9 Januari 1916

Bagaimana Turki Usmaniyah Menang di Gallipoli

Oleh: Tyson Tirta - 9 Januari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Churchill yang percaya diri rupanya punya intrik juga dengan Rusia sehingga mau mendukung upaya invasi di Gallipoli.
tirto.id - Memasuki tahun 1915, kekuatan blok sekutu berada di atas angin. Tapi kepentingan Inggris di Mesopotamia menjadi rentan sejak Turki Usmani memutuskan untuk terlibat dalam peperangan. Untuk melemahkan armada pusat kekuatan lawannya itu, sejarah Perang Dunia ke-1 mencatat babak barunya dengan peristiwa penyerangan brutal yang dilakukan gabungan armada laut Inggris dan Perancis terhadap selat Dardanelles, di semenanjung Gallipoli.

Selat Dardanelles adalah wilayah penting milik Turki Usmani. Melalui selat ini, pasukan Inggris dan Perancis yang tergabung dalam blok sekutu bermaksud melintas langsung ke Laut Hitam untuk bergabung dengan pasukan Rusia yang sudah bersiap membentuk barisan militernya. Turki memang ikut terlibat dalam peperangan sejak November 1914. Di awal 1915 Inggris, Perancis dan Rusia merasa perlu untuk menduduki wilayah Gallipoli demi mengamankan posisi militer dalam rangkaian peperangan yang semakin ketat.

Perancis yang awalnya agak ragu menyerang akhirnya dipaksa oleh Winston Churchill, pemimpin armada laut Inggris kala itu. Selain Perancis, John Fisher, pimpinan armada laut Inggris yang awalnya ikut serta dalam mengolah strategi, akhirnya juga menentang upaya invasi itu. Baginya, kekuatan Turki belum bisa diukur dan penyerangan bisa berakibat fatal dan resiko gagalnya cukup tinggi. Akhirnya pada bulan Mei, perbedaan pendapat ini membuat Lord Fisher memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya.

Tapi Churchill yang percaya diri rupanya punya intrik juga dengan Rusia sehingga mereka mau mendukung upaya invasi di Gallipoli. David Thomson dalam bukunya Europe Since Napoleon (1966:558) mencatat perjanjian rahasia antara Inggris dan Rusia untuk menyerahkan wilayah selat dan Konstantinopel dalam kekuasaan Rusia jika mereka berhasil menginvasi Gallipoli.


Pandangan Lord Fisher mulai menampakkan bukti pada bulan September. Harapan untuk memperoleh hasil yang diproyeksikan sejak awal mulai tampak mustahil. Komunikasi yang sangat terbatas dengan otoritas militer di Inggris juga menjadi tantangan tersendiri, tapi sekutu tetap melanjutkan rencananya.

Di daratan, perang dengan Jerman telah mencapai posisi deadlock. Mereka saling tunggu sambil mengisi ulang perbekalan masing-masing. Di titik ini Churchill menyampaikan idenya untuk mengeksploitasi keunggulan armada laut sekutu. Beberapa gagasan dan alternatif serangan ke Dardanelles ini pun mulai ia rancang. Lokasi ini akhirnya dipilih karena ia melihat kesempatan untuk mengancam Konstantinopel.

Kekuatan sekutu yang seharusnya dengan lebih mudah melanjutkan serangan ke wilayah Belgia memang merasa perlu untuk memantapkan dominasi mereka dengan invasi terhadap wilayah-wilayah penting lainnya seperti Turki. Proyeksi kerjasama mereka dengan Rusia diharapkan bisa memukul habis kekuatan Turki dan menghentikan keterlibatannya dalam perang.

Awalnya, pada Februari 1915, kapal-kapal perang Inggris dan Perancis sukses memborbardir Dardanelles dengan brutal dari jarak jauh dan sukses memukul mundur benteng pertahanan Turki. Rupanya, strategi mundur pasukan Turki ini memungkinkan mereka untuk merapatkan barisan dan menyerang balik. Di luar dugaan, tiga kapal perang sekutu berhasil mereka tenggelamkan dan beberapa lainnya dibuat rusak parah dan invasi lewat laut pertama ini dinyatakan gagal.

Segera setelah mendapatkan kabar kegagalan, pasukan sekutu mengubah strategi dan menyiapkan pasukan darat. Pasukan berskala besar pun mendarat di kepulauan Gallipoli. Jenderal Ian Hamilton didaulat oleh sekretaris urusan Perang Inggris Lord Kitchener untuk memimpin operasi darat. Mereka juga mendapatkan dukungan dari pasukan gabungan Australia dan New Zealand yang tergabung dalam Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC).


Sekutu merapatkan barisan dan menyusun rencana-rencana penyerangan berikutnya dari Lemnos, sebuah pulau milik Yunani. Di sisi lain, pasukan Turki juga menyiapkan strategi pertahanan yang solid. Jenderal perang Jerman, Liman von Sanders, memimpin pasukan pertahanan itu.

Pada 25 April 1915, sekutu memulai serangan darat mereka. Akan tetapi, lagi-lagi pasukan Turki yang lebih menguasai medan tempur dan punya perbekalan yang lebih baik berhasil bertahan dengan kokoh dan menyebabkan hilangnya sebagian besar kekuatan utama sekutu yang gugur dalam serangan. Lemahnya kekuatan mereka pada serangan pertama itu membuat sekutu terpaksa mundur ke dua titik: Helles di bagian Selatan kepulauan dan Gaba Tepe yang merupakan wilayah pesisir.

Setelah berhasil mempertahankan wilayah darat, pasukan Turki tidak kendor. Mereka justru menambah kekuatan pasukan militer darat. Tambahan kekuatan ini mereka dapatkan dari pasukan yang ditarik kembali dari gugus Palestina dan Caucasus. Melihat lawan yang menambah kekuatan, sekutu juga memperkuat barisannya dengan tambahan pasukan yang mendarat di pantai Suvla.

Malang bagi sekutu, pendaratan pasukan di Suvla sudah terbaca oleh Turki. Barisan pertahanan mereka sudah lebih dulu disiapkan menyambut sekutu yang awalnya ingin datang tak terlacak. Di Suvla, Turki menyiapkan jebakan yang berhasil mengurung pasukan sekutu. Ketika pasukan mereka kalah dari sisi jumlah dan amunisi, Hamilton yang didukung oleh Churchill meminta 95 ribu tambahan personel pasukan. Jumlah itu tidak bisa dipenuhi oleh Lord kitchener dan berakibat pada semakin besarnya kemungkinan untuk terpaksa menarik mundur seluruh sisa pasukan dari Gallipoli.


Infografik Mozaik Ottoman Gallipolli
Infografik Mozaik Ottoman Gallipolli. tirto.id/Sabit


Keadaan makin buruk ketika Hamilton mengukur kekuatannya jika ia terpaksa harus mundur. Baginya, menarik mundur pasukan akan mengakibatkan hilangnya 50 persen pasukan lagi. Sekutu ada di posisi yang serba salah. Keadaan ini berimbas pada pemecatan Hamilton yang dinilai gagal. Posisinya digantikan oleh Charles Monro yang merekomendasikan untuk menarik mundur seluruh 105 ribu pasukan sekutu.

Otoritas pemerintah Inggris menyetujui penarikan mundur pasukan itu dengan segala resikonya. Perlu waktu satu bulan untuk menarik mundur pasukan dari titik kumpul mereka di Suvla. Pada 9 Januari 1916, kloter terakhir pasukan sekutu angkat kaki dari Helles. Peristiwa penyerangan brutal di gallipoli ini selamanya tercatat sebagai salah satu kekalahan terbesar sekutu pada Perang Dunia I. Dari sekitar 480 ribu pasukan sekutu, 250 ribu di antaranya terluka parah dengan 48 ribu meninggal.

Ketika mendapatkan perintah memimpin pasukan darat, Jenderal Ian Hamilton telah berusia enam puluh dua tahun. Sejarawan menganggapnya sebagai salah satu aktor paling utama dalam rangkaian perang di Gallipoli. Dikenal sebagai tokoh brilian dalam dunia militer Inggris, Hamilton punya pengalaman panjang dalam peperangan. Belakangan, ia menyalahkan Lord Kitchener dalam kegagalan di Gallipoli.

Jika Hamilton boleh menunjuk siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan di Gallipoli, ia akan menunjuk Lord Kitchener. Philip Haytornthwaite menceritakan keluhan Hamilton terhadap atasannya itu.

“Aksi brutalnya dalam kampanye militer di Dardanelles merupakan kesalahan besar. Ia memberikan suplai perbekalan seadanya dan tidak menyiapkan pasukan dengan baik. Ia juga banyak menunjuk pimpinan pasukan yang salah”, kata Hawthornthwaite dalam Gallipoli 1915: Frontal Assault on Turkey (1991:12).

Selain menunjukkan pada dunia bahwa kekuatan militer pasukan sekutu tidak sanggup mendominasi, kegagalan di Gallipoli berimbas ke keadaan politik dalam negeri Inggris. Posisi politik Perdana Menteri H.H. Asquith semakin lemah dan akhirnya digantikan oleh David Lloyd George.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA I atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Windu Jusuf
DarkLight