tirto.id - Rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada awal pekan hingga dibuka melemah ke level Rp17.716 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026).
Pelemahan ini kembali menempatkan rupiah di titik terlemah dalam sejarah. Sejumlah media asing menyoroti pelemahan rupiah di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Media luar menyebut jika tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, termasuk penguatan dolar AS secara global, kenaikan harga minyak dunia karena perang Iran, serta arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
Investor global dilaporkan mengurangi ketertarikan terhadap aset Indonesia. Situasi ini semakin diperparah oleh keputusan penyedia indeks global MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks acuan.
Sorotan Media Asing Soal Rupiah di Pemerintahan Prabowo
Berikut beberapa pemberitaan media luar mengenai melemahnya rupiah di Pemerintahan Presiden Prabowo:
1. Reuters
Pada 18 Mei 2026, Reuters melaporkan jika tekanan terhadap mata uang Indonesia ini terjadi bersamaan dengan penurunan tajam indeks saham utama Jakarta dan kenaikan harga minyak dunia ke level tertinggi dalam dua minggu, yang turut memperburuk sentimen pasar negara berkembang.Sebelumnya, pasar keuangan Indonesia memang sudah berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap transparansi pasar, independensi bank sentral, serta rencana belanja pemerintah yang dinilai ambisius.
Situasi semakin diperburuk oleh keputusan lembaga indeks global MSCI yang mengeluarkan lebih dari selusin perusahaan dari indeks Indonesia, sehingga memicu aksi jual di pasar saham dan memperdalam pelemahan indeks utama yang turun sekitar 2 persen.
2. The Straits Times
Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini berada ke level terendah sekitar 17.600 rupiah per dolar AS, menembus apa yang oleh analis disebut sebagai batas psikologis di 17.500 rupiah dan bahkan melewati level 16.800 yang sebelumnya identik dengan periode krisis moneter 1998.Di tengah kekhawatiran tersebut, Presiden Prabowo Subianto berulang kali meredam kepanikan publik dengan menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak pada masyarakat desa karena mereka tidak menggunakan dolar dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan pandangan optimistis tersebut. Sejumlah ekonom seperti Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai bahwa pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya ketidakpercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah.
“Pidato presiden tampaknya bertujuan untuk menenangkan kelas menengah ke bawah. Namun pada saat yang sama, kelas menengah ke atas dan seterusnya sudah mulai bersiap untuk memindahkan uang mereka ke aset yang lebih likuid atau ke luar negeri. Ini berarti ada asimetri informasi,” katanya.
“Saya khawatir jika terjadi guncangan tiba-tiba, kelas menengah ke bawah akan menjadi korban pertama,” tambahnya.
Di sisi lain, menurut The Straits Times, Selasa (19/5/2026) pelemahan rupiah juga membawa dampak positif pada sektor pariwisata.
Data menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia, termasuk wisatawan dari Singapura yang meningkat signifikan ke Batam, seiring melemahnya rupiah terhadap dolar AS maupun dolar Singapura. Saat ini, 1 dolar Singapura setara dengan 13.800-an rupiah.
3. The Edge Malaysia
Pada artikel yang diunggah pada 18 Mei kemarin, The Edge Malaysia menyebut rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk setelah melemah sekitar 1,16 persen ke level 17.665 per dolar AS.Tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak akibat perang di Iran, namun juga dipengaruhi kekhawatiran domestik terkait disiplin fiskal, arus keluar modal asing, independensi bank sentral, serta tata kelola pasar saham setelah sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI.
4. The Economist
Media The Economist membuat laporan khusus tentang Prabowo dan ekonomi Indonesia dengan menyebut "Presiden Indonesia mempertaruhkan perekonomian dan demokrasi. Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter" dalam artikel yang terbit 14 Mei 2026.Media ini juga menerbitkan artikel dengan judul "Indonesia, negara dengan mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalan yang berisiko. Prabowo Subianto menggerogoti keuangan negara dan demokrasinya."
Berikut ini salah satu bagian terjemahan mengenai laporan tersebut:
"Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF 'bodoh' dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang 'perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia'. Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar."
Selengkapnya bisa dibaca melalui tautan ini: Link Artikel The Economist.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































