Menuju konten utama

Mega Tolak Wacana Pemilu Tak Langsung: RI Bukan Milik Seseorang

Megawati menyinggung Pemilu 1955 bisa berjalan secara langsung dan tidak memakan biaya besar padahal alasannya biaya politik mahal.

Mega Tolak Wacana Pemilu Tak Langsung: RI Bukan Milik Seseorang
Pengukuhan Prof Dr Arief Hidayat sebagai Profesor Emeritus di Kampus Universitas Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/4). foto/DOk. PDIP

tirto.id - Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menolak wacana perubahan sistem pemilihan umum menjadi pemilihan tidak langsung. Ia menilai gagasan tersebut berpotensi menjauhkan Indonesia dari semangat reformasi yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat.

Megawati menegaskan bahwa Indonesia sebagai republik merupakan milik seluruh rakyat, bukan individu atau kelompok tertentu. Prinsip itu, menurut dia, harus tercermin dalam sistem demokrasi, termasuk mekanisme pemilihan pemimpin.

“Lama-lama kok saya tidak tahan juga loh. Karena ini (Indonesia) bukannya milik seseorang. Republik Indonesia ini adalah milik kita semua. Bagaimana sih?” ujar Megawati saat memberikan orasi ilmiah dalam pengukuhan Profesor Emeritus bidang Hukum Tata Negara untuk Arief Hidayat di Universitas Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/5/2026)

Presiden ke-5 RI ini secara khusus menyoroti wacana yang mengutak-atik sistem pemilihan presiden. Ia menegaskan bahwa pemilihan langsung merupakan mandat reformasi yang memberikan legitimasi kuat kepada pemimpin nasional.

Menurut dia, alasan tingginya biaya pemilu tidak dapat dijadikan dasar untuk mengubah sistem tersebut. Perempuan yang kini menjadi Ketua Dewan Pengarah BPIP ini membandingkan kondisi saat ini dengan pelaksanaan Pemilu 1955 yang dinilainya berjalan baik.

“Hanya karena katanya sekarang biayanya banyak (mahal). Loh, kenapa tahun 1955 bisa? Keadaannya tenang-tenang saja, rakyatnya tenang saja. Kalau sekarang dibilang biayanya besar, itu aneh bagi saya,” kata Megawati.

Ia mengingatkan bahwa presiden yang dipilih langsung oleh rakyat memiliki legitimasi yang tidak boleh dikompromikan, terutama jika menyangkut kepatuhan terhadap konstitusi dan kedaulatan bangsa.

Dalam konteks yang lebih luas, Megawati juga menyinggung kekhawatiran atas gejala penyeragaman di lembaga negara, baik legislatif maupun yudikatif. Ia pun mengkritik mentalitas ‘asal bapak senang’ atau ‘siap komandan’ yang dinilai dapat menggerus independensi hukum dan demokrasi.

Megawati mengisahkan pengalamannya menghadapi aparat yang kerap berlindung di balik perintah atasan tanpa mempertimbangkan aspek kebenaran hukum.

“Apa saya dipikir tidak tahu? Tahulah saya kalau orang selalu mengelaknya begitu (bilang suruhan komandan). Makanya kalau sama pengawal saya, ’Awas loh ya kalau kamu bilang ni suruhan Komandan. No! Siap karena kamu itu tahu apa tidak tahu,” tuturnya.

Ia menilai, jika lembaga negara hanya berjalan dalam satu komando tanpa ruang perbedaan pendapat, maka keadilan akan sulit ditegakkan. Karena itu, Megawati menekankan pentingnya menjaga keberanian intelektual, termasuk melalui sikap berbeda pendapat dalam lembaga peradilan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memuji sikap Arief Hidayat yang pernah menyampaikan dissenting opinion di Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai bentuk integritas.

“Jangan biarkan hukum kehilangan keberpihakannya. Saya ingin sampaikan kepada akademisi dan mahasiswa, getarkan suara hati nurani saudara untuk mengawal kebenaran dan keadilan,” tutup dia.

Baca juga artikel terkait PEMILU atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher