Kontribusi Mustafa Ataturk bagi Islam & Sains yang Sering Dilupakan

Oleh: Savran Billahi - 25 Oktober 2021
Dibaca Normal 7 menit
Banyak orang Turki saat ini memandang Ataturk secara ambivalen: penggagas sekularisme, tapi juga berjasa bagi perkembangan Islam.
tirto.id - "Kami telah mencapai tujuan negara kami di banyak bidang, kami juga akan berhasil masuk 10 besar ekonomi terkuat di dunia. Saya percaya ini akan menjadi hadiah terbesar untuk Gazi Mustafa Kemal (Kamâl) Atatürk.”

Kalimat di atas adalah penggalan pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat memperingati Hari Wafat Ataturk (Atatürk Anma Töreni) pada 10 November tahun lalu di Pusat Kongres dan Kebudayaan Nasional Besetepe, Ankara. Setiap 10 November, masyarakat Turki memperingati hari meninggalnya Ataturk. Sebelum pandemi COVID-19, pada hari tersebut, Mausoleum Anitkabir, makam Ataturk di Ankara, selalu disesaki ribuan masyarakat Turki.

Pukul 09.05 pada tanggal itu, sirene juga dibunyikan di seluruh Turki dan semua warga berdiri sejenak mengheningkan cipta selama tiga menit mengenang perjuangan bapak pendiri Republik Turki.

Mereka yang sedang di dalam kereta, terjebak macet di jalanan, ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, pengurus masjid yang sedang bersih-bersih pagi, murid-murid yang sedang belajar, sampai pedagang yang menjual simit berdiri sejenak, keluar dari mobil tanpa paksaan, menghentikan seluruh aktivitas mereka dan tampak meresapi perjuangan Ataturk dalam menyelamatkan bangsanya dari cengkeraman negara-negara Barat. Orang-orang asing, ketika di ruang luar, yang kadang tampak kebingungan melihat kesibukan terhenti sejenak, turut mengikuti pengheningan cipta itu.

Bagi masyarakat Turki, layaknya Sukarno di mata orang Indonesia, Mustafa Kemal Ataturk merupakan founding father Republik Turki. Baik kalangan sekuler maupun agamis menghormatinya sebagai tokoh bangsa. Dalam retorika politik pendukung petahana Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), ada istilah mashur: "Fatih Sultan Mehmet adalah kakek kami, Mustafa Kemal Ataturk adalah bapak kami, Presiden Erdogan adalah pemimpin kami." Bagi mereka, tiga tokoh itu, di luar berbagai kontroversinya, dianggap memberikan milestone bagi perjalanan bangsa Turki.

Jika berkunjung ke Turki, foto-foto Ataturk dapat mudah ditemui di berbagai lokasi, dari barbershop, warung baklava, sekolah-sekolah, perkantoran, hingga lembaga pemerintahan. Bahkan foto Ataturk menghiasi ruang kantor Kepala Badan Urusan Agama Turki (Diyanet) Ali Erbas. Tahun lalu, Ali Erbas menjadi khatib salat Jumat kala Hagia Sophia dialihfungsikan dari museum menjadi masjid.


Ataturk nisbi belum dikenal oleh publik sampai 1915, ketika ia memenangi Pertempuran Gallipoli. Namanya baru populer ketika ia melakukan perlawanan untuk menyelamatkan bangsa Turki dari invasi Barat. Pada 1920, melalui Perjanjian Serves yang ditandatangani Sultan Usmani, wilayah Turki dibagi oleh negara-negara Barat. Kaum Turki Muda menganggap Perjanjian Serves adalah kekalahan bangsa Turki. Sejak saat itu, konsolidasi politik dilakukan Mustafa Kemal pada tahap serius ke seluruh Turki karena sultan di Istanbul dianggap tidak menunjukkan perlawanan dan cenderung menikmati posisinya.

Hingga hampir seratus tahun Republik Turki berdiri, nama Ataturk digunakan sebagai nama banyak tempat di Turki, dari bandara, museum, universitas, waduk, danau, hingga hutan lindung.

Dua Citra Ataturk

Di tengah invasi negara-negara Barat dan melemahnya Kesultanan Usmani yang mengalami dekadensi moral, perjuangan Ataturk dimaknai masyarakat Turki sebagai upaya penyelamatan bangsa. Masyarakat Turki secara umum menyepakati dan menghormatinya dalam hal ini sebagai Bapak Turki (Atatürk).

