Menuju konten utama
Edusains

Masuk Angin, Penyakit Sungguhan atau Buah Kebudayaan?

Sebagian kalangan menganggap masuk angin sebagai momok kesehatan yang berpotensi serius. Yang lain menilai bahwa kondisi itu lahir dari budaya leluhur.

Masuk Angin, Penyakit Sungguhan atau Buah Kebudayaan?
Ilustrasi masuk angin. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Usai berkendara jauh dengan kaca jendela mobil yang terbuka, beberapa orang merasa tidak enak badan. Dari hidungnya keluar ingus disertai perut senak dan kembung. Seorang kawan, sopir, atau saudara, di dalam mobil yang sama, lantas lekas mengiyakan dengan seruan, “Oh, masuk angin itu!”

Fenomena masuk angin seakan-akan sudah mendarah daging dalam masyarakat Indonesia. Ada yang menganggap gejala masuk angin ditandai dengan kondisi pusing, perut kembung, dan mual. Namun, penderita lain mengaku, ketika badan meriang dan mengalami batuk disertai pilek, itu juga termasuk masuk angin. Bahkan pegal linu yang menjalar ke sekujur badan juga diklaim sebagai gejala masuk angin.

Jadi, penyakit apakah masuk angin sebenarnya? Atau, adakah fenomena lain yang mendasari masuk angin sehingga istilah itu begitu populer di kalangan masyarakat?

Uniknya, tidak ada satu pun kata masuk angin (have a cold) dalam kamus bahasa internasional. Bahkan istilah tersebut tak masuk dalam taksonomi ilmu medis.

Istilah yang paling mendekati hanya satu, yakni common cold atau dalam bahasa bekennya: flu. Dalam penelitian “Temperature-dependent innate defense against the common cold virus limits viral replication at warm temperature in mouse airway cells” (2015) yang digarap Ellen F. Foxman dkk., common cold sering disebabkan oleh infeksi Rhinovirus (HRV). Virus tersebut juga menjadi salah satu penyebab utama eksaserbasi asma.

Pada tekanan suhu tubuh rendah, Rhinovirus dapat lebih mudah melakukan replikasi. Karena itu, virus itu lebih gampang ditemukan pada bagian rongga hidung daripada organ dalam seperti paru-paru yang cenderung bertekanan tinggi.

Dengan demikian, apakah artinya masuk angin disebabkan oleh virus atau “angin jahat” yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan penyakit?

Fenomena Medis sekaligus Produk Istilah Kebudayaan

Tanggal 10 Juni lalu, pidato pengukuhan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Atik Triratnawati, menggemparkan jagat maya. Pidato yang dibawakan dengan latar belakang ilmu kebudayaan justru mengomentari gejala dalam dunia medis di Indonesia yang selalu simpang siur, yakni masuk angin.

Dalam pidatonya, Atik Triratnawati mengatakan, “Selama ini, terdapat perbedaan persepsi dan pandangan di kalangan ahli kesehatan dan warga masyarakat mengenai masuk angin ... dalam terminologi medis, tidak ada istilah untuk menyebut masuk angin. Bahkan masuk angin dianggap sebagai sebutan yang salah kaprah.”

Menyoal salah kaprah terminologi medis, Atik juga menekankan bahwa setiap masyarakat memiliki sistem medis sendiri. Maksudnya, terdapat universalitas dalam polarisasi tertentu guna menyebut istilah-istilah medis yang menjangkit ke tubuh. Karena itu, masyarakat telah mengenal upaya pencegahan dan pengobatan medis yang diterapkan dalam wilayah komunal.

Merujuk pada penelitian Atik, yang berfokus di wilayah Jawa, masuk angin sebagai perilaku budaya memiliki metode penyembuhan yang berasaskan tradisi luhur. Misalnya, masyarakat memakai koin kuno (alat untuk kerokan), balsam, minyak, dan rempah-rempah, baik dalam wujud minuman maupun sasi, untuk mengobati masuk angin.

Lantaran masuk angin terkesan dapat diatasi lewat metode pengobatan yang cenderung simpel, penyakit tersebut juga dianggap sepele dan dipercaya tak menjangkit dalam kurun lama.

Ilustrasi masuk angin

Ilustrasi masuk angin. FOTO/iStockphoto

Ati menyebut salah satu contoh, yakni kasus Presiden Ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid, yang pada 13 September 2000 dicurigai mengidap strok. Namun, dalam pernyataan resminya ketika itu, Gus Dur menampik kecurigaan tersebut dengan menyebut dirinya hanya mengalami masuk angin. Atik menganggap, pilihan diksi itu merupakan sikap politik guna mencegah situasi gawat, sebab strok tergolong penyakit berbahaya yang menyerang otak dan dapat memicu kelumpuhan.

Sementara itu, dalam budaya penyebutan istilah untuk menggantikan frasa “tidak enak badan”, masuk angin di Jawa memiliki nama lain, yakni mangsroek. Kondisi ini dapat diartikan sebagai perwakilan atas rasa tidak nyaman di badan. Di antaranya termasuk pusing kepala penuh atau nyeri separuh (migrain), meriang, greges (panas-dingin), nrocos (mata mengantuk), kemeng (pegal linu), mual, diare, dan njebebeg (perut kembung).

Tidak ada yang tahu persis kapan istilah masuk angin dikenal mula-mula, hingga dipercaya sebagai produk budaya masyarakat Jawa. Lepas dari itu, istilah serupa juga ditemukan di tujuh etnis lain, antara lain Sunda, Melayu, dan Anak Dalam. Misalnya, disertasi yang digarap Atik lebih silam berjudul “Masuk Angin Dalam Budaya Jawa” (2011) menulis, orang Melayu menyebut istilah tersebut dengan sebutan naik angin.

Lebih jauh, budaya penyebutan masuk angin ternyata juga ditemukan di belahan dunia lain, mulai dari Prancis, Amerika Serikat, hingga Tiongkok.

Siti Hariti Sastriyani dalam disertasi “Le Rocher de Tanios Karya Amin Maalouf dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia Cadas Tanios: Tinjauan Resepsi” (2004) menyebut, istilah masuk angin di kalangan Eropa, khususnya Prancis, dikenal dengan sebutan predre froid. Pengobatannya bisa dilakukan dengan cara meminum du vin (anggur). Minuman ini dapat dipercaya menyembuhkan flu dan mendorong proses metabolisme.

Adapun orang AS memilih mengonsumsi sup ayam merah panas atau sup bawang putih untuk mengatasi influenza, yang gejala medisnya bersinggungan dengan masuk angin. Itu mirip seperti disertasi Atik yang mengkaji temuan di Indonesia, bahwa masuk angin dapat diatasi dengan mengonsumsi segala sesuatu yang sifatnya panas. Karenanya, beberapa orang memilih memakan tongseng, bakso, wedang ronde, dan sebagainya.

Didik Gunawan Tamtomo, dalam disertasinya yang berjudul “Kajian Biologi Molekuler Pengobatan Tradisional Kerokan Pada Penanggulangan Mialgia” (2005), menulis, gejala masuk angin dalam pengobatan tradisional China disebut hang feng. Metode penyembuhannya dapat menggunakan ramuan tanaman tertentu dan akupunktur. Caranya dengan menggunakan teknik gua sha (menggosok racun) lewat medium batu giok, tanduk, agar racun dapat dikeluarkan dari tubuh.

Di negara-negara tetangga wilayah Asia Tenggara, penyebutan kondisi masuk anginjuga beda lagi. Di Vietnam, ia dikenal dengan istilah cao gio, sedangkan Kamboja menyebutnya goh kyol.

Masyarakat Thailand juga mengenal "penyakit" masuk angin dengan istilah lain, yakni khaj wad. Preecha Upayokin dkk. dalam "A Focused Ethnographic Study of Acute Respiratory Infection in Northern Thailand" (1991) menulis, masyarakat setempat meyakini penyakit tersebut dapat diatasi dengan mengonsumsi cecak, lele, atau tumbuhan yang ditambah dengan madu. Adapun kelompok lain memercayai pengobatan dengan metode modern dan farmasi.

Silang Argumen: Masuk Angin sebagai Budaya vis-à-vis Penyakit Medis

Dalam dunia medis, masuk angin memiliki klasifikasi yang berbeda dengan penyematan istilah budayanya. Penyakit ini dipercaya merupakan “perkembangan” atas gejala-gejala seperti flu, ISPA, demam berdarah dengue, hepatitis, dan bahkan COVID-19.

Artinya, ilmu medis tidak menyebut bahwa gejala penyakit yang dinamakan masuk angin itu disebabkan benar-benar oleh angin yang masuk ke dalam tubuh. Ahli kedokteran mendefinisikannya sebagai kondisi menurunnya imunitas tubuh akibat faktor-faktor tertentu. Hal itu membuat virus dan bakteri dapat dengan mudah menginfeksi penderitanya.

Meski Atik telah menelusuri penelitian berbasis antropologi dan budaya sehingga menemukan unsur lokalitas di dalamnya, masyarakat masih menganggap masuk angin memiliki perbedaan tertentu dalam taksonomi skala medis.

Menurut persepsi orang Jawa, masuk angin bukanlah gejala flu (common cold). Atik menegaskan, tidak ditemukan gejala bersin-bersin dalam kasus masuk angin. Sebaliknya, flu identik dengan batuk, pilek, bersin-bersin, dan suara yang mendadak serak. Kalaupun masuk angin dipercaya sebagai flu, orang Jawa akan memilih pengobatan kimia, bukan dengan yang paling populer: kerokan.

“Orang Jawa membagi masuk angin dalam tiga kategori, yaitu masuk angin biasa, masuk angin berat, dan masuk angin kasep,” tutur Atik, menjelaskan jenis dan gejala masuk angin.

Kategori masuk angin biasa dianggap enteng lantaran gejalanya hanya berupa kembung, panas-dingin, dan pegal-pegal. Cara pengobatannya bisa lewat metode intens yang hanya ditempuh satu kali, misalnya kerokan.

Kedua, masuk angin berat dipercaya muncul tanpa disadari oleh penderitanya. Seseorang yang nyengko gawean (kerja keras), terlambat makan, minum, dan kurang istirahat, diyakini dapat mengalami masuk angin berat. Penderitanya menganggap, lebih baik menuntaskan pekerjaan lebih dahulu, baru mengonsumsi sesuatu, kemudian beristirahat.

Akibat menunda-nunda pencegahan, masuk angin berat berpotensi menimbulkan gejala-gejala tambahan lantaran tumpukan gejala yang dianggap sepele, seperti mual, muntah, dan menceret. Oleh karena itu, masyarakat meyakini, pengobatan seperti kerokan harus dilakukan berkali-kali. Sebagai penunjang, penderita juga mengombinasikan kerokan dengan meminum ramuan obat, macam puyer, jarang uyah (air garam), atau jamu tradisional kemasan saset.

Lain lagi dengan masuk angin kasep, atau dalam istilah lainnya: angin duduk. Masuk angin kasep merujuk pada kondisi ketika tubuh terlambat mengatasi gejala, yang kerap datang sekonyong-konyong, tanpa keluhan serius. Namun, masyarakat tradisional, khususnya yang awam, justru menyebut angin duduk berpotensi menyebabkan kematian.

Dalam ilmu medis, angin duduk dipercaya diakibatkan oleh komplikasi riwayat penyakit lain, seperti lever, mag, asma, paru-paru, yang tidak diobati secara rutin. Faktornya bisa macam-macam, mulai dari keterbatasan ekonomi atau “menyepelekan penyakit”, sebagaimana penyebab masuk angin berat.

Ilustrasi masuk angin

Ilustrasi masuk angin. FOTO/iStockphoto

Metode Penyembuhan Masuk Angin

Lantaran dianggap berbeda dengan penyakit medis, metode penyembuhannya pun beragam jenisnya. Bahkan, metodenya pun bisa berbeda antarindividu.

“Petani di Sleman terbiasa mengobati masuk angin balitanya dengan teletong [kotoran] sapi. Kotoran sapi diambil yang masih fresh dan hangat. Kemudian kotoran sapi diambil secukupnya untuk dibobok di pusat pusar balita. Setelah itu ditutup dengan daun pisang. Perut balita kemudian diikat dengan tali agar kotoran itu tidak jatuh ke tanah, saat balita bergerak atau berlarian,” ungkap Atik dalam pidatonya.

Adapun seorang petani lain memilih mengobati masuk angin dengan cara minum minuman berkarbonasi. Hal itu lantaran minuman bersoda dapat memicu sendawa, yang dianggap merupakan proses keluarnya angin (gas) dari dalam perut yang tengah kembung.

Metode kerokan, yang dipercaya sebagai jurus ampuh mengatasi masuk angin, awalnya dianggap berbahaya. Kerokan diindikasikan dapat merusak kulit dan memecah pembuluh darah.

Saat dikerok, pembuluh kapiler di permukaan kulit akan pecah dan memaksa pembuluh darah di sekitarnya melebar. Itu ditandai dengan pembesaran diameter vaskuler yang disertai migrasi sel darah putih.

Namun pendapat itu ditentang oleh Didik Gunawan Tamtomo dalam artikel jurnalnya yang lain berjudul “Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan” (2008). Kerokan tidak menimbulkan luka atau merusak kulit, dan justru dianggap efektif sebagai metode penyembuhan masuk angin. Terlebih bila ditunjang dengan balsam dan minyak gosok, ada sensasi hangat di bagian tubuh yang dikerok, sehingga dapat memberi rasa nyaman saat tubuh merasa masuk angin.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Edusains
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin