tirto.id - Lirik lagu Dendang Sahur "Siti Fatimah Ya Allah" dan "Sebelas Bintang Matahari" viral di TikTok. Lagu-lagu tersebut juga digunakan untuk membangunkan umat Islam agar bisa sahur pada bulan Ramadhan. Kedua lagu dengan irama rancak ini ini mengandung nilai keagamaan dan pesan moral.
Beberapa versi dari lagu "Siti Fatimah Ya Allah" telah dirilis oleh berbagai artis, termasuk Daeren Okta yang berkolaborasi dengan RapX, serta Salsha Chan yang membawakan versi live. Versi Daeren Okta dan RapX tersedia di platform musik seperti Spotify.
Popularitas lagu ini meningkat karena sering digunakan dalam konten-konten sahur keliling dan sebagai alarm sahur selama bulan Ramadhan, sehingga menambah semarak suasana sahur di berbagai daerah.
Sementara itu lagu "Sebelas Bintang Matahari" sebenarnya berasal dari lagu "Balada Nabi Yusuf" yang dibawakan BIMBO. Lagu ini dibuat oleh Sam Bimbo/Taufiq Ismail. Hanya saja, lirik "Sebelas Bintang Matahari" mengambil bagian depan lagu tersebut, juga di bagian reffrain.
Lirik Lagu "Dendang Sahur Siti Fatimah Ya Allah" Viral di TikTok
Shollu ‘ala muhammad
Siti siti fatimah ya allah
Zam zam di baitullah
Siti siti fatimah ya allah binti ya Rasulullah
Siti siti fatimah ya allah
Zam zam di baitullah
Siti siti fatimah ya allah binti ya Rasulullah
Dari tadi katong menyanyi ya allah
Katong menyanyikan bangun sahur
Dari tadi katong menyanyi ya allah
Cukup sekian dan terima kasih
Dari tadi katong menyanyi ya allah
Cukup sekian dan terima kasih
Selamat berpisah para para saudara
Sampai bertemu di lain waktu dan masa
Kami lorong arab mengucapkan salam
Salam hadis untuk Anda
Selamat berpisah para para saudara
Sampai bertemu di lain waktu dan masa
Kami lorong arab mengucapkan salam
Salam hadis untuk anda
Bila terdengar kata yang salah
Di dalam syair lagu Kami mohon
Mohon maaf Lahir dan batiiiin
Bila terdengar kata yang salah
Di dalam syair lagu Kami mohon
Mohon maaf Lahir dan batin
Lirik Lagu "Sebelas Bintang Matahari" yang Viral di TikTok
Sebelas bintang matahari
Dan rembulan malam bersujud kepadamu
Nabi Yusuf tiada mendendam
Walau dia disakiti
Yusuf… Yusuf… Alaihi Salam
Yusuf… Yusuf… Alaihi Salam
Ya… bangun makan sahur
Sudah pukul 3
Ayo bangun sahur
Badilu illi illi badilu
Rabbikalla Badilu
Ya Muhammad
Tala alli alli rabbika alli
Alli alli badala
Makna Lagu Dendang Sahur "Siti Fatimah" & "Sebelas Bintang Matahari"
Lagu Dendang Sahur Siti Fatimah memiliki makna religius yang dalam, terutama dalam konteks membangunkan sahur selama bulan Ramadhan. Sebutan "Siti Fatimah Ya Allah" merujuk pada Fatimah binti Rasulullah, yang merupakan salah satu wanita paling mulia dalam Islam. Penyebutan air Zamzam dan Baitullah juga mengandung unsur spiritual, mengingatkan umat Muslim akan kesucian ibadah haji dan keberkahan dari air Zamzam. Lagu ini membawa pesan untuk menjaga ibadah dan meneladani akhlak mulia keluarga Rasulullah.
Selain itu, lagu ini juga mencerminkan budaya gotong royong dan kebersamaan dalam komunitas Muslim. Liriknya yang menyebut "Katong menyanyi bangun sahur" menunjukkan semangat persaudaraan dalam membangunkan sesama untuk menjalankan ibadah puasa. Ungkapan perpisahan dalam lagu ini juga mengandung pesan sosial, yaitu mengingatkan bahwa setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan, tetapi tetap ada harapan untuk bertemu kembali dalam kebaikan.
Di akhir lagu, terdapat permohonan maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dalam syairnya. Hal ini mencerminkan nilai kesantunan dan rendah hati dalam budaya Muslim, terutama menjelang hari kemenangan Idul Fitri, di mana umat Islam saling memaafkan. Dengan demikian, lagu ini bukan hanya sekadar pengingat waktu sahur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai Islam seperti persaudaraan, akhlak yang baik, serta pentingnya saling memaafkan.
Sementara itu lagu "Sebelas Bintang Matahari" mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf. Ia demikian dicintai oleh sang ayah, Yakub. Hal ini membuat kakak-kakak Nabi Yusuf cemburu. Mereka lantas menjerumuskan Yusuf ke dalam sumur kering. Dari sanalah Yusuf kemudian dibawa ke Mesir dan menjadi bendahara Fir'aun.
Saat 10 kakak Yusuf pulang, mereka membawa robekan baju sang adik yang dilumuri darah. Mereka bercerita kepada Yakub bahwa Yusuf dimakan kawanan serigala. Yakub sedih mendengar hal itu. Air matanya yang terus mengalir membuatnya buta.
Bertahun lamanya, Yakub menanti kabar apakah Yusuf masih hidup. Setelah serangkaian peristiwa, akhirnya Yakub bisa sampai ke Mesir. Bersama sang istri dan kakak-kakak Yusuf, ia melakukan sujud penghormatan kepada Yusuf. Inilah yang dahulu pernah dimimpikan Yusuf.
Dalam Surah Yusuf ayat 4 Allah berfirman sebagai berikut.
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ
Iż qāla yūsufu li'abīhi yā abati innī ra'aitu aḥada ‘asyara kaukabaw wasy-syamsa wal-qamara ra'aituhum lī sājidīn(a).
(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku.”
Sementara itu, daalam Surah Yusuf ayat 100 Allah berfirman sebagai berikut.
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖقَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
Wa rafa‘a abawaihi ‘alal-‘arsyi wa kharrū lahū sujjadā(n), wa qāla yā abati hāżā ta'wīlu ru'yāya min qabl(u), qad ja‘alahā rabbī ḥaqqā(n), wa qad aḥsana bī iż akhrajanī minas-sijni wa jā'a bikum minal-badwi mim ba‘di an nazagasy-syaiṭānu bainī wa baina ikhwatī, inna rabbī laṭīful limā yasyā'(u), innahū huwal-‘alīmul-ḥakīm(u).
Dia (Yusuf) menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sungguh, Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Penulis: Astam Mulyana
Editor: Fitra Firdaus