Karena itu, kelompok konservatif di Turki, termasuk Presiden Erdogan dan partainya AKP, lebih suka memakai panggilan "Gazi" Mustafa Kemal Ataturk. Gazi merupakan terminologi Turki dari bahasa Arab yang berarti orang yang berpartisipasi dalam pertempuran dan kembali dengan kemenangan. Kalangan ini lebih suka memperlihatkan foto Ataturk dengan tampilan baret dan pakaian militer tradisional Turki.

Sementara bagi kalangan sekuler dan yang lebih awam, selain perjuangannya melawan invasi Barat, Ataturk juga merupakan simbol modernisasi. Setelah ia memimpin Republik Turki, Ataturk membangun Turki modern dari reruntuhan Usmani dalam waktu relatif singkat. Sejak 1924-1938, Ataturk menjadi tokoh kontroversial dan disorot dunia dengan reformasinya. Andrew Mango, penulis biografi Ataturk, menyebutnya sebagai "salah satu negarawan terpenting pada abad ke-20".

Dalam kurun empat tahun, Majalah Time dua kali menerbitkan laporan tentang Ataturk. Pertama, pada edisi 24 Maret 1923 yang menampilkan sampul Ataturk mengenakan pakaian militer tradisional Turki. Kemudian pada 21 Februari 1927, yang menampilkan Ataturk dengan citra western oriented dengan setelan jas.

Ataturk: Simbol Spiritual Bangsa Turki

Selama lima belas tahun memimpin, ia menggalakkan reformasi budaya, politik, dan ekonomi. Kedudukan bangsa Turki diperkuat dan membuat kalangan minoritas, seperti Yahudi dan Kurdi, kesulitan mengikuti transformasi Republik Turki. Orang-orang Kurdi dianggap sebagai orang pergunungan dan ancaman keamanan.

Karena itu, resistensi keras terhadap Ataturk datang dari kalangan minoritas, bahkan tidak selesai hingga ia meninggal pada 1938. Pada 7 Februari 1951, misalnya, kelompok Tijani bersenjata, yang anggotanya banyak berasal dari suku Kurdi, menghancurkan patung-patung Ataturk. Menurut mereka, patung tersebut adalah berhala. Reformasi Ataturk dan karya-karyanya dianggap bentuk ateisme. Mereka memanfaatkan diskursus para elite Partai Demokrat dan Partai Rakyat Republik (CHP), konstitusionalis saat itu yang ingin memperluas makna sekularisme dengan cara demokratisasi dan merangkul kalangan agama.

Menurut wakil CHP Kamil Boran, terdapat 67 insiden penghancuran simbol-simbol Ataturk. Pada 1 April 1951, lima belas tindakan serupa juga kembali terulang. PM Adnan Menderes, yang memulai kepemimpinannya dengan merangkul kalangan agama dengan mengembalikan azan menggunakan bahasa Arab dan mengembangkan sekolah-sekolah Imam Hatip, mengambil inisiatif merancang rumusan undang-undang melindungi keberadaan spritual Ataturk. Meski ia berpihak pada Islam, menurutnya, "tindakan kejahatan atas nama agama itu di luar perhitungannya".

Menderes yang sejak awal berpihak pada kebebasan beragama mengatakan, "Organisasi yang melakukan penghancuran patung-patung dan simbol-simbol Ataturk tidak dapat ditempatkan dalam konteks kebebasan berpikir dan berpendapat".

Karena itu, Parlemen Turki mengesahkan RUU Kejahatan yang Dilakukan Terhadap Ataturk. Namun, Partai Demokrat, yang menganggap masyarakat Turki memang harus mengungkapkan rasa hormatnya pada Ataturk, berpendapat undang-undang itu tidak diperlukan. Menurut mereka, Ataturk harus dikritik seperti setiap orang. Sebagian wakil Partai Demokrat menganggap undang-undang tersebut inkonstitusional karena sifatnya yang personal dan membatasi kebebasan.

PM Menderes berargumen, "Kami tdak menghapus kebebasan mengkritik dengan hukum ini. Yang kami lakukan adalah menghapus kebebasan penghinaan dan teror terhadap pribadi pendahulu Turki." Dia juga menjelaskan bahwa akan melindungi para pendahulu Turki lainnya.

