Menuju konten utama

LPEM UI: 51.000 Sarjana dan Magister Putus Asa Mencari Kerja

Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak lagi mencari kerja karena putus asa meningkat sekitar 11 persen dalam setahun.

LPEM UI: 51.000 Sarjana dan Magister Putus Asa Mencari Kerja
Pencari kerja membawa dokumen lamaran pekerjaan mengantre untuk mengikuti job fair Solo Career Expo di Balai Kota, Solo, Jawa Tengah, Rabu (23/7/2025). ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nz.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI mengungkap sebanyak sekitar 51.000 lulusan S1 dan S2 masuk kategori putus asa atau discouraged workers dan berhenti mencari pekerjaan. Fenomena ini menunjukkan keputusasaan bukan hanya dialami kelompok berpendidikan rendah tapi juga pendidikan tinggi.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusasaan bukan monopoli kelompok berpendidikan rendah, melainkan dapat timbul ketika janji mobilitas naik dari pendidikan tinggi tidak terwujud," tulis Peneliti LPEM FEB UI, Muhammad Hanri, dalam laporannya, dikutip Jumat (5/12/2025).

Lulusan strata satu (S1) menyumbang sekitar 45.000 orang dan lulusan pascasarjana (S2) lebih dari 6.000 orang dalam kategori ini. LPEM FEB UI mengidentifikasi sejumlah hambatan yang dihadapi kelompok terdidik ini, seperti harapan upah yang tidak terpenuhi, ketidaksesuaian (mismatch) antara bidang studi dengan peluang kerja, serta persepsi diskriminasi usia bagi lulusan yang mulai mencari kerja di usia lebih matang.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak lagi mencari kerja karena putus asa meningkat sekitar 11 persen dalam setahun, dari 1,68 juta orang pada Februari 2024 menjadi sekitar 1,87 juta orang pada Februari 2025.

Peningkatan ini menandakan tekanan struktural di pasar kerja yang tidak tercermin dalam angka pengangguran terbuka.

Analisis menunjukkan, lebih dari separuh kelompok putus asa berasal dari lulusan SD atau tidak tamat SD. Adapun, lulusan SMP mengisi porsi 20 persen dan SMA 17 persen.

"Mereka yang berpendidikan menengah pun masih kesulitan memenuhi tuntutan pasar kerja yang mengutamakan literasi digital dasar, kemampuan komunikasi, dan pengalaman kerja yang relevan," tulis laporan tersebut.

Lulusan SMK yang menyumbang 8 persen juga mengindikasikan masalah yang sama. "SMK secara teoritis dirancang untuk melahirkan tenaga kerja siap masuk industri, tetapi angka ini mengisyaratkan adanya kesenjangan antara kurikulum vokasional dan kebutuhan nyata tempat kerja," ungkapnya.

Laporan itu juga memetakan perbedaan hambatan berdasarkan gender dan lokasi. Laki-laki lebih banyak mengalami keputusasaan akibat tekanan norma pencari nafkah dan perubahan struktur industri.

Sementara perempuan lebih menghadapi hambatan institusional seperti beban pengasuhan dan bias dalam seleksi.

Dari sisi geografis, wilayah urban menghadapi persaingan dan ketidakcocokan keterampilan. Sedangkan wilayah perdesaan lebih terkendala minimnya peluang kerja formal dan akses pelatihan.

"Gambaran ini menunjukkan bahwa discouragement merupakan pantulan kegagalan ekosistem tenaga kerja dalam menyediakan jalur transisi yang jelas, keterampilan yang relevan, dan peluang kerja yang dapat diakses secara merata," tulis laporan yang sama.

Baca juga artikel terkait PENGANGGURAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana