Cerita Gus Dur yang Membekas dan Tak Pernah Habis

Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 23 Desember 2017
Dibaca Normal 2 menit
"Kalau ada yang berpandangan sempit, kata anak zaman now itu kurang piknik. Gus Dur sudah piknik ke mana-mana."
tirto.id - "Haul adalah tausiah itu sendiri."

Kalimat itu terucap dari KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus saat membuka tausiah dalam acara Sewindu Haul Gus Dur, di kediaman almarhum Gus Dur, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat malam, (22/12/2017).

Kiai asal Rembang, Jawa Tengah, itu kemudian menjelaskan maksud dari kalimat yang ia ucapkan. Menurutnya, haul merupakan sebuah peringatan kematian, sekaligus menjadi momen mengambil pelajaran dari sosok yang diingat. Dalam hal ini, adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Bagi Gus Mus, Gus Dur merupakan seorang kawan sekaligus guru tentang banyak hal, terutama kemanusiaan. Menurutnya, Gus Dur adalah seorang yang telah mencapai tingkat pengaplikasian ukhuwah insaniyah yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan antarsesama manusia.

"Gus Dur dicintai manusia, karena mencintai kemanusiaan. Kacamata Gus Dur adalah kemanusiaan. Bukan lagi golongan, kelompok atau agama," kata Gus Mus.

Kacamata kemanusiaan yang dipakai Gus Dur, kata Gus Mus, membuat mantan Ketua Umum PBNU itu tak lagi anti terhadap perbedaan melainkan mengedepankan sikap toleran, lantaran kacamata kemanusiaan memungkinkan Gus Dur melihat manusia liyan sebagai manusia seutuhnya yang masing-masing tercipta berbeda.

"Kalau orang yang masih menggunakan kacamata golongan, apalagi politik, yang dilihat ini PKB, itu PDIP, jadinya tidak kelihatan kalau sama-sama NU-nya," kata Gus Mus di depan Syaifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa, yang kebetulan ikut hadir dalam momen itu.

Gus Mus selalu mengingat Gus Dur sebagai orang yang kerap mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya. Sikap itu lantaran Gus Dur telah mempelajari banyak hal tentang kehidupan, baik dari teks suci dan pengetahuan maupun dari pengalaman.

Sepanjang hayatnya, kata Gus Mus, Gus Dur merupakan seorang petualang. Baik dalam makna an sich melakukan perjalanan ke banyak tempat, maupun dalam makna suka mempelajari hal-hal baru.

"Kalau ada yang berpandangan sempit, kata anak zaman now itu kurang piknik. Gus Dur sudah piknik ke mana-mana," kelakar Gus Mus yang disambut tawa ribuan hadirin.

Baca juga: Bagaimana Gus Dur dan NU Menerima Pancasila?

Menjadi Sosok Pemersatu

Sosok Gus Dur yang mencintai kemanusiaan dan menghargai perbedaan juga diakui mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Meski tak pernah menjadi pengawal Gus Dur saat menjabat Presiden, Gatot merasakan hikmah dari sikap dan ide pluralisme yang diusung Gus Dur.

Menurut Gatot, ide pluralisme Gus Dur menjadi pemersatu bangsa Indonesia karena mampu menjembatani perbedaan di antara masyarakat Indonesia pascakonflik golongan 1998.

"Tanpa Gus Dur [saya rasa] bangsa ini sudah terpecah belah," kata Gatot dalam kesempatan yang sama.

Gatot membandingkan Indonesia saat itu dengan Suriah saat ini yang sedang bergejolak. Menurutnya, Suriah sebagai negara yang lebih kecil terpecah karena tidak bisa menjembatani perbedaan di antara masyarakatnya. Gatot juga membandingkan Indonesia dengan Yugoslavia dan Uni Soviet. Menurutnya, kedua negara itu pecah menjadi negara-negara baru karena perkara perbedaan agama, ekonomi dan bahasa.

"Salah satu pengabdian terbaik Gus Dur adalah membawa kemajuan Islam di Indonesia sebagai Ketua Umum PBNU yang menyebarkan Islam damai, sejuk dan toleran," kata Gatot.

Baca juga:
Meneladani Gus Dur yang Objektif dan Memihak Rakyat Keci

Gus Dur Romantis

Selain dikenal sosok humanis dalam soal politik, Gus Dur ternyata sosok yang romantis dalam urusan percintaan. Musytasyar atau jajaran dewan penasihat PBNU, KH Sanusi Baco punya cerita unik yang tak lekang diingatnya. Gus Dur seorang yang romantis terhadap pasangannya.

Menurut Kiai Sanusi, dia dan Gus Dur pernah sama-sama menimba ilmu di Mesir. Suatu ketika dalam perjalanan kapal dari Indonesia menuju Mesir, Sanusi tak sengaja melihat Gus Dur sedang membuka buku catatannya. Ia yang duduk bersebelahan dengan Gus Dur, dapat melihat dengan jelas sebuah foto gadis terselip di antara halaman buku catatan tersebut.

"Saya tanya, 'siapa?'," kata Kiai Sanusi.

"Wanita lah," jawab Gus Dur seperti yang ditirukan Sanusi.

"Siapa? Kan saya sudah lihat."

"Calon saya," jawab Gus Dur sembari terkekeh seperti ditirukan Sanusi.

Gadis dalam foto itu belakangan diketahui Sanusi bernama Shinta Nuriyah. Saat itu pula, kata Sanusi, Gus Dur mengaku kerap membawa foto tersebut ke mana pun pergi. Gus Dur bilang, kata Sanusi, foto Shinta itu obat rindu dan penambah semangat belajar.

"Gus Dur adalah seorang yang pernah sakit cinta, tapi tak mau sembuh sampai akhir hayatnya," kata Sanusi. Ucapan Kiai Sanusi ini sontak membuat Shinta Nuriyah tersipu di antara kerumunan hadirin.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, ia sempat drop karena penyakit jantung koroner sebelum mengembuskan napas terakhir. Bangsa Indonesia berduka kehilangan seorang sosok guru bangsa. Namun, kini, setelah sewindu ingatan tentangnya masih dan akan terus ada.

Kami rindu, Gus!

Baca juga artikel terkait HAUL GUS DUR atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Mufti Sholih
DarkLight