Menteri Pendidikan saat itu, Tevfik Ileri, mengaitkan tindakan bersenjata Tijani sebagai bagian dari pergerakan komunisme di Turki. "Kerumunan yang tidak sadar ini merupakan agen komunis. Banyak dari mereka menyalahkan makna agama dalam tindakannya," ungkap dia. Setelah disahkan pada 25 Juli 1951, tindakan kekerasan kelompok Tijani dengan cepat berhenti.

Guru Besar

Polemik mengenai Ataturk agaknya sudah selesai pada masa kemudian. Masyarakat Turki memandangnya lebih positif. Selain sebagai jenderal militer, Ataturk dikenal sebagai seorang pemikir. Sepanjang karier militernya, Ataturk menulis banyak buku dan jurnal. Beberapa karyanya antara lain, Ta’biye ve Tatbîkat Seyahati (Latihan Taktis dan Ekspedisi, 1911), Bölüğün Muharebe Tâlimi (Pengajaran Pertempuran Divisi, 1912), Ta’biye Mes’elesinin Halli ve Emirlerin Sûret-i Tahrîrine Dâir Nasâyih (Nasihat untuk Memecahkan Masalah Taktis dan Penulisan Komando, 1916), Zâbit ve Kumandan ile Hasb-ı Hâl (Percakapan Perwira dan Panglima, 1918), Nutuk (Pidato Agung, 1927), Vatandaş için Medeni Bilgiler (Ilmu untuk Masyarakat Beradab, 1930), dan Geometri (1937).

Ataturk berkeinginan membawa Turki yang saat itu mengalami stagnansi pengetahuan ke arah pencerahan (aydınlanmak). Kata-kata Ataturk mengenai keberpihakannya pada pengetahuan sebagai roh Republik Turki salah satunya adalah "Hayatta en hakiki mürşit ilimdir (mentor sejati kita dalam hidup adalah ilmu pengetahuan)". Kata-kata ini banyak terpampang di monumen kampus-kampus di Turki.

Kata-kata Ataturk lain yang cukup mashur adalah "Cumhuriyet sizden fikri hür, vicdanı hür, irfanı hür nesiller ister (Republik menuntut anda generasi dengan ide-ide bebas, hati-nurani, dan pengetahuan yang bebas)."

Secara tegas, Ataturk memosikan dirinya di bawah sains. "Jika suatu hari kata-kata saya melawan sains, maka pilihlah sains". Perjuangannya terhadap ilmu pengetahuan membuat Ataturk juga dikenal Turki sebagai Başöğretmen atau Kepala Sekolah atau Guru Besar.

Meski ada kecenderungan Presiden Erdogan melakukan deataturkisasi layaknya Soeharto terhadap Sukarno di Indonesia, seperti memecah kampus di Turki yang kental dengan Ataturk menjadi dua, ia tetap menghormati landasan keberpihakan ilmu pengetahuan yang ditetapkan Ataturk. Pada 2018, Presiden Erdogan memecah Universitas Gazi yang sebelumnya kampus umum, dispesialisasikan hanya menjadi kampus saintek dan membuka Universitas Haci Bayram untuk migrasi ilmu sosial.

Penghormatan Erdogan terhadap prinsip ilmu pengetahuan Ataturk diungkapkan pada pidatonya di peringatan Hari Kematian Ataturk ke-82. "Kami melakukan perjuangan untuk demokrasi dan pembangunan seperti yang diinginkan oleh Gazi Mustafa Kemal yang mengatakan, 'warisan spritual Turki adalah sains dan akal,'" katanya.

Infografik Mustafa Kemal Pasha di Indonesia
Infografik Mustafa Kemal Pasha di Indonesia. tirto.id/Fuad


Reformasi Islam Ataturk

Selain pemikir pada bidang pengetahuan, Ataturk juga dikenal publik Turki sebagai reformis agama. Menurut Ataturk, kelemahan dan kekuatan bangsa Turki terletak pada cara pandangnya terhadap Islam sebagai agamanya. "Jika ditelisik sejarah Islam dan Turki, dapat dilihat bahwa saat ini kita menemukan diri kita dengan ribuan catatan," ujarnya dalam pidato di Izmir 2 Februari 1923.

Dalam pandangan dunia Ataturk, Islam pada masa Usmani di masa lalu telah merosot. Pada Kongres Sejarah Turki 1923, Ataturk mengatakan, "Agama adalah hal yang perlu... tetapi para fanatik broker tidak diperbolehkan. Mereka yang mencari keuntungan finansial dari agama adalah musuh yang kita lawan," ujarnya.

Mengatasi hal ini, Ataturk berpendapat bahwa negara harus mengambil peran. Oleh sebab itu, dengan amandemen konstitusi Republik Turki, negara dianggapnya memiliki kehendak untuk mengontrol kegiatan agama. Untuk memanfaatkan agama sebagai kekuatan bangsa Turki, menurutnya, "dianggap perlu mempelajari agama secara utuh dan tepat."

Ketika Ataturk terpilih sebagai presiden pada 29 Oktober 1923, ia mengucapkan rasa syukur kepada Allah. "Dengan rahmat Allah, saya akan memenuhi tugas yang telah anda sekalian berikan kepada saya. Semoga Tuhan memberkati kita semua," ucapnya.

Sebelumnya, pada 7 Februari 1923, ia mengikuti acara maulid nabi di Masjid Balikesir Zağnos dan melaksanakan salat berjemaah untuk kemudian naik ke mimbar berpidato menjelaskan pentingnya integrasi sekolah dalam masjid.

Dalam Atatürk'ün Din Politikası ve Günümüze Yansımaları (Politik Agama Ataturk dan Refleksinya Hari Ini), sejarawan Nurhan Aydin menjelaskan, Ataturk juga terlibat pada pembacaan Al-Qur'an di masjid-masjid pada malam hari selama bulan Ramadan.

Praktik-praktik keagamaan tersebut melekat dan menjadi pengalaman pribadi Ataturk di kemudian hari pada saat melakukan reformasi, termasuk di antaranya adalah pendirian Direktorat Urusan Agama, penerjemahan Al-Qur'an, penerbitan literatur-literatur mengenai Islam, penghapusan madrasah dan menggantinya dengan Imam-Hatip, renovasi masjid-masjid, hingga pembukaan pendidikan Islam di perguruan tinggi.

Saat berupaya melakukan modernisasi dan industrialisasi, Ataturk beranggapan bahwa penghalang proses itu bukanlah agama, tetapi pemaknaan yang salah dalam mengartikan agama. Bahkan Ataturk menyebut Islam adalah agama yang paling masuk akal. "Agama kami adalah agama yang paling masuk akal dan alami. Agar agama memainkan perannya, ia harus disesuaikan dengan ilmu pengetahuan dan sains yang diperlukan. Kami tidak memiliki (sistem pemerintahan) imamat, kami semua setara dalam mempelajari kaidah-kaidah agama kami. Kita membutuhkan tempat untuk belajar agama di sekolah-sekolah," ucapnya.

Dalam hal ini, formasi agama dalam negara tergambar pada alam pikiran Ataturk: agama menjadi bagian dari perjuangan nasional Republik Turki.

Ataturk memandang bahwa problem utamanya adalah pada pada guru (hoca) dan ulama. Untuk alasan ini, sekolah khusus untuk melatih para imam dan khatip agama dibutuhkan. Dalam Undang-undang Tevhid-i Tedrisat (Penyatuan Pendidikan) pada Pasal 4 disebutkan, "Kementerian Pendidikan dirancang untuk melatih para ahli agama tinggi. Darülfiinun didirikan untuk Fakultas Teologi. Sekolah-sekolah terpisah akan didirikan untuk pelatihan pegawai negeri yang bertanggung jawab pada urusannya."

Selain pendidikan agama, Badan Urusan Agama juga melakukan upaya penerjemahan Al-Qur'an. Beberapa tafsir Al-Qur'an yang ada saat itu di Turki, Tibyan dan Mevakib, dicetak hanya dalam bahasa Arab dengan bahasa yang berat dipahami. Para ulama saat itu, seperti Jamaluddin al-Afghani berpandangan diperlukan tafsir terjemahan yang mudah dipahami masyarakat Turki. "Kita diperintahkan untuk mengajak bangsa lain masuk Islam. Bahasa apa yang akan kita gunakan untuk mengajak orang Brazil masuk Islam? Satu-satunya cara adalah menjelaskan Al-Qur'an dalam bahasa bangsa tersebut," ujar al-Afghani.

Hocazade Mehmet Ubeydullah Efendi juga mendukung upaya tersebut. "Penting bagi semua umat Islam mengetahui bahasa Arab. Tapi ini tidak mungkin menyampaikan Islam kepada mereka yang tidak berbahasa Arab," ujarnya.

Masalah penerjemahan Al-Qur'an yang lain adalah karena diterjemahkan dari bahasa Barat, sehingga ditemukan beberapa kesalahan. Pada 21 Februari 1925, anggaran penerjemahan Al-Qur'an dan hadis dipersiapkan. Badan Urusan Agama mengalokasikan 20.000 lira untuk mendukung reformasi Ataturk dalam bidang penerjemahan. Ataturk secara khusus memerintahkan proyek penerjemahan tafsir Al-Qur'an itu. Bahkan penerjemahan hadis juga dilakukan secara khusus dibagi sesuai perawi dan subjeknya.

Alhasil, pada masa Ataturk, Badan Urusan Agama memublikasikan 45.000 terjemahan tafsir Al-Qur'an, terjemahan 60.000 hadis Bukhari, dan 247.000 karya budaya religius populer. Tafsir Al-Qur'an berjudul Hak Dini Kur'an Dili dalam 9 jilid dicetak hingga 10.000 eksemplar dan didistribusikan secara gratis ke masyarakat Turki antara 1935-1939. Kajian Tecrid-i Sarih yang ditulis Babanazade Ahmed Naim pada 1928 berhasil pula diterbitkan dalam 12 volume.

Reformasi agama Ataturk yang relatif radikal adalah pembacaan doa dan ritual agama, termasuk azan, menggunakan bahasa Turki. Penggunaan azan berbahasa Turki kemudian diubah pada masa PM Menderes, namun pembacaan ceramah dan doa setelah salat hingga kini masih menggunakan bahasa Turki, bersamaan dengan bahasa Arab sebagai pembuka selawat.

Ataturk juga memiliki fokus pada perlindungan tempat-tempat keagamaan. Selama periode kepemimpinannya, banyak masjid dan tempat beribadah lainnya yang diperbaiki. Kementerian Keuangan diperintahkanya secara khusus mengeluarkan aturan tertulis untuk mengalokasikan dana demi kepentingan tersebut, seperti yang dlilakukannya terhadap Masjid Suleymaniye bernilai 11.225 lira, Masjid Sultan Selim bernilai 17.320,50 lira, masjid Laleli (17.320,50 lira), Masjid Mahmutpasa (14.183,42 lira), Masjid Huseyinaga (14.338 lira), Masjid Azapkap (10.793,96 lira), Masjid Messiahpasa (11.225 lira), Masjid Cenabi Ahmet Pasha (14.515 lira), Masjid Ulu (12.965 lira), dan lainnya.

Pandangan dunia Ataturk mengenai pentingnya masjid dapat ditelusuri pada pidatonya di pembukaan kedua periode pertama parlemen Majelis Nasional Agung Turki pada 1 Maret 1922. Ia berpidato, "Mimbar-mimbar suci masjid menyediakan makanan spiritual dan moral dengan orang-orang yang tinggi. Panggilan dari mimbar yang penuh dari ruh dan pikiran akan merevitalisasi iman dan menguatkan hati," ungkapnya.

Sejarawan Elif Ergun menjelaskan dalam refleksi historsinya bahwa reformasi agama yang dilakukan Ataturk yang kemudian dievaluasi dan dikembangkan hingga saat ini membuat Islam lebih mudah dipahami masyarakat Turki. "Saat ini, tafsir Al-Qur'an dan studi keagamaan berbahasa Turki dapat mudah ditemukan di masjid, televisi, internet, dan berbagai surat kabar. Mempertimbangkan kontribusinya dalam hal ini akan lebih membuat kita memahami kebijakan Ataturk terhadap agama apa yang harus ia lakukan saat itu menyesuaikan desakan zamannya," ungkapnya.

==========

Savran Billahi adalah mahasiswa magister Departemen Sejarah Hacettepe University Ankara, Turki. Setelah lulus S1 dari Departemen Sejarah Universitas Indonesia, ia menulis Bangkitnya Kelas Menengah Santri, Modernisasi Pesantren di Indonesia (2018).

Baca juga artikel terkait MUSTAFA KEMAL atau tulisan menarik lainnya Savran Billahi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Savran Billahi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight