tirto.id - Bagi sebagian orang, Jember mungkin lebih dikenal sebagai daerah perkebunan, wisata alam, atau penyelenggara Jember Fashion Carnaval. Yang mungkin belum banyak orang tahu, Jember juga melahirkan talenta-talenta kreatif yang diam-diam mendunia. Dari kabupaten inilah, sekelompok anak muda mengerjakan bagian dari proses produksi anime yang ditonton penikmat animasi di berbagai negara.
Di balik layar industri anime Jepang yang dikenal memiliki standar produksi ketat, ada Charjer Studio yang berbasis di Jember, Jawa Timur. Studio ini menjadi salah satu contoh pekerjaan kreatif berbasis digital tidak selalu harus berpusat di Jakarta, kota metropolitan, atau bahkan di negara asalnya, Jepang.
Perjalanan Charjer Studio bermula jauh sebelum perusahaan tersebut berdiri secara resmi. Founder sekaligus perintisnya, Dimas Adiyanto, mengawali ketertarikannya pada animasi sejak kecil. Pada era 2000-an, dia terbiasa menonton berbagai tayangan kartun Jepang di televisi nasional setiap akhir pekan, seperti Dragon Ball, Detective Conan, hingga Doraemon.
Ketertarikan itu kemudian berkembang ketika Dimas memasuki jenjang SMP dan SMA. Dia mulai menggambar karakter-karakter anime yang ditontonnya. Lalu, saat memasuki dunia perkuliahan, muncul gagasannya untuk mengajak kawan-kawannya membangun komunitas.
Pada 2015, Dimas yang saat itu merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember, membentuk komunitas bernama Charjer alias Channel Animator Jember di lingkungan kampus. Komunitas tersebut menjadi ruang berkumpul mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap gambar, anime, dan dunia animasi.
Dari komunitas itu, visi Dimas berkembang. Baginya, berkumpul dan menggambar saja tidak cukup. Harus ada karya yang bisa dihasilkan dan memiliki nilai profesional.
Proses belajar, berlatih, dan membangun jaringan kemudian dilakukan secara bertahap hingga Charjer berkembang menjadi unit usaha bernama Charjer Studio pada 2021. Sejak saat itu, studio mulai mencari dan mengerjakan proyek dari Jepang.
"Memang impiannya waktu mendirikan Charjer itu ingin membuktikan bahwa anak daerah bisa berkarya dengan standar internasional. Kami tidak harus di kota besar. Kota mana saja sebenarnya sama, asalkan kemampuan dan skill-nya sesuai dengan standar internasional yang dibutuhkan," kata Dimas saat ditemui di kantornya, Jalan Kertanegara, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Jumat (4/9/2026).
Jember sebagai Basis
Pilihan menjadikan Jember sebagai basis studio bukan tanpa alasan. Justru lokasi tersebut menjadi bagian dari visi yang ingin dibuktikan Dimas—bahwa industri kreatif digital dapat tumbuh dari daerah.
Menurutnya, pekerjaan animasi memiliki karakter berbeda dengan pekerjaan yang bergantung pada lokasi fisik. Selama sumber daya manusia memiliki kemampuan dan perangkat yang dibutuhkan, proses produksi dapat dilakukan dari berbagai daerah.
Selain di Jember, jaringan Charjer Studio juga berkembang dengan keberadaan studio mitra di Malang dan Jakarta. Namun, Jember tetap menjadi salah satu basis penting dalam pengembangan studio tersebut.
Dalam perjalanannya, Charjer Studio berperan sebagai mitra produksi yang membantu studio animasi utama di Jepang menyelesaikan bagian tertentu dari sebuah proyek. Hak cipta dan intellectual property (IP) tetap dipegang pemilik proyek di Jepang.
Charjer Studio telah terlibat dalam sejumlah produksi anime terkenal, di antaranya Mashle: Magic and Muscles, The Dangers in My Heart, Classroom for Heroes, The Great Cleric, Kizuna no Allele musim kedua, Love Flops, hingga Yuri is My Job!.
Para animator Charjer Studio menggarap tahapan teknis yang sangat spesifik, antara lain proses second key animation, in-between animation, clean-up, hingga coloring sesuai kebutuhan produksi.

Manajer Produksi Charjer Studio, Muhammad Fatihul Amin, menjelaskan pekerjaan dari Jepang masuk melalui perantara bernama Kanrisha sebelum kemudian disalurkan kepada tim Charjer Studio.
Dalam proses produksi, pekerjaan dibagi menjadi beberapa bagian. Salah satunya adalah douga, yakni pekerjaan menggambar frame demi frame untuk memperhalus gerakan animasi.
Ada pula shiage alias pewarnaan sekaligus perapian garis gambar, serta kensa yang bertugas mengecek kualitas sebelum hasil produksi dikirim kembali ke Jepang.
"Douga ini pada intinya adalah frame per frame, menggambar keseluruhan gambar untuk menjadi satu animasi berdasarkan keyframe. Kami tinggal mengikuti standar dari Jepang, yang sudah ada gerakan dan standardisasinya," ujar Fatihul.
Proses tersebut berlangsung dengan tenggat yang ketat. Satu cut yang terdiri dari sekitar 10 hingga 50 frame umumnya harus diselesaikan dalam satu hari. Sementara itu, satu scene dapat membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Di sisi lain, produksi untuk satu episode dikerjakan secara terbagi dalam beberapa bagian dan dapat memakan waktu sekitar satu minggu.
Setelah gambar selesai, hasilnya masuk ke tahap coloring dan clean-up sebelum diperiksa kembali oleh kensa. Jika ditemukan kekurangan oleh studio utama Jepang, pekerjaan dapat dikembalikan untuk menjalani retake atau koreksi.
Kebutuhan Animator-Animator Baru
Bagi Fatihul, tantangan terbesar dalam bidang animasi ini bukan sekadar menyelesaikan proyek. Konsistensi kualitas dan ketepatan tenggat waktu (deadline) menjadi bagian penting karena standar produksi ditentukan oleh industri anime Jepang.
Charjer Studio menargetkan produksi sekitar 10.000 frame setiap bulan. Seiring meningkatnya kebutuhan produksi, jumlah tenaga kerja juga terus berkembang.
Lebih lanjut, Dimas menyebut Charjer Studio saat ini memiliki sekitar 55 karyawan. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga 100 orang pada 2027, bahkan terbuka kemungkinan mencapai 150 orang apabila kebutuhan produksi dan kapasitas memungkinkan.
Pertumbuhan tersebut sekaligus menghadirkan persoalan baru: bagaimana mendapatkan animator baru atau junior yang memiliki kemampuan sesuai standar industri.
Kebutuhan itulah yang lantas mendorong berdirinya Charjer Academy. Ia menjadi bagian dari strategi menyiapkan tenaga kerja baru. Akademi tersebut mulai berjalan sejak awal 2026 dan hingga September ini telah meluluskan sekitar 20 animator yang terbagi dalam empat angkatan (batch).
Bagian Pemasaran Charjer Studio, Fahmi Dwiki, mengatakan akademi tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengajarkan teknik menggambar, tetapi juga memperkenalkan standar kerja industri Jepang melalui simulasi pekerjaan kepada calon animator.
Menurut Fahmi, kemampuan fundamental menggambar, terutama anatomi tubuh manusia, menjadi salah satu dasar yang harus dimiliki peserta. Selain kemampuan teknis, kemauan untuk belajar dan beradaptasi juga menjadi pertimbangan penting.
"Yang paling dasar itu harus bisa gambar, gambar fundamental seperti anatomi tubuh manusia. Yang paling penting, kami juga membutuhkan kemauan dan semangat, karena output-nya di sini adalah animasi," kata Fahmi.
Kurikulum Charjer Academy, sebagai pintu awal bagi calon animator untuk bekerja di dunia animasi, disusun agar peserta dapat memahami alur kerja (pipeline) industri animasi Jepang secara bertahap. Pelatihan dasar berlangsung sekitar 30 hari, mulai dari fundamental gambar hingga pengenalan proses produksi yang digunakan di studio.
Bagi Fahmi, keberadaan akademi juga menjadi upaya untuk mengubah kemampuan menggambar—yang sebelumnya mungkin hanya menjadi hobi atau pekerjaan freelance—menjadi keterampilan yang memiliki peluang ekonomi lebih jelas.
“Dari calon animator ini, jika ingin bekerja di dunia anime, kami di Charjer Studio membuka kesempatan itu. Sebelum bekerja di sini, mereka dibimbing dulu di awal lewat pendidikan dan pelatihan. Setelah itu, baru bekerja. Jadi, mereka tahu nantinya mau bekerja sebagai apa di dunia animasi ini," ungkapnya.
Salah satu yang merasakan proses tersebut adalah Muhammad Ari Dwi Kurniawan. Lulusan Charjer Academy ini kini bekerja di Charjer Studio.
Ari mengaku sudah tiga kali mencoba mendaftar. Pada percobaan ketiga, dia akhirnya diterima.
Sebelumnya, Ari sudah memiliki kemampuan menggambar—termasuk menggambar karakter anime, tetapi belum pernah terjun langsung ke industri animasi. Dia kemudian mendapatkan pemahaman bahwa kemampuan yang selama ini digunakan untuk membuat fan art ternyata dapat dikembangkan menjadi keterampilan profesional.
"Ketika masuk di sini, kami diberi tahu bahwa gambar-gambar anime yang biasa kami buat itu kalau kami ikuti standar industri bisa menghasilkan uang. Dan kami tidak langsung disuruh mengerjakan proyek, tetapi benar-benar dibimbing dari awal tentang bagaimana standar produksi Jepang dan bagaimana proses pengerjaan anime itu dibuat," ujar Ari.
Bagi Ari, pengalaman tersebut juga memberikan perspektif berbeda tentang Jember. Dia mengaku cukup sering mendapat respons heran ketika menyebut dirinya bekerja di studio animasi yang berada di Jember.
Kesan sebagai studio yang berada jauh dari pusat industri justru menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, proses perekrutan Charjer Academy dan Charjer Studio tidak hanya menarik minat anak muda dari Jember, tetapi juga calon animator dari luar daerah.
"Kalau ditanya, 'Studio animasi di Jember?' pasti banyak yang kaget. Jadi, sangat menjadi kebanggaan tersendiri kalau kami yang tadinya underrated ternyata bisa punya studio animasi," kata Ari.

Perubahan Pola Kerja
Founder Charjer Studio, Dimas, menyebut industri animasi memiliki perpaduan antara seni dan sistem kerja profesional. Menurutnya, sekitar separuh pekerjaan animasi membutuhkan pendekatan seni, sementara separuh lainnya menuntut disiplin layaknya pekerjaan kantor.
Karena itu, lingkungan kerja Charjer Studio dibuat lebih fleksibel dan kasual. Bukan semata untuk memberikan kenyamanan, tetapi untuk menjaga ruang kreativitas para pekerja yang sebagian besar berasal dari generasi muda.
Dimas menilai generasi muda saat ini memiliki kebutuhan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya mempertimbangkan penghasilan, tetapi juga lingkungan kerja, fleksibilitas, dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi (work-life balance).
"Teman-teman muda ini memang butuh work-life balance. Makanya kalau di kantor sedang tidak ada pekerjaan, mereka bisa bermain bulu tangkis, bermain game, atau melakukan hal-hal lain supaya tidak stres. Kami melonggarkan aturan itu karena memang tujuannya untuk menyegarkan pikiran," ujarnya.
Sistem pengupahan di Charjer Studio juga berbeda dari pekerjaan formal yang mengandalkan gaji bulanan tetap. Pembayaran animator dihitung berdasarkan jumlah lembar atau frame yang dikerjakan sesuai ketentuan dan standar produksi.
Dengan sistem tersebut, pendapatan sangat dipengaruhi oleh produktivitas masing-masing animator. Dimas menyebut animator yang konsisten dan produktif memiliki peluang mendapatkan penghasilan di atas standar upah minimum daerah, meskipun nominal yang diterima tetap bergantung pada jumlah pekerjaan dan hasil produksi.
Bagi Charjer Studio, pertumbuhan bisnis bukan satu-satunya tujuan. Dimas memiliki target yang lebih panjang, yakni membangun ekosistem industri animasi di Indonesia hingga suatu saat dapat memproduksi film animasi sendiri.
Untuk mencapai tujuan itu, penambahan tenaga kerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas. Charjer Academy disiapkan sebagai salah satu pintu masuk untuk menyaring sekaligus membentuk animator baru agar mampu mengikuti standar studio dan kebutuhan industri Jepang.
Fatihul, sebagai tangan kanan Dimas, menegaskan calon animator tidak cukup hanya bermodal ketertarikan karena melihat industri anime sebagai pekerjaan yang keren. Animator, menurutnya, juga harus disiplin dan tekun.
"Kalau bisa memang suka gambar. Jangan hanya melihat, 'Wah, kerja di sini kelihatan keren.' Meskipun mulai dari nol, kalau memang suka dan mau belajar, kemampuan itu pasti akan meningkat," ujarnya.
Dari komunitas kecil di kampus pada 2015, lalu berkembang menjadi unit bisnis pada 2021, Charjer Studio kini mencoba membangun jalan yang lebih panjang dari Jember menuju industri animasi internasional.
Perjalanan itu sekaligus menunjukkan bahwa pusat industri kreatif tidak selalu harus berada di kota-kota besar. Dengan keterampilan, disiplin, teknologi, dan akses kerja sama internasional, animator dari daerah pun dapat ikut mengerjakan produksi yang ditonton oleh audiens global.
Dimas, sebagai anak muda asli Jember kelahiran Kecamatan Rambipuji, memiliki pesan sederhana bagi anak muda yang masih ragu mengejar bidang yang berbeda dari kebanyakan orang.
"Jangan malu memiliki hobi yang berbeda dari orang lain dan jangan mudah terbawa arus yang sudah ada. Kalau generasi muda percaya pada prinsip mereka dan tahu mau melangkah ke mana, jalani saja," katanya sembari diamini anak-anak muda di kantornya yang suasananya tampak lebih mirip sebuah kafe alih-alih kantor.
==========
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































