tirto.id - Menjelang Iduladha, penjual hewan kurban biasanya mulai bermunculan di pinggir jalan. Tenda-tenda dadakan berdiri di lahan kosong, deretan sapi dan kambing dipajang untuk menarik perhatian pembeli yang datang silih berganti. Persaingan pun makin ramai dari tahun ke tahun.
Di tengah banyaknya penjual hewan kurban itu, Mall Hewan Qurban H. Doni tampil berbeda. Di antara deretan sapi berukuran besar, beberapa perempuan dengan seragam pramugari tampak menyambut pembeli dan membantu menjelaskan jenis hewan kurban yang tersedia.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terasa tidak biasa. Namun bagi H. Doni, konsep tersebut seakan sudah menjadi tradisi tahunan.
“Kalau dulu koboi, sekarang pramugari,” kata salah satu staf Mall Hewan Qurban, Aqilla, saat ditemui di Mall Hewan Qurban H. Doni, Jalan Akses UI Nomor 28A, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jumat (8/5/2026).
Tradisi penggunaan kostum sebenarnya bukan hal baru di tempat tersebut. Aqilla dan rekannya, Ratu, mengatakan bahwa tema kostum selalu berganti setiap tahun. Sebelumnya, para staf pernah menggunakan kostum koboi sebelum akhirnya berganti menjadi pramugari tahun ini.
Mereka berkisah bahwa Mall Hewan Qurban tahun ini memilih seragam berkonsep pramugari karena mengikuti tren dan karakter pembeli yang datang belakangan ini, terutama pembeli dari kawasan Timur Tengah.
“Pak Haji ngambil dari tren Timur Tengah,” ujar Ratu, salah satu staf lain.
Meski kerap disebut SPG oleh pengunjung maupun warganet, H. Doni mengatakan para staf tersebut sebenarnya merupakan staf internal dari unit usaha lain miliknya yang diperbantukan selama musim kurban.
“Sebetulnya mereka bukan SPG, mereka staf-staf kantor kami yang membantu karena di sini selalu ramai,” kata H. Doni saat ditemui Tirto di kantornya, di Mall Hewan Qurban, Jumat (8/5/2026).
Dari Showroom Mobil Jadi Mall Hewan Qurban
H. Doni bercerita tradisi seragam tematik itu bermula pada 2004, ketika tempat penjualan hewan kurban miliknya mulai dipadati pembeli. Saat itu, H. Doni bahkan harus mengambil pegawai dari berbagai unit usahanya untuk membantu pelayanan karena jumlah tenaga kerja tidak mencukupi.
Pada masa itu, Mall Qurban H. Doni baru memiliki satu outlet dan mampu menjual hingga sekitar 6.000 ekor sapi dalam satu musim kurban. Banyaknya jenis sapi yang dijual membuat staf harus membantu menjelaskan perbedaan tiap hewan kepada pembeli.
“Varian sapi kami banyak. Ada yang dari NTT, Bali, Jawa, sampai impor Australia,” ujar H. Doni.
Tempat penjualan hewan kurban tersebut juga memiliki cerita yang tidak biasa. Gedung yang kini dipenuhi sapi awalnya merupakan showroom mobil yang dibangun pada 2003 dan selesai setahun kemudian. Namun saat musim kurban tiba, pelanggan justru meminta agar showroom tersebut dipakai untuk tempat penjualan sapi karena lokasi kandang sebelumnya dianggap terlalu jauh.
“Customer bilang, ‘Bisa enggak showroom ini diisi sapi?’ Awalnya saya bilang, ‘Waduh ini kan buat mobil,’” kata H. Doni sambil tertawa.
Dia menyebut permintaan ini berasal dari keluhan pelanggan atas peternakannya yang berada jauh di Yogyakarta. Permintaan pelanggan yang terus berdatangan membuat showroom mobil itu akhirnya dialihfungsikan menjadi pusat penjualan hewan kurban hingga sekarang.
“Peternakan kami pada saat itu ada di Yogya. Tapi, karena pembangunan jalan dan kemacetan, waktu tempuh dari Jakarta ke sana bisa 3 jam lebih. Mereka (pembeli) mengeluh waktu, akhirnya kami fokuskan pelayanannya di sini.” jelasnya.
Selain mengandalkan variasi sapi, H. Doni juga mencoba memberikan pelayanan yang berbeda dibanding tempat penjualan hewan kurban pada umumnya. Menurutnya, pembeli yang datang tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Eropa dan Timur Tengah.
Berdasarkan data miliknya, sekitar 35 persen pembeli berasal dari luar negeri, mulai dari Qatar, Dubai, Arab Saudi, hingga beberapa negara Eropa.
Karena itu, sistem pelayanan juga dibuat lebih modern. Pembeli dapat melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit, transfer bank, hingga mata uang asing.
“Kami juga ada QC dan animal record-nya,” ujar H. Doni.
Dia mengatakan kostum para staf bukan semata untuk menarik perhatian pengunjung, melainkan bagian dari penyesuaian pelayanan terhadap pembeli internasional yang datang setiap tahun.
Mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa asing juga ikut dilibatkan untuk membantu menjelaskan proses pembelian kepada pelanggan dari luar negeri.
Di sisi lain, para staf mengaku pergantian kostum tahunan membuat suasana musim kurban terasa berbeda setiap tahun. Meski hanya berlangsung sementara, tradisi tersebut perlahan menjadi identitas yang melekat pada Mall Hewan Qurban H. Doni.
“Katanya unik,” ujar Aqilla. “Bagus sih ada perubahan dari bertahun-tahun.”
Kini, ketika banyak penjual hewan kurban bermunculan dengan cara masing-masing untuk menarik pembeli, Mall Qurban H. Doni tetap mempertahankan ciri khasnya sendiri. Dari kostum koboi hingga pramugari, tradisi itu terus hadir di tengah ramainya musim kurban setiap tahun.
Penulis: Intern tirto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































