Kontroversi Hagia Sophia dan Ambisi Erdogan Bebaskan Masjid Al Aqsa

Oleh: Zakki Amali - 14 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Erdogan berambisi memupuk citra Islam politik setelah mengubah fungsi Hagia Sophia dan sesumbar akan membebakan masjid Al-Aqsha di Palestina.
tirto.id - Pengadilan administrasi utama, Dewan Negara, Turki menganulir dekrit pemerintahan pada 1935 dan kini Hagia Sophia adalah masjid, Jumat (10/7/2020). Hari berikutnya, polisi mulai membangun penghalang di sekitar bangunan yang memicu kekhawatiran situs bersejarah tertutup selain muslim. Namun, pemerintah Turki buru-buru membantah ada pembatasan untuk non-muslim.

Bangunan kuno bersejarah di dunia akan menjadi rumah utama bagi muslim kendati seluruh kalangan tetap boleh mengunjunginya. Sebagai tanda ‘kemenangan’ Turki atas perubahan status dari museum ke masjid, akan digelar Salat Jumat pertama pada 24 Juli mendatang.

Dalam keputusannya Dewan Negara menyebut “Keputusan kabinet tahun 1934 yang mendefinisikannya sebagai museum tidak mematuhi hukum”. Beberapa jam setelah putusan pengadilan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara kepada publik setelah mengabaikan peringatan dari komunitas internasional.

“Dengan putusan pengadilan ini, dan dengan langkah-langkah yang kami ambil sejalan dengan keputusan itu, Hagia Sophia menjadi masjid lagi, setelah 86 tahun, seperti yang diinginkan Fatih, penakluk Istanbul," kata Erdogan, melansir Reuters.

Dunia menentang langkah Erdogan. Kritik bermunculan dari petinggi negara dan pemimpin agama dunia. Paus Fransiskus mengaku sangat sedih dan kecewa atas perubahan status. Dewan Gereja Dunia meminta pengembalian status museum. Yunani menilai keputusan Turki akan berimbas dalam hubungan dengan Uni Eropa. Amerika Serikat juga menyayangkan dan meminta agar Hagia Sophia tetap dapat diakses semua kalangan, mengutip Reuters.


Sejarah Perebutan Hagia Sophia

Setiap tahun, jutaan turis mengunjungi Hagia Sophia ketika masih menjadi museum. Ada sejarah panjang di balik bangunan eksotis dan megah. Selama 15 abad terakhir, Hagia Sophia diperebutkan. Agama besar dunia, Islam, Kristen dan Katolik silih berganti menggunakan bangunan bersejarah di Istanbul. Dua kekaisaran besar beririsan di Hagia Sophia antara Bizantium Kristen dengan Ottoman Muslim.

Hagia Sophia berarti Kebijaksaan Suci, dalam bahasa Turki disebut Ayasofya. Bangunan yang lestari saat ini berdiri pada 27 Desember 537 setelah proses pembangunan enam tahun sejak 23 Februari 532 di masa kekaisaran Bizantium Justinian I. Fungsi utama sebagai gereja katedral Kristen terbesar di dunia pada eranya.

Dalam perjalanannya, terjadi perubahan penguasaan akibat perang. Gereja berpindah ke tangan Ortodoks Yunani, berlaih ke Katolik Roma, dan kembali ke Ortodoks Yunani di bawah kekaisaran Bizantium.

Perubahan fungsi menjadi masjid terjadi usai 916 tahun saat Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih memimpin Kekaisaran Ottoman atau Utsmani setelah menaklukkan Bizantium. Perubahan gereja jadi masjid bermula pada 1453 hingga 1931. Ada penambahan bangunan di antaranya empat menara dan mimbar khutbah sebagai elemen penting masjid. Serta kaligrafi lafal Allah dan Muhammad.

Singkatnya, lahir negara Turki modern yang berhaluan sekuler era Mustafa Kemal Ataturk setelah Utsmani runtuh. Keputusan Ataturk menjadikan museum sejak 1935 diapresiasi dunia karena menjadikan Hagia Sophia sebagai milik bersama antara peradaban barat dan timur. Arsitektur asli Hagia Sophia terungkap setelah restorasi. Gambar Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus terungkap setelah lama tertutupi cat saat fungsinya jadi masjid. Namun setelah jadi masjid lagi dan akan digunakan untuk salat, mosaik bernuansa Kristen akan ditutup dengan bantuan teknologi.

Selama menjadi museum, berbagai kalangan mempelajari peradaban bangsa-bangsa kuno dari Hagia Sophia. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Persatuan Bangsa-Bangsa (Unesco) menetapkan Hagia Sophia sebagai situs budaya warisan dunia. Para arsitek juga menyebutnya sebagai keajaiban dunia ke-8. Unesco menyesalkan konversi dan berjanji meninjau statusnya, karena diubah tanpa melibatkan otoritas PBB.


Ambisi Politik Erdogan

Menghangatnya dinamika politik dalam negeri Turki telah mengubah Hagia Sophia jadi masjid setelah 85 tahun jadi museum.

Selama berabad-abad Hagia Sophia menjadi legitimasi politik kuat bagi pemimpin yang menguasainya. Dari masa kuno ke zaman modern, siapa yang menggunakan Hagia Sophia adalah pihak berkuasa untuk memupuk citra politik, sosial dan budaya.

Sejak lama Erdogan memimpikan Hagia Sophia menjadi masjid. Pada 2018, ia membaca penggalan ayat Alquran di sana. Disusul ulangan janjinya Maret 2019. Berlanjut pada Juni lalu, digelar festival Islam menandai penaklukan Istanbul oleh Sultan Mehmed II di Hagia Sophia dengan pembacaan Alquran surat ke-48 Al Fath yang berarti kemenangan, menurut Anadolu Agency, kantor berita Turki. Acara rupanya sinyal kuat dimulainya pembebasan Hagia Sophia.

Dalam deklarasi berbahasa Arab atas 'kemenangan' Hagia Sophia, Erdogan menyebut langkah perubahan untuk memenuhi janji Muhammad Al Fatih dan sembari sesumbar menyatakan "kebangkitan Hagia Sophia adalah tanda menuju kembalinya kebebasan masjid Al-Aqsha (Israil berupaya merebut dari Palestina)." Pesan itu berbeda dalam pidato berbahasa Inggris yang bernada damai dan bicara mengenai "warisan bersama umat manusia".
Di antara pihak yang konsisten melancarkan kritik adalah Yunani, karena bertalian dengan akar sejarah dan budaya imperium Bizantium. Balasan atas kritik dari pemerintah Yunani juga dikaitkan sentiman agama. Erdogan berkata, Yunani satu-satunya negara tanpa masjid di Eropa. Pejabat Istanbul menyebut kritik Yunani bagian dari intoleransi. Segala penolakan dan kritik atas konversi Hagia Sophia dijawab dengan pernyataan tunggal bahwa Turki punya hak konstitusi yang tak dapat dicampuri siapapun.

Kritik dari pihak mana saja ditentang dan selalu dikaitkan dengan sentimen agama bahwa pengkritik bungkam terhadap perebutan masjid Al Aqsha di Yerussalem, Palestina. Ia bahkan berjanji setelah mengubah Hagia Sophia jadi masjid target berikutnya adalah perebutan masjid Al-Aqsha.

Sikap politik Erdogan mengarusutamakan Islam dalam tataran simbol telah berjalan lebih dari satu dekade setelah memimpin Turki selama 17 tahun. Peresmian Hagia Sophia disebut sebagai puncak dari kemenangan Erdogan atas jalan politiknya, terutama penguatan Islam untuk bidang pendidikan dan lintas pemerintahan, tetapi mengesampingkan programnya sendiri memulihkan Islam dalam kehidupan publik, menurut Soner Cagaptay, director of the Turkish Research Program at the Washington Institute for Near East Policy, melansir Reuters.

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), penyokong pemerintahan Erdogan, mendukung perubahan status dengan membangkitkan sentimen nasionalis atas penaklukan Istanbul. Partai punya harapan agar pundi-pundi dukungan kembali lagi setelah jajak pendapat menunjukkan partai kehilangan pendukung secara signifikan, mengutip Deutsche Welle, situs berita ternama Jerman.

‘Pembebasan’ Hagia Sophia menandai kelahiran baru politik Islam di Turki. Kendati dianggap akan memicu islamophobia, apa yang terjadi saat ini di Turki adalah upaya melawan sistem sekuler warisan Ataturk.

Menurut sastrawan Turki pemenang Nobel Sastra, Orhan Pamuk, ada banyak warga muslim sekuler yang menolak konversi Hagia Sophia.

"Ada jutaan orang Turki sekuler seperti saya yang berteriak-teriak menentang ini tetapi suara mereka tidak didengar," kata Pamuk, melansir BBC.

Erdogan keras kepala terhadap kritikan atas Hagia Sophia dan tetap berpendirian bahwa kedaulatan Turki adalah absolut.


Baca juga artikel terkait HAGIA SOPHIA atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight