpulkan relawan, karena ada aksi, pasti ada reaksi kan gitu. Mengumpulkan relawan, kan, bukan sesuatu yang kemudian mendominasi, sangat mendominasi sehingga stabilitas bisa dilakukan karena ada status quo yang sangat kuat gitu, kan. Saya nggak melihat itu,” kata Kunto.



Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi dari Universitas Multimedia Nusantara, Silvanus Alvin melihat, Jokowi sedang mengupayakan dirinya 'naik kelas' dari status presiden menjadi kingmaker dalam Pemilu 2024. Jokowi memang kerap meminta relawan tidak terburu-buru dalam memilih penerusnya, tetapi mantan Wali Kota Solo itu mulai berpolitik dengan mendengar nama-nama yang layak menjadi penerusnya sebagai presiden di masa depan.

“Upaya untuk menemui para relawan ini bisa dimaknai sebagai upaya Jokowi menyerap aspirasi. Kira-kira siapa sih yang diinginkan oleh grass root?" kata Alvin kepada reporter Tirto, Senin (29/8/2022).

“Saat ini kita mengetahui sudah ada banyak nama yang beredar, nah nama-nama ini sedang digodok oleh Jokowi secara internal, saya rasa. Salah satu penggodokan itu ya melalui aspirasi relawan yang ia temui,” kata Alvin.

Alvin menuturkan, Jokowi secara tidak langsung menandakan ingin presiden dari Jawa dengan menggunakan sinyal ojo kesusu. Namun Jokowi tidak bisa asal menentukan kandidat yang ia dukung. Sebab, Jokowi ingin kandidat yang didukung mau meneruskan programnya seperti IKN.

“Jokowi, walau bukan ketua umum partai, mau tidak mau harus diakui tokoh sentral perpolitikan saat ini. Ke mana Jokowi condong, maka kandidat tersebut berpeluang menang,” kata Alvin.

Alvin menilai konsep politik Jokowi sangat tinggi atau high context. Segala sikap politik Jokowi perlu diinterpretasikan secara mendalam sehingga publik harus menerka pesan tersebut.

“Memang komunikasi politik Jokowi ini selalu high context, perlu dimaknai serta diinterpretasikan mendalam. Pendekatan Jawa inilah yang membuat dirinya bisa bebas bergerak, namun di sisi lain membuat publik dan kandidat capres jadi menerka-nerka arah Jokowi,” tutur Alvin.

Alvin juga mengingatkan bahwa upaya politik Jokowi sudah mengarah pada merawat suara relawan. Jika dilihat dari segi perilaku, Alvin menilai, para relawan ini sangat mengikuti Jokowi.

“Relawan Jokowi ini mirip fans sebuah grup band di mana ketika pujaan hati endorse 1 produk, maka akan langsung dibeli para fans. Meminjam istilah fans BTS dengan Army-nya, maka para relawan adalah Jokowi Army dalam perhelatan Pemilu 2024,” kata Alvin.

Lantas apakah PDIP dengan Jokowi dan relawan tidak satu jalan? Ia menilai Jokowi akan menjadi faktor X dalam kalkulasi politik PDIP. Di sisi lain, Jokowi dalam kacamata Alvin belum terlihat membangkang dari PDIP karena pertimbangan balas budi.

“Tentunya PDIP akan selalu jadi faktor X bagi Jokowi. Saya melihat Jokowi hormat dan sungkan dengan Ibu Megawati. Ada peran PDIP dalam mengangkat Jokowi dari Solo ke DKI hingga jadi presiden," kata Alvin.

“Sejauh ini Jokowi mau menunjukkan diri ke publik secara implisit bahwa dia bisa jadi king maker. Untuk arahnya saya rasa masih akan melihat perkembangan di PDIP atau Ibu Megawati,” kata Alvin.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight