Menuju konten utama

Lima Perusahaan Cina Lolos Jadi Peserta Tender WTE Danantara

Total ada 24 perusahaan yang berhasil lolos seleksi dan berhak mengikuti tender proyek Waste to Energy (WtE) yang dikelola Danantara.

Lima Perusahaan Cina Lolos Jadi Peserta Tender WTE Danantara
Kantor Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Jl.RP. Soeroso, Menteng, Jakarta. ANTARA/Muhammad Heriyanto/am.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebanyak 24 perusahaan internasional dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti tender proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dikelola Danantara Indonesia.

Dari 24 perusahaan yang lolos, lima di antaranya merupakan perusahaan asal Cina dengan rekam jejak global di bidang teknologi insinerasi dan pengelolaan limbah.

Lead of WTE Danantara Indonesia, Fadli Rahman, mengatakan pihaknya mewajibkan setiap peserta tender membentuk konsorsium dengan harapan adanya transfer teknologi ke perusahaan lokal.

“Perusahaan-perusahaan yang mengikuti tender WtE kami wajibkan untuk membentuk konsorsium. Adanya konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemda,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (12/2/2026).

Tahap pertama proyek ini difokuskan di empat kota yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Keempat daerah dinilai paling siap secara administratif dan memiliki volume sampah yang mendesak untuk ditangani. Pengumuman pemenang tender ditargetkan pada akhir Februari 2026.

Fadli menegaskan proyek ini bukan sekadar pekerjaan teknologi, melainkan bagian dari kebijakan publik lintas sektor. “Kami juga ingin memastikan terjadinya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” imbuhnya.

Berikut lima perusahaan Cina yang masuk daftar peserta tender:

1. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd.

Spesialis WtE yang menjadikan pengolahan sampah sebagai inti bisnis.Pemegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH Jerman yang telah dilokalisasi. Teknologinya digunakan di lebih dari 250 proyek global dengan kapasitas total 220.000 ton sampah per hari. Sanfeng juga aktif sebagai investor dan operator lewat skema BOT (build, operate, dan transfer) dan PPP (Public Private Partnership).

2. Wangneng Environment Co., Ltd.

Berkantor pusat di Huzhou, Zhejiang, perusahaan ini mengelola limbah dapur, air limbah, lumpur, hingga daur ulang karet. Dalam bidang WtE, mereka mengklaim menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih per tahun. Wangneng berencana membentuk konsorsium dengan BUMN, BUMD, atau swasta nasional untuk implementasi proyek di Indonesia.

3. Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd.

Bukan nama asing di Indonesia. Sebelumnya telah meneken kontrak penyediaan peralatan insenerator dengan perusahaan nasional. Pada 2023, total listrik yang dihasilkan dari operasi WtE mereka mencapai 3,85 miliar kWh. Pernah menawarkan investasi 225 juta dolar AS untuk proyek WtE di Bali dan menjajaki kerja sama di Jawa Barat.

4. SUS Indonesia Holding Limited

Meski bernama Indonesia, perusahaan ini merupakan bagian dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd. Fokus pada investasi jangka panjang WtE. Telah membangun fasilitas WtE di Makassar dengan kapasitas 1.300 ton sampah per hari dan output listrik 35 MW.

5. PT Jinjiang Environment Indonesia

Anak usaha Zheneng Jinjiang Environment Holding Co.,Ltd., raksasa WtE Cina sejak 1998. Saat ini mengembangkan PLTSa Palembang berkapasitas 1.000 ton sampah per hari dengan investasi awal 120 juta dolar AS atau Rp1,8 triliun. Kontrak konsesi berlaku 30 tahun dengan skema BOO. Induk usahanya mengelola 27 fasilitas WtE di Cina dan sejumlah fasilitas pengolahan limbah organik

Baca juga artikel terkait GREEN ENERGY atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher