tirto.id - Lagu Indonesia Raya 3 stanza bisa menjadi lantunan pilihan dalam peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia maupun kegiatan resmi nasional lainnya. Lantas, bagaimana lirik Indonesia Raya 3 stanza yang benar?
Ketentuan mengenai lagu "Indonesia Raya" termuat di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Kendati masyarakat lebih mengenal lirik 1 stanza, sebenarnya terdapat lirik Indonesia Raya 3 stanza.
Lagu Indonesia Raya 3 stanza lirik pertama kali eksis dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 atau dikenal sebagai cikal bakal Hari Sumpah Pemuda. Anthony C. Hutabarat menyatakan keterangan tersebut di dalam Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Supratman: Pencipta Lagu Indonesia Raya (2001).
Lirik Lagu Indonesia Raya 3 Stanza
Bagaimana bunyi lirik lagu Indonesia Raya 3 stanza? Berikut ini lirik lagu wajib nasional “Indonesia Raya” lengkap tiga stanza.
I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.
II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya,
Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.
S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.
Makna Lirik “Indonesia Raya” Tiga Stanza
Pencipta lagu Indonesia Raya 3 stanza adalah komposer sekaligus wartawan bernama Wage Rudolf Supratman. Masyarakat Indonesia pertama kali mendengarkan instrumental lagu tersebut dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, tepatnya kelak dikenal sebagai cikal bakal Hari Sumpah Pemuda.
Awalnya, WR Supratman adalah wartawan koran Sin Po yang bertugas untuk meliput Kongres Pemuda II, seperti ditulis oleh St. Sularto dalam “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah” di Majalah Prisma edisi 5 Mei 1983.
Keinginannya saat itu tidak hanya sekadar menulis berita, tetapi juga ingin membawakan lagu "Indonesia Raya". Atas inisiatifnya dirinya sendiri, WR Supratman menyebarkan salinan lagu itu kepada para pimpinan organisasi pemuda.
Gayung bersambut karena lagu tersebut mendapatkan sambutan hangat. Sugondo, yang waktu itu memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua, awalnya mengizinkan Supratman membawakan lagu tersebut pada jam istirahat. Akan tetapi, ketika Sugondo membaca lebih teliti lirik lagu itu, ia menjadi ragu.
Ia takut pemerintah memboikot acara kongres sehingga meminta Supratman membawakan lagu tersebut dengan instrumen biola saja. Ketika jam istirahat tiba, Supratman maju dan membawakan lagu "Indonesia Raya" versi instumental.
Semua peserta kongres tercengang dan terharu mendengar gesekan biolanya. Lagu itu kembali berkumandang untuk kedua kalinya di akhir bulan Desember 1928 saat pembubaran panitia kongres kedua.
Pada saat itu, masyarakat Indonesia menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dengan iringan paduan suara. Ketiga kalinya, lagu "Indonesia Raya" menjadi lantunan pembukaan Kongres PNI pada 18-20 Desember 1929 silam.
Sebagaimana ditulis oleh Dwi Oktarina dalam esainya “Menelisik Indonesia Raya”, lagu “Indonesia Raya” merupakan pernyataan perasaan nasional berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958.
Perasaan nasional tersebut menjadikan lagu "Indonesia Raya" memiliki banyak makna. Salah satunya menggambarkan semangat dan cita-cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam lirik demi lirik lagu.
Melansir Kemendikdamen, stanza pertama “Indonesia Raya” menggarisbawahi lirik “Marilah kita berseru, Indonesia bersatu” yang ditulis sebagai makna penyemangat.
Selain itu, kalimat tersebut juga seruan bagi Indonesia yang saat itu belum merdeka untuk bersatu meraih kemerdekaan Indonesia.
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” pada stanza pertama pada awalnya tidak ditulis demikian.
Sebelumnya, lirik tersebut tertulis “Bangunlah badannya, bangunlah jiwanya” yang kemudian diganti atas usul Ir. Soekarno mengacu pada pendapatnya “tak akan bangun raga seseorang jika jiwanya tidak terlebih dahulu bangun. Hanya seorang budak yang badannya bangkit namun jiwanya tidak”.
Pada stanza kedua, lirik yang menjadi fokus adalah “Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia”. Kalimat tersebut memendam landasan spiritual dengan selalu mendoakan Indonesia agar senantiasa menjadi negara yang bahagia.
Lirik selanjutnya berbunyi “Sadarlah budinya, sadarlah hatinya”. Kalimat itu bermakna bahwa masyarakat Indonesia senantiasa memiliki budi dan hati yang baik.
Stanza terakhir, memuat sumpah dan amanat agraria yang diselipkan di dalam lirik “Indonesia Raya”.
Lirik tersebut adalah “Marilah kita berjanji, Indonesia Abadi”, sementara amanat agraria terdapat dalam lirik “Slamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya”.
Makna agraria dalam lirik tersebut tidak terbatas dengan tanah Indonesia, melainkan seluruh hal yang terkandung dalam Indonesia. Mulai dari tanah, laut, dan luar angkasanya.
Adapun lirik dan notasi lagu “Indonesia Raya” pertama kali rilis di surat kabar Sin Po edisi 10 November 1928, selang 13 hari setelah perhelatan Kongres Pemuda II di mana lagu tersebut pertama kali dinyanyikan. Pada saat itu, pihak terkait mencetak sampai 5.000 eksemplar.
Awalnya, lagu tersebut berjudul “Indonesia” dan bukan “Indonesia Raja” atau “Indonesia Raya”. Koran Sin Po sendiri merupakan lahan W.R. Supratman bekerja sebagai jurnalis.
Pastikan juga untuk membaca beragam informasi terbaru seputar lagu kebangsaan Indonesia di sini.
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
Penyelaras: Yulaika Ramadhani & Yuda Prinada
Masuk tirto.id





































