Lebaran Terakhir Uskup Belo & Tokoh Islam Timor Timur di Indonesia

Infografik Islam dan Katolik di Timor Leste
Dalam file foto 25 Desember 1998 ini, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Uskup Carlos Belo, tiba di Misa Natal di kediamannya diapit oleh orang Timor-Leste dengan pakaian tradisional di Dili, Timor Leste. AP Photo/Charles Dharapak
Oleh: Husein Abdulsalam - 7 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Silaturahmi Idulfitri 1419 H sejumlah tokoh agama Timor di Dili terjadi di tengah suasana genting, saat Timor Timur tengah bergejolak, berusaha membebaskan diri dari Indonesia.
tirto.id - "Boafesta, boafesta."

Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo mengucapkan kata yang berarti "Selamat, selamat" itu sembari tersenyum kepada para tokoh Islam di Timor saat menghadiri silaturahmi Idulfitri dua puluh tahun lalu. Pada tahun itu, Timor Leste masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia yang bernama Timor Timur (Timtim).

Hari Raya Idulfitri saat itu jatuh pada Selasa (19/1/1999). Sebagaimana diberitakan Kompas (21/1/1999), sekitar 20 tokoh agama bertemu di ruang tamu Hassan Balafif, Imam Masjid An-Nur. Kediaman Hassan terletak di Kampung Alor, Dili bagian barat, tempat banyak orang Islam bermukim.

Uskup Belo menyatakan dia dan umat Katolik di Timor gembira betul menyambut Idulfitri tahun itu. Selain berujar telah mendoakan umat Islam saat misa pagi, penerima Nobel Perdamaian tahun 1996 itu juga menyatakan siap membela umat Islam.

"Kalau ada orang yang mengganggu umat Islam di Kampung Alor termasuk berupaya membakar Masjid An'nur, saya akan segera datang membela," kata Belo.

Silaturahmi ini memang berlangsung saat situasi genting. Tujuh bulan sebelumnya, Soeharto, presiden kedua Indonesia sekaligus dalang invasi Indonesia ke Timor Leste, lengser. Selepas itu, demonstrasi serta seruan internasional yang menuntut diadakannya referendum penentuan nasib sendiri untuk Timor Timur terjadi lebih intens.

Tak ternyana, momen silaturahmi itu menjadi momen Lebaran terakhir para tokoh agama tersebut di Indonesia.


Pada Juli 1998, Habibie, presiden pengganti Soeharto, menyatakan Timtim akan diberi otonomi yang sebenar-benarnya dengan syarat tetap mengakui kedaulatan Indonesia. Pada akhir Januari 1999, sidang Kabinet Habibie memutuskan untuk menyelenggarakan referendum di Timor Timur.

Keputusan ini diperkuat Perjanjian New York empat bulan kemudian. Rakyat Timor Timur diberi dua opsi: Menerima tawaran otonomi luas atau menolaknya. Menolak otonomi sama dengan merdeka dari Indonesia.

Referendum berlangsung pada 30 Agustus 1999. PBB mengumumkan hasilnya pada 4 September 1999: Sebanyak 78,5 persen rakyat memilih merdeka dari Indonesia.

Saat Idulfitri berikutnya, provinsi Timor Timur telah merdeka, beralih menjadi negara Timor Leste.

Hikayat Hadramaut di Dili


Selain Uskup Belo dan Hassan, sejumlah tokoh seperti walikota Dili Mateus Maia, ketua MUI Timtim Abdullah Sagran, ketua Yayasan Kesejahteraan Islam Nasrullah (Yakin) Salim Sagran, dan ketua panitia Hari Besar Islam Abdullah Balafif turut hadir dalam silaturahmi tersebut.

Balafif dan Sagran merupakan dua dari beberapa keluarga keturunan fam Hadramaut, wilayah selatan Jazirah Arab, yang tinggal di Timor Leste.

Ambarak A. Bazher mencatat dalam Islam di Timor Timur (1995) bahwa keturunan Arab di Dili yang ia rujuk berbeda pendapat mengenai kapan Islam masuk ke daerah Timor Leste sekarang. Sebagian mengatakan Islam masuk Dili bersamaan dengan Islam masuk ke Kepulauan Nusantara.

Ada pula yang mengatakan Islam tiba bersamaan dengan masuknya pedagang-pedagang Eropa di Dili. Beberapa menyatakan Islam masuk Timor Leste sejak Islam berkembang di Jazirah Arab.

Penelusuran Bazher menunjukkan pedagang Arab Hadramaut yang pertama menetap di Dili ialah Habib Umar Muhdlar dan saudara kandungnya. Mereka bermukim di Dili pada awal abad ke-17. Sekitar 25 tahun kemudian, keluarga lain mulai berdatangan. Mereka terdiri atas 26 fam. Lima di antaranya - Alkatiri, Albazher, Basyarewan, Balafif, dan Sargan - eksis hingga sekarang di Timor Leste.


Mengutip The History of Timor yang disusun Lisbon Technical University, Melissa Johnston dari Murdoch University menyebutkan orang-orang Hadramaut mendirikan pemukiman di Kampung Alor, Dili bagian barat, sejak abad ke-19. Hingga 1970-an, orang Hadramaut di Kampung Alor bertani padi dan menangkap ikan. Di daerah ini pula, Masjid An-Nur berdiri.

Pada abad ke-19, Belanda dan Portugis resmi berbagi kekuasaan atas pulau Timor. Wilayah barat yang berpusat di Kupang dikuasai Belanda. Sedangkan Portugis menguasai wilayah Timor bagian timur yang berpusat di Dili. Timor Portugis rontok pada 1974. Pada 1975-1999, wilayah ini berada di bawah pendudukan Indonesia.

Semasa Timor Portugis, beberapa orang Hadramaut menjadi Chefe de Posto, jabatan terhormat dalam pemerintahan kolonial. Selama Perang Dunia II, komunitas Hadramaut di Kampung Alor juga dijadikan liurai (raja) - posisi yang sebelumnya dipegang orang Timor - dan bekerja sama dengan pasukan pendudukan Jepang

"Setelah revolusi militer menggulingkan penerus Salazar, Caetano, di Portugal pada tahun 1974 dan gerakan menuju pemerdekaan Timor, beberapa orang dalam komunitas Arab di Dili mendukung Apodeti dan integrasi dengan Indonesia. Yang lain mendukung gerakan kemerdekaan. Salah satunya adalah Mari Alkatiri," sebut Johnston.





An-Nur Setelah Referendum

Sejarah mencatat, menjelang dan selepas referendum, Timtim rusuh. Milisi bersenjata pro-otonomi menyerang dan membunuh penduduk. Penduduk Timtim yang ingin tetap menjadi warga Indonesia mengungsi ke Nusa Tenggara Timur, provinsi yang berbatasan langsung dengan Timtim.

Laporan Gatra (47/XIV) menyebutkan semua masjid dan musala dibakar saat kerusuhan terjadi. Beruntung, Masjid An-Nur selamat. Namun, Gatra (5/XI) juga melansir, anggota Dewan Dakwah yang menghuni An-Nur mengungsi ke Atambua, Ambon, Kupang, atau Surabaya. Selepas itu, komunitas Muslim lain mengungsi di An-Nur.

Kompas (22/10/2001) menyebutkan sebanyak 60 kepala keluarga (KK) atau 265 jiwa Muslim mengungsi di Masjid itu. Mereka membangun tenda sekenanya dalam lingkungan masjid yang luasnya mencapai 5.200 meter persegi tersebut.

"Komunitas Islam ini hanya mengungsi dari rumah kediaman masing-masing di Dili dan sekitarnya ke kompleks Masjid Annur. Pengungsian itu masih berlangsung hingga sekarang. Jalan keluarnya masih ditunggu," ujar Arham Appe, penganut terekat Mufarridiyah, yang mengungsi di An-Nur saat itu.

Arham menuturkan kelompoknya merasa aman di An-Nur. Tidak ada warganya yang diteror, diancam, atau ditakut-takuti. Menurutnya, situasi itu ada sebab sikap Uskup Belo, Xanana Gusmao, dan Ramos Horta yang tidak lelah mengimbau warga Timor supaya memperlakukan masyarakat Islam di sana sebagai sesama saudaranya.

Hampir lima tahun lamanya kelompok Arham tinggal di An-Nur. Mereka berdagang, membuka warung, bertani kopi, dan mendirikan lembaga pendidikan. Namun pada 2004, pemerintah Timor Leste yang dipimpin Perdana Menteri Mari Alkatiri mendeportasi mereka ke Indonesia.


Baca juga artikel terkait TIMOR LESTE atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight